My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Minuman spesial



...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...


...----------------...


...----------------...


Di kamar, Bianca mencoba menenangkan suaminya, ia tidak ingin karena hal tersebut hubungan suami dan mommy Alina kembali renggang.


“Mas, aku tau berat banget tapi kamu jangan terlalu marah begitu pada mom, aku gak mau hubungan kamu dan mom berantakan. Aku juga gak larang kamu jadi mafia sampai kapan pun semuanya terserah kamu asalkan kurangin membunuh orang lagi!” Bianca menatap Axel yang lagi berdiri didepan jendela.


Axel terdiam beberapa saat dan berbalik menatap Bianca lalu tersenyum, “Gak aku gak marah cuman kesal aja” jawab Axel berbohong karena tidak ingin membuat istrinya terlalu banyak pikiran.


Bianca bernafas lega, “syukurlah”


“Mas, mumpung hari ini kamu gak kerja gimana kalo kita jalan-jalan” saran Bianca mengajukan keinginan nya.


Axel mengangguk, “boleh”


Mendengar jawaban Axel, Bianca tersenyum senang seperti seorang bocah dapat permen. Axel hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


🌿🌿🌿


Beberapa bulan kemudian, selama itu tidak ada masalah serius yang terjadi pada keluarga ataupun hubungan Axel dan Bianca.


Tentang Liana maupun Faisal tidak ada kabarnya sampai sekarang, Dinda juga tidak mengetahui dimana keberadaan sepupunya itu. Semenjak kehilangan ayahnya anak itu berubah kemudian menghilang entah kemana.


Perut Bianca juga semakin membuncit karena telah memasuki usia 6 bulan. Ngidamnya juga semakin aneh-aneh membuat Axel sakit kepala.


 ~~


Di ruangan keluarga terlihat Axel sedang berbincang dengan kakak iparnya tepatnya suami Angel, Yap Angel telah menikah satu bulan yang lalu dengan BRAIN WIJAYA salah satu rekan bisnis Axel.


“Jadi bagaimana adik ipar semuanya lancar kan!” tanya Brain santai tidak terlalu formal seperti dulu.


Axel hanya berdeham sambil mengangguk kepala.


“Tidak salah lagi Lo terlalu luar biasa adik ipar, gue jadi iri” puji Brain dan tatapan iri. Axel hanya menatap males.


“Itu kamu aja yang bodoh, makanya belajar dari Axel biar makin pintar kayak Axel!” Sindir Angel yang entah kapan duduk disebelah-Nya.


Brain tersenyum kecut mendengar kata sindiran pedas istrinya.


“Sayang, pedas amat sih ngomong nya aku suami kamu lho!” ucap Brain dramatis.


“Cih, bodoamat”


Bibir Brain berkedut mendengar nya, ia tak menyangka semenjak istrinya dinyatakan hamil mulut nya semakin pedas dan tak berperasaan. Yap, Angel hamil baru menginjak 15 hari.


“Maaas...!” mereka langsung dikagetkan suara teriakan bumil satunya lagi siapa lagi kalo bukan Bianca.


Axel mengernyit, “mulai lagi!” batin Axel sedikit kesal.


“Mas! Cepat kesini! Dalam hitungan ketiga gak muncul jangan harap tidur dikamar!”


Mendengar ancaman itu dengan ogah-ogahan Axel menyusul ke tempat keberadaan sang istri yang tak lain di dapur.


Sesampai disana terlihat seorang wanita cantik dengan perut membuncit sedang mengaduk-aduk sesuatu dalam gelas. Melihat itu Axel tiba-tiba saja merasakan firasat buruk.


Dengan was-wasan Axel bertanya, “ada apa sayang?”


“Bentar. Oiya...Kamu suruh Marsel kesini dulu deh” ucap Bianca datar.


Tanpa bertanya Axel menelepon Marsel.


Diruang keluarga, Brain masih duduk bersama Angel tepatnya memujuk istrinya yang marah gak jelas.


“Kamu jangan marah-marah gitu dong yank, aku kan jadi bingung. Sekarang kamu bilang deh kamu mau apa bakalan aku turutin!” ucap Brain lemah lembut berusaha membujuk istrinya.


Yang awalnya marah mulai reda, “benaran bakalan diturutin”


Brain mengangguk mantap walaupun rada-rada was-was dengan permintaan istrinya.


“Ya udah kita pulang dulu” ucap Angel dengan wajah cerah nya kemudian mencari mommy and Daddy serta Axel untuk pamitan.


“Semoga aja gak aneh-aneh!” batin Brain berharap.


 


“Ada apa bos? bukannya hari ini saya bebas liburan!” tanya Marsel tak rela, bagaimana tidak saat sedang asyik-asyikan kencan sama si doi malah di panggil secara mendadak tanpa bantahan gimana gak kesal coba.


Axel hanya diam tak berminat menjawab, saat itu juga Marsel tersadar melihat Bianca tersenyum sumringah padanya namun entah kenapa ia berfirasat buruk.


“aku yang nyuruh” sambil membawa dua gelas yang entah apa isinya dan menyerahkan pada mereka.


“Ini aku buat minuman spesial buat mas Axel dan kak Marsel. Harus diminum ya soalnya aku udah susah-susah buat lho” ucap Bianca tersenyum seperti bocah, ia sudah tak sabaran keduanya mencicipinya.


Axel dan Marsel saling lirik sambil menatap minuman aneh berwarna merah campur hijau dalam gelas tersebut ditambah lagi bau nya tak sedap sama sekali.


“Bos” Marsel berbicara lewat tatapan dengan wajah masamnya. Axel hanya menampilkan wajah datarnya walaupun dalam hatinya tak rela. Seperti mengerti tatapan Marsel, Axel mengangguk.


Melihat kedua masih belum meminumnya Bianca mulai kesal, “kenapa masih diam? cepatan diminum!” ucap Bianca datar dan judes.


Dengan wajah tak rela kedua meminum nya, “Hoek... minuman apaan nih?” Marsel langsung melotot sambil mengipasi mulutnya bagaimana tidak rasanya seperti cabe mentah dan pahit sekaligus. Berbeda dengan Axel ia masih bisa bertahan dan mencoba biasanya saja.


“Kenapa enak ya? Cepat habisin liat tuh suami aku aja biasa aja!” Marsel meringis rasanya ingin menangis mau membantah takut si bos marah tapi dia juga heran kenapa bosnya itu biasa saja, apa mungkin tenggorokan nya bermasalah. Akhirnya dengan terpaksa ia menghabiskan minuman itu dengan susah payah sambil menahan rasa mualnya. Axel tak beda jauh walaupun ekspresi nya masih datar dalam hatinya mengumpat beberapa kali.


Melihat isi kedua gelas tersebut habis, Bianca tersenyum sumringah.


“akhirnya habis juga, gimana enak kan? besok- besok aku buatin lagi deh!”


“TIDAK!” jawab ke-dua nya dengan cepat.


Bianca menatap heran, “kompak banget, ya udah aku cuci gelasnya dulu” 


Setelah kepergian Bianca, Marsel langsung berlari mencari toilet begitupun dengan Axel.


Daniel yang baru turun dari atas menatap bingung kedua lelaki dewasa terbaru.


“Mereka kenapa? Kek nahan boker gitu malah kompak lagi” gumam Daniel bingung. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar memasuki mobilnya pergi ngumpul bersama teman-temannya.


 


Di toilet selesai memuntahkan air tadi Axel cepat-cepat mengambil air putih tak jauh beda dengan Marsel.


“Bos, ini benar-benar penyiksaan!” keluh Marsel dramatis.


Axel hanya menatap datar, “sudah sana balik!” tanpa perasaan Axel mengusir Marsel.


Marsel hanya mengumpat kesal namun tetap pergi karena ingin melanjutkan cara kencan nya yang sempat tertunda.


 


Dekat kolam renang belakang, Bianca terlihat sedang tertawa bersama mertuanya Alina.


“Aduh sayang, kamu jahil banget ngerjain mereka!” Yap Bianca menceritakan pada Alina sebenarnya itu tidak benaran Ngidam-nya cuman hanya ingin menjahili mereka.


“Lucu mom, apa lagi liat muka datar mas Axel, padahal dalam hatinya aku yakin dia kesal banget!” ucap Bianca sambil menahan tawanya.


Alina hanya geleng-geleng kepala, “besok-besok kamu coba deh kasih Daddy”


Bianca hanya mengacungkan jempolnya.


“kuliah kamu gimana? Gak ada berat-berat kan”


“Gak mom, lima bulan lagi semuanya selesai”


“Syukurlah”


Kemudian mereka menghabiskan waktu berbincang bincang berdua tanpa memikirkan para laki.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


Â