
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Setelah puas menyiksa dengan cambuk, ia berganti pakai pisau kesayangan nya.
“Lemah” ejeknya saat melihat Radit telah terkulai lemah karena cambukkan tadi.
“Akh...m-mau apa l-lagi k-kau bocah Ba-bajingan!”
Axel terus menarik kuat-kuat rambutnya dan melukis dengan indah di pipi dan keningnya, tanpa mempedulikan teriakan pilu kesakitan dari Radit.
“DIAM!”
“HUFFF... akhirnya selesai, kau liat karyaku sangat bagus HAHAHA...”
Plak
Bugh
“Kenapa kau hanya diam Hm? apa kau ingin mengejekku HM!”
Bugh Bugh Bugh
Axel terus memukul dan menginjak-injak Radit karena kesal.
“Cih...tidak berguna!”
Beberapa bawahannya hanya bisa mengulum batuknya selama mendengar Bos nya.
“Ikat lagi sel” perintah nya pada Marsel yang masih setia berdiri dibelakang-Nya.
“Ingat Xel kurangilah membunuh atau apalah pokoknya yang berhubungan dengan darah, ingat istrimu sedang hamil!” Â
Axel langsung mengusap wajah dengan kasar saat mengingat perkataan sang kakek.
“Astaga gue sampai lupa” gumamnya.
“Sel balik”  Mendengar perintah balik mendadak dari Axel, Marsel hanya kebingungan tapi tetap menurut.
“Kalian tetap siksa dia seperti biasa jangan kasih ampun!” pintanya pada bawahan yang lain.
“Baik Bos”
“Hm”
Lalu Axel melanjutkan langkahnya keluar Markas namun sebelum itu ia sempatkan mengganti setelan dan celana nya karena yang tadi sudah terkena cipratan darah.
“Kita langsung kemana bos?”
“Mansion”
Marsel langsung menekan gas melaju menuju arah jalan Mansion seperti biasa.
“Sel apa perintah yang ku minta sudah kau laksanakan!”  Axel bertanya namun tatapan fokus keluar melihat kendaraan lalu lalang.
“Aman bos”
Axel mengangguk puas, “Hm, bagaimana?”
“Hais...dia masih sama bos seperti nya peringatan bos saja tidak akan dia patuhi mungkin perlu ancaman tambahan”
“Umpamanya?”
“Hm... seperti ancam jika tidak patuh tidak dikasih uang jajan selama sebulan yang kek gini pasti langsung nurut” saran Marsel yang mana langsung dapat tatapan jengkel dari Axel.
Marsel hanya garuk-garuk kepala saat melihat tatapan itu dari kaca.
“Sudah. Lanjutkan saja kerjaan mu jangan banyak bicara!” tekan Axel terkesan dingin.
“Siap Bos” hormat Marsel patuh.
“Tau gini mending gue diam dari tadi, Hmp!” umpat Marsel dalam hatinya.
**DI MANSION UTAMA**
Disana telah terjadi keributan beberapa menit yang lalu pelaku utamanya siapa lagi kalo bukan si bontot Daniel.
“Daniel !” teriak Angel heboh memanggil sang adik yang tak kunjung mendengarkan nya dari tadi.
“Bunda, mommy! Daniel gak mau di bilangin, udah habis suara Angel manggil dari tadi enggak di dengar in! Lama-lama habis suara aku” pekik Angel mengadu pada Alina dan Amanda.
“Dasar tukang ngadu, udah tua masih aja ngadu gak malu sama umur!” Daniel mencibir. Posisi nya sekarang Daniel lagi main ML bersama teman-temannya diatas karpet dengan beberapa bungkus cemilan berserakan, habis pulang sekolah bukannya langsung ganti baju tapi malah ngajak temannya Mabar.
Angel hanya menatap jengkel sang adik, susah banget dibilangin.
“Serah Lo deh tapi awas nanti Axel pulang terima aja hukuman anak nakal” selesai berkata seperti itu ia beranjak dari sana.
Daniel rada takut saat mendengar nama Abang yang satu itu disebut.
“Niel, Abang Lo itu kejam banget ya” tanya salah satu teman nya yang bernama Fandi.
“Mungkin kali!” lanjut satunya lagi bernama Arka.
“Ketinggalan berita kalian \*\*\*\*\*\*, jelas-jelas dia orang nya kejam banget gue aja sampai merinding!” ucap satunya lagi bernama Elang dengan nada menakut-nakuti kedua temannya.
Fandi dan Arka malah benaran ikut takut sambil menatap Daniel was-was.
“otak kalian bloon amat, gak segitu juga kali. Dan kalian langsung percaya ama omongan El, O ON!” Ucap Daniel sambil memutar bola mata nya males.
Elang sendiri hanya cengengesan tak jelas sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
Â
“Anjiir...Daniel \*\*\*\*\*\*! Lo curang ajyiing!” umpat Arka sambil melempar ponsel kesal.
“Hahaha...mampus lo! Siapa suruh lengah kalah kan Lo, Hoho... jangan lupa perjanjian nya!” Daniel tertawa mengejek penuh kemenangan Elang dan Fandi malah ikut-ikutan menertawakan Aria.
Prok prok prok
“Bagus, bagus!”
Hening... Ketiganya langsung terdiam apalagi Daniel karena sangat kenal sama suara tersebut.
“Pulang sekolah bukannya langsung ganti baju malah enakkan main game disini!” ucap Axel dingin. Yap dia Axel baru sampai dirumah langsung disungguhkan pemandangan tersebut.
“Ehehe...bang Axel, kapan pulang bang tumben cepat pulang biasanya pulang malam!” Daniel cengengesan tak tau harus berbuat apa lagi begitupun ke-tiga temannya.
“Kalian punya rumah tidak!” ucapnya dingin dan setajam silet pada ketiga bocah masih berpakaian seragam sekolah tersebut.
Ketiga tiba-tiba Lola mendengar pertanyaan tersebut Namun, beberapa saat kemudian mereka tersadar dan buru-buru pergi.
“*mampus gue!” Batin Daniel*.
“Masuk ke kamar!”
Dengan cepat Daniel ngacir pergi ke kamarnya di lantai atas.
“*syukurlah kagak dihukum gue!” batinnya lega*.
Para pelayan dan Angel hanya mengulum tawanya melihat reaksi Daniel.
“Bos yang sabar” ujar Marsel yang dari tadi berada di belakangnya sambil mengusap dada sendiri.
“Kau juga balik kerja” Â
Marsel kebingungan, “eh, bukannya saya sudah boleh pulang bos?” ucap Marsel canggung, berharap banget.
“Siapa bilang, kembali ke kantor”
“Tapi bos...”
“berani membantah!”
“Tidak” kemudian, Marsel berbalik keluar pergi ke perusahaan Xander Grup.
Â
“Axel, jangan terlalu kejam sama Marsel kasihan dia!” ujar Alina sambil membawa segelas teh hangat.
“Ini diminum mommy bikin teh hangat biar gak marah-marah lagi” sambil menyodorkan pada Axel yang telah duduk di sofa ruangan tamu.
“Iya mom”  lalu meneguk air teh tersebut dengan tenang.
“Bunda mana?”
“Lagi di belakang, apa pekerjaan mu ada masalah nak”
Axel menggeleng, “Tidak mom”
“Assalamualaikum, Bianca pulang!”
Alina tersenyum, “Waalaikumsalam, istri kamu tuh udah mau jadi ibu tapi masih kekanakan” Axel hanya tersenyum tipis.
“Mas kamu udah pulang” ucap Bianca dengan cepat menghampiri suaminya tak lupa juga mencium tangan Alina.
“Ya udah mom ke belakang nyusul bunda kalian dulu” Axel dan Bianca mengangguk.
“Diantar siapa, Hm” Axel bertanya sambil menarik Bianca ke pangkuannya.
“Kak Michael, katanya dia masih ada urusan makanya balik lagi” Axel hanya mengangguk sebagai balasan.
“Mas kamu gak macam-macam kan” tuduh Bianca sambil mengendus-endus badan Axel.
Axel mengernyit heran, “enggak kok ngapain kamu mengendus seperti anjing”
Bianca memicingkan matanya curiga, “bau kamu kok beda enggak kayak biasanya. Kamu pakai parfum siapa? Jangan bilang kamu pakai punya selingkuhan kamu!”
Axel terbengong, “apa sih mulutnya”
“Benarkan, masih gak ngaku kamu. Udah jujur aja aku gak bakalan marah kok, mana bau nya gak enak lagi pen muntah”
Selesai berkata itu ia langsung pergi meninggalkan Axel yang masih bengong seperti orang bodoh.
“Dia kenapa lagi sih, apa setiap ibu hamil seperti itu semua” sambil mengendus bau badannya sendiri.
“Enggak bau wangi kok”
 ~~~
“Kenapa Xel kok seperti orang bingung?” tanya Zayn yang baru pulang dari kantor nya.
“Hm, Ayah. Ah tidak cuman masalah bumil”
Zayn terkekeh pelan mendengar nya, “menghadapi bumil harus ekstra sabar nak nanti keras ngomong nya kita juga yang salah, ya begitulah suami selalu salah di mata mereka jadi kamu perbanyak sabar oke” ucapnya sambil menepuk pundak Axel pelan.
“Ya sudah Ayah cari bunda kamu, suami pulang kerja bukannya disambut malah enakkan ngerumpi” sambil mengomel-ngomel sendiri ia beranjak mencari keberadaan sang istri.
“*ternyata menyenangkan juga memiliki keluarga lengkap” gumam Axel membatin sambil menatap punggung Zayn*.
Lalu cepat-cepat pergi menyusul sang istri.
Â
**BERSAMBUNG**...
**LIKE \>\> KOMEN \>\> VOTE \>\> FAVORIT**