
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Malam harinya Axel masih melakukan lembur di kantor tanpa ada niat untuk pulang karena pekerjaan masih banyak menumpuk belum lagi beberapa berkas perusahaan nya yang lain.
“Hufff...”
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu, ia hanya mempersilahkan tanpa melihat orang nya karena terlalu fokus dengan berkasnya.
“Ini kopinya pak silakan dinikmati” ucap seorang wanita yang mengantarkan minuman tersebut.
Axel hanya berdeham, namun saat melihat wanita itu tak kunjung keluar ia langsung menoleh.
“tugas mu sudah selesai bukan, kenapa masih disini!” ucap Axel penuh penekanan dengan tatapan dinginnya.
“Baik tuan, saya permisi” sambil menunduk sopan ia berlalu keluar.
Setelah keluar dari ruangan Axel, wanita itu yang tak lain Anita buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk mengabarkan pada Liana.
“Lo siap-siap saja datang ke sini” selesai lalu cepat-cepat pergi dari sana menunggu kedatangan Liana.
Â
Di ruangan Axel, ia masih dengan tenang meminum kopi tersebut tanpa menaruh curiga sedikitpun.
“Hm...masih manisan buat Bianca!” gumamnya tersenyum sendiri mengingat tingkah istrinya beberapa hari sebelum nya.
“Sepertinya harus cepat-cepat diselesaikan” ucapnya lagi tak sabaran pulang berjumpa istrinya.
15 menit kemudian setelah beberapa kali meneguk kopi tersebut tiba-tiba saja ia merasa keanehan.
“Kenapa jadi panas begini!” bingungnya gelisah sambil membuka kancing kemeja atasnya.
“Hufff...” semakin lama semakin panas karena tak tahan ia beranjak memasuki kamar pribadinya dan melemparkan jasnya ke sembarang arah kemudian membuka semua kancing kemeja putihnya.
“Kenapa bisa begini sih?” kepalanya juga terasa pusing.
Cepat-cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi Marsel.
“Sel ke kantor sekarang!” ucapnya dengan suara seraknya sambil menahan sesuatu yang akan bangun dalam dirinya.
"Anda kenapa bos” cemas Marsel dari seberang sana.
“Jangan banyak tanya, cepat kesini sekarang!”
“B-baik bos”
Tut Tut
Â
“bajingan! Siapa yang berani memasukkan obat perangsang!” Axel mengumpat kesal, Yap akhirnya dia menyadari saat merasakan terhadap dirinya sendiri.
Wajah wanita penghantar kopi tadi langsung terbayang di benak nya.
“Wanita itu, sial!”
Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu ruangan nya, Axel yang berada dalam kamar pribadinya berpikir Marsel datang.
“Marsel kau kah itu!” namun tidak terdengar jawaban darinya.
Axel mengernyit, “siapa yang berani masuk ke ruangan ku!” dengan susah payah ia mencoba melihat.
Dengan penglihatan sedikit kabur ia hanya melihat seseorang memiliki postur wanita menghampiri nya.
“Hai...sayang kita bertemu lagi!”
Axel tetap berusaha menguatkan kesadarannya dan akhirnya dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu.
“Kau!” rahang Axel langsung mengeras saat mengetahui wanita tersebut.
“Lancang masuk ke ruangan ku!” tekan Axel dingin.
“Jangan marah-marah dong, aku kesini mau berkunjung. Dan aku liat seperti nya kamu lagi butuh bantuan!” ucapnya sambil membelai-belai wajah Axel dengan tangan lentiknya.
“Cih, Keluar, atau kau perlu diseret keluar!”  Axel terus memegang kepalanya yang semakin terasa pusing. Dia sangat ingin sekali menyiksa wanita sialan itu tapi tenaganya tak mendukung.
Brak...
“Bos!” Tepat waktu Marsel datang tepat waktu membuat Axel bernafas lega namun yang membuat dia kaget adalah keberadaan istrinya.
Mata Marsel langsung melotot melihat dengan siapa bosnya.
“Bos dia, kenapa dia ada disini!” Sambil menunjuk arah wanita itu yang tak lain adalah Liana. Liana sendiri menggerutu geram dalam hatinya rencana yang susun susah payah harus hancur dengan kedatangan Marsel.
“Cih padahal tinggal sedikit lagi”
“Jangan banyak tanya cepat seret wanita ini keluar!”
Dengan cepat Marsel menarik Liana, “lepas, aku ingin bersama Axel, kau hanya asisten jangan lancang menarik ku!” pekik Liana mencoba menarik diri dari Marsel.
Selama Marsel menarik Liana, Axel berusaha berjalan menghampiri istrinya yang masih berdiri menatap nya dengan tajam.
Lalu tanpa aba-aba ia mengangkat sang istri memasuki kamar pribadinya.
“Mas Axel!” pekik Bianca karena kaget dengan kelakuan suaminya.
“ngapain kamu bawa aku kesini, mau bujuk aku gitu. Cih...gak bakal ngaruh!”
“Sekarang kamu jelasin kenapa kamu bisa berduaan sama mantan kamu itu! Kamu benaran mau selingkuh!” Bianca terus mengomel tanpa memperhatikan keadaan suaminya, padahal Axel sudah sangat susah payah menahan nafsunya ditambah kepalanya terasa sangat pusing sekali.
“Panas sayang!” ucap Axel pelan.
Bianca malah berkecak pinggang dengan mata melototi Axel yang lagi meringkuk di atas tempat tidur, “kenapa diam! Gak terima aku datang iya, ayo jawab!”
“Mas!”
“Mas Axel!” pekiknya lagi karena tidak dihiraukan Axel.
“Mas, mas” suara mulai memelan sambil mendekati Axel.
“Mas kamu kenapa?” tanyanya sadar akan keanehan suaminya.
“Panas sayang, ka-kamu harus bantu aku!”  dengan mata berkabut gairah Axel mendekap istrinya. Dia masih tetap mencoba menahan karena teringat perkataan dokter kandungan istri masih terlalu muda tidak boleh sering berhubungan badan apalagi dengan keadaan nya terpengaruh obat perangsang bisa habis istrinya dan cabang bayinya.
Bianca tidak bodoh, dia akhirnya mengerti apa yang dimaksud suaminya.
“mas kamu, sini aku bantu” dengan penuh keberanian ia membuka kemeja Axel.
“sayang kamu yakin nanti kalo aku kelepasan bagaimana?”
“Ish...kamu mau aku bantu apa enggak!” sewotnya berusaha mati-matian menahan rasa malunya.
~~
Di luar gedung Xander Grup, Marsel berusaha menahan kekesalannya mati-matian habis berdebat panjang dengan Liana.
“Wanita gila itu masih susah seperti dulu! terObsesi sekali pada si bos, gila benar-benar gila!”
“Kenapa bos tidak membunuh dia dari awal, muak gue liat muka songong itu!”
“bahkan masih nekat melakukan sesuatu menjijikkan mendapat bos, gila!” setelah bosan mengomel sendiri ia berbalik masuk kedalam ruangan Axel.
“Kira-kira si bos ngapain lama banget!” gumamnya. Saat telah memasuki ruangan tersebut ia celingak-celinguk mencari orang nya.
...
“Kok gue kek dengar suara aneh-aneh ya, suara apaan tuh!”
“Bah...” ia langsung menegang saat sadar.
??
“Bos sialan! Gue jomblo sialan, gak tau tempat anjiiir!” sambil mengumpat kasar dan mendengar kursi ia buru-buru keluar dari ruangan tersebut dengan muka sedikit memerah.
“Sialan kesucian telinga gue hilang sudah!” ucapnya dramatis.
 ~~~
Beberapa saat setelah itu ia melihat keduanya keluar, Marsel langsung memasang raut kesalnya sambil bersedekap dada.
“Segar amat kek nya, gimana bos enak ya main di kantor!” ejek Marsel menatap Axel julit.
“Cih, kalo mau main miscall saya dulu kan bisa bos biar saya kagak kecolongan masuk. Sekarang hilang sudah kesucian telinga saya kan sayang!”
Axel menatap Marsel tajam seperti ingin menerkam. Berbeda dengan Bianca dia malu sekali mendengar tuturan Marsel.
“Ini semua gara-gara kamu!” bisik nya kesal. Axel hanya pura-pura terbatuk pelan sadar kesalahannya.
“Jalankan mobilnya sel, jangan sok suci!”
Marsel mendegus lalu pergi memasuki mobil diikuti oleh Axel dan Bianca.
Â
Selama menyetir mobil Marsel masih terus memasang wajah jengkel nya masih terngiang-ngiang di telinganya suara tadi.
“Huaaaa... hiks-hiks gini amat nasib orang jomblo!” tangis nya dalam hati entah pada siapa dia akan mengadu.
 "awas aja nanti Lo bos disaat gue udah nikah, gue bakalan lihatkan seperti apa kemesraan seorang Marsel sebenarnya, Hmp!"
"Huhu...doakan anak mu Mak cepat-cepat dapat jodoh!"
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
Â
Â