
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
09.00 At Night,
Di sini mereka tepatnya, di sebuah Restoran terdekat menyantap hidangan yang telah disajikan pelayan.
Bianca makan sangat lahap sekali membuat Axel geleng-geleng kepala. “Pelan-pelan sayang, nanti keselek” ucap Axel, bahkan makan saja belepotan. “Sini bersihin mulut kamu” Bianca menurut membiarkan Axel membersihkan dengan tisu.
“Mas, kok aku belum kenyang ya!” Ucapnya menyengir kuda saat telah menghabiskan semua hidangan dengan terus mengusap perutnya.
Axel melongo, “kamu cacingan” ujarnya, Bianca berubah masam mendengarnya. “Enak aja, cantik gini masa cacingan” dumel nya.
“pesan lagi mas, tapi makanan Favorit kamu ya, pokoknya kamu pilih”
Axel mengernyit, “Hah, gak salahkan?”
“Kagak, ayo cepat mas masih lapar nih” rengek Bianca. Axel mengalah dan memanggil pelayan.
Â
Tak menunggu lama pesanan datang, mata Bianca berbinar-binar dan tanpa ba-bi-bu ia menyatap nya dengan lahap. Axel meringis melihat cara makan istrinya, “ya tuhan, Setan apa merasuki istriku! Lihatlah makan seperti orang kelaparan” batin Axel sedikit malu. Apalagi dilihat beberapa pengunjung disana, tapi tidak ada yang menegur ataupun mencibir karena melihat Axel bersamanya. Maklum lah Axel kan pengusaha muda tersohor sedunia.
Sekitar sejam kemudian, Axel membawa Bianca balik ke mansion saat melihat wajah istrinya tiba-tiba pucat.
“Kenapa bisa pucat gini sih? Gak mungkin terlalu banyak makan kan?” Axel cemas dan khawatir dan memeluknya.
Bianca menggeleng lemas, “gak tau kepala aku juga pusing” keluhnya.
Axel terus mengusap lembut kepala istrinya sambil menunggu sampai mansion.
Â
Saat sampai mansion, Bianca cepat-cepat berlari ke arah kamar mandi.
Axel bergegas menyusul kesana, “Hoek...Hoek...” terlihat Bianca mencoba memuntahkan isi perutnya di wastafel. Axel memijit tengkuk belakang Bianca.
“Hoek...” selesai kumur-kumur lalu ia bersandar pada dada bidang Axel.
“Udah” tanya Axel dibalas anggukan lemah oleh Bianca.
“Gendong mas!” rengeknya, Axel dengan singgap mengangkatnya ala koala masuk kamar.
“Kita ke dokter ya?” kata Axel setelah membaringkan Bianca di atas tempat tidur.
“Enggak usah mas” geleng Bianca sambil memejamkan matanya.
Axel mendesah pelan, “makanya jangan terlalu banyak makan jadi gini kan” omel Axel.
“Apa hubungannya coba? Ini pasti masuk angin doang kok” protes Bianca menggeleng.
Axel mengalah lalu mencari minyak kayu putih dan mengoleskan pada perut Bianca.
“Sekarang tidur” Bianca menggeleng, “bentar mas, aku mau ganti baju dulu” Saat akan turun langsung ditahan Axel.
“Kamu disini aja biar aku ambilin” Bianca mengangguk lalu Axel melangkah ke lemari mengambil piyama tidur istrinya. Kemudian memberikan pada Bianca.
“Udah ganti ngapain bengong” heran Axel tak kunjung melihat Bianca mengganti bajunya.
“Ihhh...kamu ngapain liatin, hus...sana gak boleh liat!” gerutunya melototi Axel.
“Ck, lah kenapa? Udah sering liat semua nya” protes Axel tapi tetap pergi mengganti bajunya.
“Hmp” degus Bianca lalu membuka dress nya dan mengganti dengan piyama tidur.
Selesai, ia langsung rebahan sambil menunggu Axel selesai. “Eh, mau kemana mas?” bingungnya saat melihat Axel menuju pintu kamar bukannya menemani nya tidur.
“keluar bentar”
Axel terkekeh, “bukan, aku cuman mau minum bukan main siksaan” Lalu melanjutkan langkahnya. Bianca hanya diam, ia yakin Axel pasti ngeledek nya.
Tak berselang lama Axel kembali ke kamar, terlihat istri cerewetnya sudah menunggu manyun. “Peluk mas” rengeknya manja.
“dasar manja”
“Biarin”Â
Axel tersenyum dengan sesekali mengecup rambut hitam Bianca yang telah berada dalam dekapan nya.
“tidur” tekan Axel saat merasakan istrinya malah mendusel-dusel nakal di dadanya bukanya tidur.
“Hm...wangi mas, kamu ganti parfum ya?”
“Tidak” jawab Axel memejamkan matanya biarlah istrinya itu nanti juga tidur sendiri.
“Benaran. Tapi kok makin wangi, apa emang badan kamu yang makin wangi mas tapi kok bisa atau... penciuman aku bermasalah”
Axel diam, kalo dijawab malah makin panjang jadinya mending diam.
Karena tidak mendengar balasan dari Axel, ia mencubit pinggang itu pelan. Tapi tetap tidak ada respon.
“Ma...”
“Tidur!”  potong Axel dingin membuat Bianca terdiam dan menurut.
“Tinggal jawab susah banget sih” batin mendumel.
🌿🌿🌿
Indonesia, 10.00 WIB
Tepatnya  di rumah Dinda ia di pusingkan dengan sepupu laknatnya.
“Ya Allah, Faisal ****** Lo bisa gak usah ganggu gue jam segini, gue mau belajar aja susah!” pekik Dinda kesal setengah mati dengan ke nyinyiran Faisal. Bagaimana tidak dari jam lapan pagi tadi dia datang cuman menanyakan tentang Bianca karena tidak masuk beberapa hari ini. Bahkan sudah ia jawab Bianca lagi ada urusan penting makanya tidak masuk tapi nih anak malah tak percaya.
“jujur aja Din, gue tau Lo bohong soalnya udah sering gue dibohongin, mana percaya gue?” protes nya sengit.
“kapan gue bohongin Lo Jono mar jono! Gue udah bilang jujur kalo Bianca itu lagi izin urusan pribadi, gue aja kagak dikasih tau kemana dan dimana, buat apa juga gue bohong ama lo? Lagian Lo kagak malu ngejar-ngejar Bianca mulu. Kalo gue jadi Lo males banget mending kejar yang pasti!” omel Bianca dengan nafas naik turun butuh kesabaran.
“kagak bisa, Lo mana tau rasanya secarakan Lo kagak pernah jatuh cinta tuh...”
“sok tau Lo, gue juga pernah jatuh cinta gak kayak Lo berlebihan bahkan udah di tolak tetap aja di kejar kayak gak ada cewek lain aja!” sewot Dinda langsung memotong ejekan Faisal.
Faisal memutar bola matanya males, “Fine, gue percaya ama Lo, tapi minta gue no. baru dia dong, kangen gue nih, pliiis!” Mohon Nya dengan wajah sok manis.
“Kagak! Cari aja sendiri” ketus Dinda dengan cepat berbalik dan mengunci pintu kamarnya. Hari ini ia jadwal kosong jadi tidak ngampus.
Â
Tok tok
Faisal terus memanggil Dinda dan mengetuk pintunya.
“Dinda, sepupu gue paling cantik teramat cantik buka dong pintunya! Jangan pelit dong ama sepupu lo nan ganteng sejagat raya ini, ayo lah!”  teriak Faisal dengan suara toa nya membuat Dinda bahkan pembantu lagi bersih-bersih ikut kaget dan tutup telinga.
Brak...Duk..
Bukan ketukan itu tendangan dari kaki Faisal.
“JANGAN SAMPAI ROBOH PINTU KAMAR GUE FAISAL ANJIING! GUE PATAHIN KAKI LO!” pekik dan maki Dinda mengalah kan suara Faisal dari dalam kamar.
“Ck” Dengan kesal dan muka masam Faisal mengalah dan pergi, tujuan nya menemui Papa nya kalo kedua temannya mungkin bakalan makin menertawakan nya.
Bertanya soal ortu Dinda mereka lagi keluar negeri ngurus bisnis, ia juga sudah terbiasa di tinggal begitu jadi tak terlalu sedih.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
Â