
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
INDONESIA, BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA
Beberapa jam penerbangan dari LA akhirnya sampai kembali di tanah kelahirannya, terlihat sebuah senyuman indah terukir di bibir Bianca dengan sebelah tangan menggandeng lengan kokoh suaminya.
Beberapa orang melihat pasangan itu hanya menatap iri tepatnya iri pada Bianca dapat bergandeng dengan seorang Axel.
“Siapa sih wanita itu!”
“Beruntung banget bisa menjadi kekasih tuan Axel”
“Cih, ******!”
Langkah Axel langsung berhenti matanya menatap tajam orang-orang itu satu persatu.
“Jaga ucapanmu,*****!” Tekan Axel dingin membuat mereka mendengar nya merinding. Jelaslah dia marah enak saja menyebut istrinya ******.
Bianca hanya mengusap lembut lengan suaminya, “udah mas biarin aja” ucapnya tak terlalu peduli. Axel hanya berdeham dan melanjutkan langkahnya kearah mobil Lamborghini hitam putih yang telah disediakan bawahannya.
Sesaat telah memasuki mobil, mobil tersebut langsung melaju yang mana dikendarai salah satu bawahan Axel.
Tak berselang lama menempuh perjalanan mobil tersebut sampai di mansion yang ditempati Axel dan Bianca biasanya.
Di halaman depan juga terlihat beberapa mobil terparkir Axel sudah tau tetap acuh. Berbeda dengan Bianca kening tampak berkerut, “sepertinya ada tamu mas” ujar Bianca.
“Apa mungkin Keluarga kamu mas?” Bianca menebak, Axel tak menjawab saat pintu dibuka ia keluar. Bianca juga ikut keluar.
Dengan langkah tegap dan wibawa nya Axel memasuki ruangan utama diikuti Bianca dan bawahannya yang membawa koper.
Saat masuk mereka langsung disambut oleh pelayan seperti biasa. Dan terlihat Marsel menghampirinya dan mengiringi Axel dengan Bianca ke ruangan tamu.
Disana telah berkumpul Alina, Amanda, Wiliam, Daniel dan Angel juga ada kakek Leon bersama si kembar, melihat mereka semua Axel menghela nafasnya.
Saat mendengar langkah kaki mendekat mereka semua langsung menoleh.
Deg
Jantung mereka berdetak kencang saat melihat siapa yang datang kecuali Wiliam, kakek dan si kembar.
“Kenapa selama ini aku sangat bodoh tak mengenali putraku sendiri!” Alina membatin merutuki kebodohan nya. Yap sekarang ia baru menyadari wajah Axel/Rafa tak jauh beda saat pertama kali kejadian itu tepatnya lebih mirip Antonio ayah Reynand namun entah kenapa ia tak menyadari selama ini.
Axel tak menghiraukan tatapan mereka semua, ia mendekati sang kakek dan melakukan hal seperti biasa diikuti oleh Bianca.
“Asyiiik...mana oleh-oleh buat kita!” heboh si kembar seperti meminta permen. Bianca dan Axel terkekeh pelan. “Ada ambil aja dalam mobil” ucap Bianca karena ia lihat belum dikeluarkan oleh bawahan Axel. Tanpa banyak bicara keduanya berlari keluar sambil bersorak heboh.
“Bukan cucuku!” ujar Kakek Leon mendegus melihat tingkah kekanakan mereka. Bianca hanya tersenyum mendengarnya.
EHEM...
Mereka langsung menoleh pada sang pelaku yang tak lain adalah Wiliam.
Axel menatap dengan datar seperti tak terjadi apa-apa bahkan tak menyapa keluarganya itu.
“R-rafa apa itu benar kamu nak?” Alina berjalan menghampiri Axel dengan mata berkaca-kaca. Angel, Amanda dan Daniel tak jauh beda tapi masih menahan diri untuk tidak memeluk Axel.
Suasana menjadi tegang saat melihat reaksi datar Axel tanpa ingin menjawab. Tapi ia hanya diam saat wajahnya disentuh Alina.
Axel diam namun tatapannya tidak setajam awalnya, ia menatap Alina sendu. Leon, Bianca dan Marsel beranjak dari sana membiarkan waktu untuk mereka.
“Jawab mommy nak? Apa kamu masih marah? Maafin mommy sayang karena lebih percaya orang asing dari putra mom sendiri, maafin mommy dan yang lain...kami menyesal, kamu mau kan maafin kita?”
Axel menarik tangan itu dari wajahnya dengan tatapan kembali berubah, “Cih, tak semudah itu mendapatkan maaf dariku” Axel mencibir.
“Rafa/Abang!” semuanya tak mengharapkan ucapan itu terlontar dari Axel.
“Xel!” Wiliam menatap memohon pada sang adik, ia tidak tega melihat orang tercinta nya menangis seperti itu.
“Apa! Kau pikir semudah itu aku melupakan semua itu, kalian bahkan tak pernah mendengar penjelasan ku malah langsung menuduh tanpa bukti, kalian pikir tidak sakit diusir seperti binatang!..”
“kalian tidak pernah merasakan apa yang kurasakan jika tidak ada kakek Leon membantu ku entah seperti apa nasibku sekarang. Bahkan si tua bodoh itu tidak menyelidiki terlebih dahulu! Dan sekarang kalian dengan gampangnya minta maaf padaku, Cih...tidak semudah itu!” Nafas Axel naik-turun dengan mata memerah antara marah dan menahan air matanya yang akan lolos sambil bergerak sedikit menjauh dari Alina.
Tangisan Alina, Amanda dan Angel semakin kejar.
Bianca dan yang lain termasuk para pelayan ikut sedih mendengar nya.
“Abang!” tanpa peduli dengan kemarahan Axel, Daniel berlari dan menghambur memeluknya. Axel hanya diam.
“Abang, Daniel tau seperti apa rasanya tapi Abang jangan benci Daniel dan yang lain. Selama ini Daniel selalu bermimpi bertemu Abang dan sekarang semuanya terwujud jadi Daniel mohon Abang jangan pergi, abang gak boleh ninggalin Daniel lagi..” Daniel menangis bahkan jas yang dipakai Axel dibuat basah olehnya tanpa takut Axel marah.
Axel sedikit melunak karena Daniel pengecualian. Ia mengusap pelan bahu Daniel dengan badan masih bergetar. Hanya badan yang besar tapi tingkah seperti anak kecil itu pikir Axel.
“Abang gak benci ataupun marah sama kamu” ujar Axel lembut dan tersenyum kecil.
Daniel melepaskan pelukannya dan menatap Axel lekat, “benaran” Axel mengangguk sambil terkekeh melihat wajah sang adik memerah karena terlalu berlebihan menangis.
“Tapi Abang juga harus maafin kak Angel, bunda, Mommy dan yang lain, Daniel pengen Abang dan yang lain naikkan. Daniel gak mau mommy sakit lagi!” Daniel terus meracau dengan sesenggukan terlihat seperti bocah saja padahal sudah 17 tahun. “Kenapa si bontot ini tidak cewek saja!” batin Axel.
Alina, Amanda dan Angel menunggu jawaban Axel mereka sangat berharap sekali, rasa sangat sesak sekali.
Axel mengepal tangan kuat-kuat, ia juga tak tega melihat ketiga wanita itu menangis memohon minta maaf. Ia teringat ucapan dan wajah  istrinya yang mana membuat pikiran dan hatinya menjadi tenang, benar Bianca adalah penyemangat dan cahaya hidupnya mungkin jika tidak ada Bianca hati masih kelam karena rasa dendam.
Setelah memejam matanya sejenak, ia melangkah pelan menghampiri Alina yang sedang masih terduduk dilantai dekat sofa tadi.
Axel berjongkok dan menghapus air mata itu, “Axel maafin mommy, tapi Axel mohon mommy jangan nangis lagi..” entahlah air mata yang semenjak kejadian itu tak pernah terlihat akhirnya tumpah kembali dari pelupuk matanya.
“Kamu benaran maafin mommy sayang?” Axel mengangguk, dengan cepat Alina memeluknya dengan tengis bahagia.
Melihat itu Amanda dan Angel ikut mendekat, “Maafin bunda juga sayang”
“Maafin kakak...” Akhirnya, mereka semua saling pelukan melepaskan semua kerinduan selama belasan tahun tak bertemu.
Bianca, kakek Leon, si kembar dan pelayan lainnya ikut lega melihat nya.
“aku tau hati kamu pasti maafin mereka mas, semoga akan tetap seperti ini seterusnya”  Bianca membatin tersenyum bahagia.
“Ini baru cucuku!” Kakek Leon tersenyum lega.
Selesai reunian tersebut, mereka membahas tentang masalah sebelumnya, walaupun awalnya merasakan kebahagiaan namun tidak menutupi kekhawatiran dan kecemasan terhadap Reynand, Zayn dan Michael entah dimana dan bagaimana keadaan nya sekarang. Diantara semua nya hanya Axel dan Marsel termasuk Kakek Leon yang tetap tenang.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
Â