
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
“Xel, gue khawatir Daddy, ayah dan Michael kenapa-napa? Gue gak tau siapa bajingan itu!” Wiliam terus bolak-balik dengan muka kusutnya.
Axel menatapnya jengkel, “bisa diam tidak!” Tekan Axel ketus.
“Lo benar-benar... aish...!” Wiliam hanya bisa menahan kesalnya apa dia tidak tau ini berhubungan soal nyawa tapi adiknya itu malah santai saja.
Kakek Leon dan Marsel hanya geleng-geleng kepala melihat nya.
Sesaat telah melihat Wiliam duduk Axel berkata, “Lo cukup pergi ke perusahaan biar Daddy urusan gue!”
“Tapikan gue juga mau ikut Xel” bantah Wiliam tak terima.
“Sudah tua masih keras kepala! Jangan membantah Lo turutin ucapan gue!” ucap Axel datar penuh penekanan.
“Tapikan...”
“Apa yang dibilang Axel benar, kamu urus perusahaan bersama beberapa bawahan Axel, soal Daddy kamu semuanya akan beres oleh Axel!” Kakek Leon langsung memotong ucapan Wiliam sependapat dengan perkataan Axel.
Wiliam menghela nafas pasrah, “ya sudah, tapi jika terjadi apa-apa harus telpon gue, mau gimanapun gue tetap tertua”
Axel mendegus sifat Wiliam tidak pernah berubah keras kepala pantang kalah tapi jika sudah dimarahinya bakal nurut juga, entahlah ia merasa menjadi seorang kakak saja.
“Jadi kapan rencana nya bos?” Marsel bertanya karena sudah tak sabaran bermain-main.
“Hm, nanti malam”
Marsel tersenyum lebar mendengarnya, jiwa pscyopat nya langsung meronta-ronta. Apalagi Axel ia sudah lama menunggu hal ini.
Kakek Leon, Wiliam dan Daniel langsung merinding melihat senyuman keduanya.
“Walaupun gue mantan mafia masih kalah dengan kekejaman adek gue sendiri!” keluh Wiliam membatin.
“bang Daniel ikut ya” ucap Daniel dengan mata berbinar-binar sambil menggoyangkan lengan Axel. Posisinya Daniel duduk tepat di samping Axel.
Axel melotot, “tidak. bocil tidak boleh ikut!”
“Kok gitu sih, Daniel udah besar bang. Daniel pengen liat juga seperti apa kekejaman seorang Axel, apa benar seperti yang dikatakan orang-orang atau hanya sekedar hoaks doang!” Cerocos Daniel cemberut dengan raut penasaran.
“Mendingan jangan Niel, kakek takut kamu nanti gak kuat lihat nya” Kakek Leon melarang cepat dengan wajah ngerinya.
“Benar Niel, emang kamu pernah lihat yang begituan. Takutnya nanti kamu kena mental” tambah Wiliam ikut nimbrung.
“Benar Niel” ujar Marsel.
Daniel cemberut dan menatap Axel kembali, “ayo lah bang boleh ya!” rengeknya lagi.
Axel menggeleng, “tidak boleh. Mending kamu belajar yang benar, Abang gak terima nilai kamu di bawah angka delapan!” Axel sengaja mengancam biar nurut, ia juga tau bagaimana kelakuan Daniel di sekolah sangat populer dengan kenakalannya.
Wajah Daniel langsung masam, “aish...” Dengan dongkol ia terpaksa menurut.
“Dasar bocah giliran sama Axel nurut dulu aja gue ngomong kagak pernah didengar!” Degus Wiliam heran.
Daniel menjulurkan lidahnya mencibiri Wiliam, “abang tengil males gue” Lalu langsung ngacir pergi mencari mommy nya dan yang lain.
Wiliam mendegus kesal kalo tidak adek sudah ia sentil. Kemudian, ia kembali mode serius menatap Axel, “ Xel, gue curiga sama om Fiki dan tante Laura, apa mungkin ini ulah mereka!” Â
“Mungkin” Axel tak menunjukkan ekspresi apapun tetap acuh.
“Ck, Lo bisa gak, kagak usah dingin begitu gue ngerasa ngomong ama orang asing aja” Wiliam mengomel tak suka membuat Axel semakin jengah.
“Selama Xel pergi kakek tidak pernah drop kan?” Tanpa mempedulikan ocehan Wiliam Axel beralih menatap sang kakek.
“Tidak. Bagaimana apa Bianca sudah isi? Kau tau kakek tak sabaran ingin mengendong cicit kakek?!”  Axel memutar bola matanya males mendengar pertanyaan itu lagi sudah tua cicit terus di pikirkannya.
Wiliam yang awalnya kesal tertawa meledek melihat ekspresi Axel. Tapi ia juga merasa iri karena dilangkahkan seharusnya kan ia menikah terlebih dahulu.
“Sudah kek, jadi kakek jangan nyinyir lagi” jawab Axel singkat tanpa peduli ledekan Wiliam.
“Hahaha... akhirnya keinginan kakek terwujud juga” Dengan raut gembira Kakek Leon beranjak tujuannya mencari Bianca. Axel hanya geleng-geleng melihat tingkah sang kakek.
“Bos berarti gue bakalan dapat ponakan dong” Marsel tak kalah senang.
“kok gue iri ya” kata Wiliam rada kesal.
“ngaca mbak” ledek Wiliam balik.
“Sorry mang, gue udah punya gebetan kali bentar lagi mau nikah” Angel mencibir membuat Wiliam mendegus.
“Cih, tunggu tanggal mainnya setelah semua masalah selesai!” setelah mengatakan itu ia beranjak dari sana.
Angel tertawa, “sudah tua ngambekan kek bocah” ejeknya. Axel dan Marsel hanya geleng-geleng kepala.
“Sel tetap awasi mereka!” perintah nya pada Marsel.
“Baik bos” tak perlu lama-lama Marsel langsung pergi menjalankan tugasnya.
🌿🌿🌿
Malam harinya tepat pukul 21.00 WIB. Axel berangkat bersama Marsel menuju markas tempat penyekapan Reynand, Zayn dan Michael. Beberapa bawahannya sudah diperintahkan lebih awal menyerang dipimpin oleh Anton.
Tak cukup lama akhirnya mereka sampai didepan sebuah gedung tua terletak cukup jauh dari keramaian. Dari luar juga terdengar tembakan, pukulan bahkan suara kesakitan.
Axel tersenyum dingin, dia tak sabaran melihat reaksi dan kemarahan si tua bangka.
Prok prok Prok
Axel bertepuk tangan sambil tertawa mengejek, saat sampai di dalam terlihat bawahan Radit tumbang hampir semua, sudah pasti Axel pemenang.
“Bagaimana pak tua! Kau masih ingin bermain dengan ku?” Axel tersenyum mengejek saat melihat Radit keluar dari persembunyian nya bersama tangan kanannya.
Rahang Radit mengeras, “apa maksudmu bocah menyerang markas ku?” walaupun mereka musuhan tapi setaunya seorang Axel tidak akan menyerang secara sepihak.
“Heh...apa kau benar-benar tidak tau kesalahan mu tua bangka!” Axel tersenyum sinis.
“Sel, jelaskan secara rinci” Marsel mengangguk lalu menjelaskan semuanya sesekali tersenyum sinis melihat ekspresi Radit.
“mereka aman bos” Axel tersenyum lega mendengar suara Anton lewat earphone yang terpasang ditelinga nya.
~~
Mendengar semuanya, Radit melotot tak percaya tapi beberapa saat kemudian ia tertawa keras.
“Hahaha...dunia emang sempit, ternyata setelah di usir hidupmu menjadi lebih menyenangkan”
“Dan sekarang kau pasti ingin menyelamatkan bajingan bodoh itu, hey...boy untuk apa kau bersimpati padanya bukannya dia telah menyakitimu!” Ucap Radit mencoba mempengaruhi Axel.
“Bukannya itu ulahmu. Kau pikir saya tidak rencana busukmu selama ini” ujar Axel sinis. Radit mengerakkan giginya ternyata selama ini semua rencananya telah diketahui.
“Bocah ingusan seperti mu tidak perlu ikut campur. Ah tapi jika kau bersikeras tidak masalah tapi jangan salahkan orang tua ini jika orang terdekatmu kehilangan nyawanya!”
“Oh benarkah, bukannya kau yang harus hati-hati!” ejek Axel menyeringai.
Dor
Radit langsung melepaskan tembakan ke arah Axel tanpa bisa menahan emosi nya.
“Ups...” bukannya merasa sakit ia malah tersenyum. “berapa kalo pun kau tembak itu tidak akan melukaiku” jangan salah ia memakai rompi anti peluru bukan hanya dirinya saja semuanya bawahannya juga sama.
“Sialan!” umpat Radit lalu memerintahkan tangan kanan dan bawahan lain menyerang Axel. Namun hanya beberapa detik semua tumbang mengenaskan.
“Sial, kenapa bocah ini kuat sekali!” Radit mengumpat panik. Saat teringat ketiga orang itu ia kembali tersenyum licik.
“Kau akan menyesal bocah!” Lalu dengan cepat pergi ke ruangan bawah tanah tanpa mempedulikan para bawahannya.
Axel hanya menatap acuh kepergiannya. “Bos apa perlu saya kejar!” tanya Marsel.
“Hm, tidak perlu” kemudian ia sendiri mengikuti tempat tujuan Radit.
“Gak asik, gue belum puas” Namun matanya melihat salah satu musuh akan bangkit, “hihihi...pas sekali” tanpa babibu ia menyiksa pria tersebut.
Semua anggota BD melihatnya bergidik ngeri, bos dan tangan kanan sama saja sama-sama kejam dan pscyopat.
...
Disisi lain Fiki dan Naura belum mengetahui yang terjadi masih sibuk berpesta gembira di sebuah Club’. Mereka tidak tau kebahagiaan itu akan berakhir sebentar lagi.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT