My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Axel jengah



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


“Mas, aku dapat undangan dari salah satu teman aku di kampus acaranya nanti malam, katanya harus berpasangan, Hm...kamu mau enggak temanin aku?!” Ucap Bianca sedikit gugup mengatakan pada Axel, takutnya nanti suaminya itu tidak mau.


Sekarang mereka berada di kantor perusahaan Xander dan Axel harus terpaksa membawa Bianca karena merengek terus ingin ikut bahkan di suruh ke kampus pun dia tidak mau. Entahlah Axel tidak tau kenapa istrinya bisa seperti ini. Dan berarti tepatnya hari ini telah dua hari Bianca tidak masuk, Axel tidak terlalu masalah karena kampus itu miliknya.


Axel yang awalnya memeriksa berkas-berkas penting terpaksa menoleh kearah Bianca yang duduk santai di sofa.


“Tidak perlu datang!” jawab Axel singkat dan acuh lalu beralih pada berkas-berkas nya.


Bianca cemberut, “kok gitu sih, aku kan pengen datang. Lagian enggak enak ama Fina. Kalo enggak mau temanin bilang aja aku kan bisa sendiri atau perlu aku minta Faisal aja temanin!” sewot Bianca dan sengaja ingin memastikan apakah suaminya itu cemburu atau tidak. Jika tidak berarti Axel memang tidak mencintainya.


Axel hanya menampilkan wajah datarnya tanpa ekspresi, “terserah!” acuh Axel tak peduli terus melanjutkan pekerjaan nya.


Deg


Bianca syok mendengarnya bahkan lutut nya hampir lemas dibuatnya, “kamu benar-benar tega mas!” batin Bianca sesak.


“Kenapa diam!” tanya Axel dingin tanpa menoleh. Bianca tidak menjawab bahkan air matanya hampir saja tumpah kalo tidak ia tahan.


Karena tidak mendengar jawaban, Axel memiliki tidak peduli karena harus menyelesaikan pekerjaannya tinggal sedikit lagi.


Drtt drtt


Ponsel Axel berdering, disana tertara nama Dok. Naura.


“Hm...”


“tuan pasien masih dalam keadaan koma tapi sedetik yang lalu dia sempat siuman dan menyebut nama anda lalu kembali tidak sadarkan diri...” jelas Dok. Naura dari seberang sana dengan nada khawatir nya.


“Bagaimana dengan mereka?” tanya Axel walaupun cukup kaget mendengar penjelasan itu. Ia tidak menyangka Wiliam hanya menyebutkan namanya.


“Mereka kebingungan tapi sempat histeris melihat Wiliam kembali tak sadarkan diri” jawab Naura.


Axel menghela nafas panjangnya, “besok saya akan kesana”


“Baik tuan”  lalu Axel langsung memutuskan panggilannya.


BLAM...


Axel kaget mendengar pintu ruangan nya ditutup kasar, dia menatap tajam sang pelaku yang telah keluar. Siapa lagi kalo bukan istrinya. Axel menelepon Marsel untuk mengawasi istrinya yang ia yakin lagi ngambek dan marah.


Sebenarnya Axel tidak bermaksud begitu, tapi dia tetap marah mendengar perkataan istrinya. “Cih, Faisal bocah bodoh itu tidak sebanding dengan ku!” umpat-Nya. Yap, dia tau siapa Faisal yang dimaksud Bianca bahkan dia tau Keluarga nya. Tinggal waktu mainnya Faisal dan keluarganya pasti akan mendapat siksa darinya. Apalagi si tua bangka bodoh itu!


Keluar dari ruangan Axel, Bianca langsung pergi menaiki taksi tujuannya pergi ke Mall. Sampai di sana ia membeli apa saja yang bagus baginya toh uang Axel enggak bakalan habis.


Dari jauh Marsel geleng-geleng kepala melihat nya, “gini yang benar, habisin aja nyonya sultan mah enggak bakalan habis tuh duit ampe tujuh turunan, coba aja gue jadi Lo nyonya udah borong semuanya!” sorak Marsel pelan. Kemudian, ia pergi menghampiri nyonyanya.


“beli apa lagi nyonya!” Tanya Marsel setelah sampai dekat nyonyanya. Bianca kaget, “eh, kak Marsel kok bisa ada disini? Disuruh mas Axel ya?” heran Bianca bertanya.


Marsel mengangguk canggung karena dipanggil kakak oleh nyonyanya. Tapi ia juga tidak membantah. Bianca hanya acuh.


🌿🌿🌿


Ditempat Axel, dari tadi ponselnya berdering terus-menerus. “Baru kali ini dia belanja sebanyak ini” gumam Axel tapi bukannya marah dia malah senang.


“Sel, langsung antar ke mansion” perintah Axel menelepon Marsel.


“Siap bos!” jawab Marsel.


15 menit kemudian, mobil Axel sampai di mansion. Dia juga melihat ada mobil lain terparkir di sana. Saat masuk Axel meringis mendengar suara heboh dari dua bocah yaitu Dava dan Diva.


“punya gue bangsat! Sesekali ngalah bisa enggak sih, ayolah kasih gue!” pekik Diva memperebutkan makan-makanan ringan dari tangan Dava.


“Apaan sih, punya Lo kan ada ngapain minta punya gue!” bantah Dava mendelik kesal.


EHEM


Axel berdeham dan menatap jengah tingkah kedua bocah itu. Dava dan Diva menoleh saat melihat Axel langsung nyengir kuda.


“Ehehe...bang Axel, udah pulang ya bang!” cengir Dava sambil menggaruk kepalanya tak gatal.


“Pakai tanya lagi, jelas-jelas bang Axel udah ada di hadapan Lo!” Ketus Diva memutar bola matanya males. Dava hanya mencibir.


Axel menghampiri mereka yang sedang duduk di sofa ruangan tamu. “sama siapa kesini?” tanya Axel setelah duduk di sofa depan mereka.


“Sopir bang, dia lagi ngerumpi ama teman barunya” jawab Dava.


Axel mengangguk, “ngapain kesini?” tanya Axel menatap lekat mereka satu persatu.


“Mau main aja kok bang!” jawab Dava. “kak Bianca mana bang masih ngampus ya?” tanya Diva karena tidak melihat kakak iparnya itu dari tadi.


“ASSAMU’ALAIKUM!” terdengar teriakan dari depan pintu.


“Wa ’alaikumsalam” jawab mereka bersama.


“Nah itu kak Bianca!” pekik Diva, lalu berlari menyusul Bianca.


“Abang ke atas ya!” ucap Axel pada Dava. “Yoi bang” angguk Dava.


“Banyak benar bang?” ujar Dava saat melihat Marsel membantu beberapa paper bag. “Biasa wanita” ucapnya pelan. Dava mengangguk sambil melirik Diva dan Bianca lagi berceloteh entah apa yang dibahasnya.


“Langsung antar ke kamar aja kak” kata Bianca sedikit berteriak karena dia lagi berjalan keluar bersama Diva.


“Baik nyonya!” jawab Marsel, lalu pergi ke lantai atas dengan kedua tangan penuh membawa barang belanjaan Bianca. “Hadeh...wanita selalu boros belanja aja sampai sebanyak ini, tapi kalo sultan kek bos sih enggak masalah. Nah gue! Semoga aja istri gue nanti enggak matre, Aamiin!” gumam Marsel pelan tidak sadar diri.


Saat sampai didepan pintu kamar Axel dan Bianca kebetulan Axel membuka pintu akan keluar. “udah segar aja bos!” candanya menyengir kuda. Axel hanya diam namun matanya melirik kearah kedua tangan Marsel membawa barang belanjaan istrinya.


“Sini!” pinta nya dingin. Marsel langsung memberikan dengan cepat karena tangannya sudah lelah m membawa dari tadi.


“kapan-kapan ajak saya juga ya bos, mubazir loh uang banyak tapi enggak dihabisin sesekali sedekah gitu ama saya” kata Marsel sambil menaik-turunkan alisnya dan menyengir.


Axel menatap datar campur jengah, “apa masih kurang gajimu!” dingin Axel.


“Ehehe...kagak bos, tapi kalo dinaikan lagi makin bangus bos” cengir dan ucapnya tanpa dosa.


“Matre. Sana pergi!” usir Axel jengah.


“gitu amat bos ama saya, mau gimana pun selama ini saya selalu ada loh buat bos” deliknya semakin ngelunjak membuat Axel mendesah berat. Lalu tanpa peduli Axel menutup pintu kamarnya dari dalam.


“lah gue ditinggal” lalu berbalik turun ke lantai bawah.


 


BERSAMBUNG...


 


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


Â