My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Apa kau tuli!



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Siang harinya, Axel baru saja keluar dari ruangan meeting yang diikuti oleh Marsel, namun langkahnya harus terpaksa berhenti mendengar suara panggilan seseorang.


"Axel!" dia tidak lain adalah Wiliam sambil berjalan mengejar Axel.


"hm.." Axel hanya memasang wajah dingin dan datarnya tanpa ekspresi.


Melihat itu Wiliam sedikit kesal, namun dia tidak berani memperlihatkan nya karena mau bagaimanapun itu sudah menjadi sifat Axel.


"apa saya bisa berbicara empat dengan anda? sebab ada yang perlu saya bicarakan" Wiliam langsung mengatakan keinginannya dengan cepat.


Axel terdiam sejenak, lalu mengangguk, "ikut saya" Axel melanjutkan langkahnya pergi keruangan kerjanya yang langsung diikuti oleh William.


Sedangkan, Marsel dia pergi keruangan nya karena tidak ingin mengganggu bosnya.


Setelah masuk, Axel duduk di atas sofa dan diikuti oleh Wiliam.


"apa!" tegas Axel langsung bertanya karena tidak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk berbicara dengan Wiliam.


Wiliam sedikit mendegus sambil menatap Axel yang tak menatap kearahnya, "kau ini! santai sedikit bisa tidak. aku ini abang mu bukan orang asing dan itu juga apa-apaan kau bicara kepadaku tapi malah menatap arah lain" gerutu Wiliam dengan kesal.


Axel beralih menatap dengan dingin, "Kau kan memang orang asing!" jawab Axel dengan acuh tapi terdengar menusuk.


Wiliam langsung terdiam kaku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Axel.


"Ra-fa..."


"gue bukan Rafa tapi Axel, jangan sesekali Lo ubah nama gue seenak nya!" ucap Axel yang memotong perkataan Wiliam dengan nada kasar. Dia sangat benci dengan nama itu karena itu hanya akan membuatnya terasa marah dan semakin benci.


Wiliam yang sadar kesalahannya hanya meminta maaf berkali-kali pada Axel.


Setelah cukup lama saling diam, Axel kembali bersuara, "kau ingin membicarakan apa? kalo tidak perlu silahkan keluar dari ruanganku" tegas Axel dengan acuh terlihat tak terlalu peduli.


Wiliam masih diam sambil memejamkan matanya sesaat, lalu menatap Axel dengan tatapan sayu nya.


"Axel, apa kau benar-benar belum bisa memaafkan mereka! kau tau mereka sangat menyesal sekali, mereka sangat ingin bertemu denganmu dan meminta maaf. Mom juga sering sakit-sakitan karena selalu merasa bersalah padamu setiap hari dia terus menatap foto dimasa kecilmu..."


"apalagi Daniel dia tidak tau apa-apa. Dia selalu berharap bertemu dengan mu. Kau harus tau adik kecil kita itu sangat cengeng dan manja, aku sering menemukan dia menangis saat menatap foto mu" kata Wiliam panjang lebar dengan mata sudah memerah menahan air matanya. Dia juga menatap Axel yang tidak bereaksi apapun.


Tatapan, raut wajahnya masih tetap dingin dan datar.


"Axel..." panggil Wiliam dengan suara seraknya berharap sang adik mau memaafkan.


"apa kau sudah selesai! kalau tidak ada lagi silahkan keluar, karena saya juga memiliki banyak pekerjaan!" dengan acuh Axel berjalan kearah meja kerjanya meninggalkan Wiliam yang sedang terdiam.


"Apa kau tuli!" dingin Axel dengan kata kasarnya saat melihat Wiliam tak kunjung beranjak dari sana.


"Axel..."


"KELUAR" tekan Axel tampak sudah sangat marah.


Melihat kemarahan Axel, Wiliam dengan terpaksa keluar dengan tatapan sedihnya.


"Axel sampai kapan kamu membenci kami" sedih Wiliam telah melangkah keluar.


Saat hampir sampai didepan mobilnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit dan pusing sekali.


"bapak kenapa?" khawatir sekretarisnya yang dari tadi menunggu di mobil.


"der, bawa saya ketempat dokter Naura" ucap Wiliam dengan suara lemahnya.


"baik pak" Lalu ia membantu Wiliam memasuki mobil, kemudian langsung menyetir mobilnya ke alamat Dok. Naura yang mengobati dan membimbing Wiliam melawan penyakitnya.


Sebenarnya, ia telah melakukan pengobatan dengan rutin setiap jadwalnya tapi memang kadang-kadang ia akan secara mendadak tiba-tiba merasakan hal seperti itu.


🌿🌿🌿


Setelah kepergian Wiliam, Axel langsung mengamuk namun, tidak sampai merusak barang-barang dalam ruangan tersebut. Dia hanya menonjok dinding dengan sekuat tenaga.


Darah telah menetes dari tangan yang terluka akibat terlalu kuat memukul dinding.


Setelah puas mengeluarkan semua kemarahan nya, Axel kembali duduk dengan tenang tanpa mempedulikan keadaan tangannya.


tok, tok...


"masuk"


Saat mendengar langkah orang itu masuk, Axel tidak menatap sama sekali, namun saat mendengar suara lembutnya


"mas..."


Axel langsung menatapnya dan terlihat wajah cantik istrinya siapa lagi kalo bukan Bianca.


Sebuah senyuman terukir dari bibir Axel, lalu dengan cepat melangkah dan memeluk istrinya.


Bianca yang mendapat pelukan mendadak hanya tersenyum kecil.


"mas, sejak kapan semua orang di kantor kamu tau kalo aku ini istri kamu" tanya Bianca dengan wajah polosnya setelah melonggarkan pelukannya dari Axel.


"dari akulah kamu pikir siapa hah! dasar bodoh" jawab Axel sedikit kesal dan gemas dengan wajah polos istrinya sambil mencubit hidung mungil nya.


Bianca cemberut, "mana aku tau, aku pikir kamu gak bakalan kasih tau tentang aku. kan awalnya kamu kan cuman menikah terpaksa dengan aku. malahan tatap aku aja gak mau" ucap Bianca sambil mengalihkan pandangan dari tatapan Axel.


Axel terkekeh mendengarnya dan dengan gemas mencubit kedua pipi tembem istrinya.


"ih... jangan dicubit sakit tau!" kesal Bianca dengan cemberut.


Namun, saat matanya tanpa sengaja melihat tangan kanan Axel, dia langsung berubah khawatir.


"mas ini tangan kamu kenapa! kok bisa begini dan masih berdarah begini. kamu habis nonjok orang ya!" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Bianca.


"Tidak, ini hanya tergores sedikit. kau tidak perlu se cemas itu" jawab Axel dengan santai.


"biar ku obatin ya"


"tidak perlu" Lalu ia menatap rentang yang dibawa Bianca.


Melihat tatapan Axel, Bianca tersenyum lebar lalu mengajak suaminya duduk di sofa dan membuka rentang nya.


Axel juga tak menyangka Bianca sampai membawakan makanan untuknya, semakin lama dia makin tau sifat istrinya.


"kamu gak kuliah!" tanya Axel karena biasanya jam segini istrinya masih berada di kampus sambil menatap semua isi rentang yang telah dibuka Bianca.


"gak" geleng Bianca.


"kamu makan ya, ini masakan spesial buat kamu" ucap Bianca sambil tersenyum lebar.


Axel hanya tersenyum kecil melihat istrinya.


"karena tangan kamu terluka biar aku suapi" kata Bianca sebab yang terluka itu tangan sebelah kanan Axel.


Axel menggeleng karena tangannya hanya luka kecil bahkan ia tidak merasakan sakit karena sudah terbiasa.


Lalu dengan cepat mengambil piring dari tangan Bianca yang telah berisi nasi dan lauk pauk.


"udah biar aku suapi aja, kan sesekali gitu istri suapin suami" tutur Bianca bersikukuh ingin melakukan nya. Karena melihat tangan suami terluka.


Axel hanya mengeryit bingung dengan sikap istrinya.


"kau ini kenapa sih, tangan ku masih berfungsi" kata Axel.


Bianca cemberut, "ya udah" ketus Bianca tidak mau berdebat lagi.


"sok jual mahal banget sih, disuapi aja kagak mau huh.." batin Bianca mendegus kesal.


Axel tidak terlalu menghiraukan sambil menyuap makanan nya. Namun, dalam hatinya ia terkekeh geli melihat raut istrinya.


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT