My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Penyesalan Liana



...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...


...----------------...


...----------------...


Beberapa jam berlalu Bianca telah dipindahkan ke ruangan rawat namun ia belum sadarkan diri. Selama itu Axel terus menatap dan menggenggam tangan Bianca dan mengecup nya beberapa kali berharap istrinya segera siuman.


Bahkan ia tidak mempedulikan penampilan nya yang sudah berantakan, rambut acak-acakan, mata sedikit sembab, kemeja putih dan jasnya yang berantakan, namun ia tak peduli yang paling utama keadaan istrinya.


Ceklek...Lalu pintu terbuka dan masuk Alina bersama Angel. Amanda baru pamit pergi bersama suami nya karena ada urusan penting.


Alina menghampiri Axel, ia tau apa yang dirasakan sang putra tapi gak harus melupakan penampilan yang begitu berantakan.


“Axel, kamu bersih-bersih dulu gih dan jangan lupa isi perut...” ucap Alina sambil mengusap rambut hitam berantakan itu.


Axel menoleh kearah sang mommy, “tapi mom...”


“Mom tau kekhawatiran kamu, bukan kamu saja mom dan yang juga begitu, tapi jangan sampai lupa dengan penampilan sendiri dong, coba deh kamu ngaca kalo Bianca liat pasti diledek habis-habisan kamu”


Akhirnya Axel sadar apalagi teringat ia menangis sebelumnya pasti mata sembab, “memalukan!”


“Ya mom, kalo gitu Axel pulang dulu”


Alina mengangguk, “jangan lupa makan juga” Axel hanya berdeham lalu berlalu keluar. Beberapa saat setelah Axel pergi datang Daniel bersama Wiliam. Untuk Reynand ia sudah balik kembali karena ada pertemuan mendadak dengan kolega bisnisnya.


Saat tak melihat Axel mereka kebingungan dan bertanya, “Bang mana kak?” Daniel bertanya sambil duduk di sofa dekat Angel. Alina sendiri duduk ditempat Axel sebelumnya.


“barusan pergi” setelah itu mereka hanya mengangguk mengerti.


“Oiya...gimana Wil, apa sudah ketemu pelakunya?” Alina bertanya sambil menoleh kearah tempat Wiliam duduk.


Mereka sangat marah sekali pada pelaku dengan tega nya menabrak wanita hamil, tak punya hati, bahkan mereka telah berjanji saat tertangkap dia harus dihukum seberat mungkin kalo perlu di hukum mati sekalian.


“Belum mom masih dalam pencarian” jawab Wiliam sambil menggelengkan kepala.


Alina menghela nafas panjang mendengarnya.


“tapi kalo menurut Daniel mendingan gak usah dilanjutin deh, soalnya kan gak mungkin bang Axel hanya diam. Jangan lupakan siapa bang Axel!” Ucap Daniel dengan santai sambil menatap mereka satu persatu. Ia juga heran kenapa mereka bisa melupakan identitas seorang Axel.


EH


Akhirnya mereka ingat dan langsung tepok jidat bahkan sampai melupakan siapa Axel.


“Astaga! Kenapa bisa pikun begini, pantasan para polisi menghentikan pencarian begitu saja”


Daniel hanya menatap abangnya itu jengkel.


“Kan emang kenyataan Lo pikun bang!” ucap Daniel pedas membuat Wiliam mendegus.


Angel dan Alina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.


Kemudian, tatapan Alina beralih pada Bianca, “Hahh...kapan kamu sadar nya sayang? Kita semua khawatir banget apalagi suami kamu Axel, dia sangat khawatir sekali” ucap Alina sendu sambil menggenggam tangan sang menantu.



Disisi lain Axel terlihat sedang berbicara lewat ponsel.



“Bagaimana?”



“*Ternyata dugaan bos benar, dia lah pelakunya*”



Axel mengeratkan taringnya mendengar kebenaran tersebut.



“Bawa dia ketempat biasa!” dengan nada suara menahan amarah.



“*T-tapi bos, ada dua orang pria dan wanita memohon untuk tidak membawanya tapi mereka meminta menyerahkan pada pihak kepolisian*”  



Axel terdiam, seperti nya ia tau siapa yang dimaksud.



“Marsel, apa kau lupa siapa dirimu Hah... jangan pedulikan mereka cukup seret wanita gila itu jika tidak...nyawamu sendiri taruhannya!” suara Axel semakin dingin.



“*Baik bos*”




Lalu bergegas membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.



🌿🌿🌿



Malam harinya, Axel kembali menjaga istrinya di RS, ia juga sudah minta yang lain kembali pulang awalnya mereka tidak mau tapi dengan paksaan Axel beberapa kali akhirnya mereka menurut.



Sekarang Axel terus menatap sang istri, “pasti sakit banget” ucapnya lirih melihat perban dikepala sang istri dan salah satu tangannya yang dinyatakan patah.



“Tapi kamu tenang aja aku pasti akan membalasnya lebih menyakitkan” Lalu mengusap pelan perut buncit itu sambil tersenyum kecil.



Ia bersyukur anak dan istrinya masih selamat, jika saja salah satu dari mereka tiada hidupnya pasti semakin kelam bahkan ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri hidup jika salah satu cahaya hidupnya menghilang.



Sesaat masih terlena pada istrinya tiba-tiba ponselnya bergetar. Saat melihat nama Marsel terpampang langsung ia angkat.



“Hm...”



“*bos mereka akhirnya pasrah tapi tetap meminta jangan terlalu keras dan jika telah puas mereka meminta diserahkan pada pihak polisi” jawab Marsel dari* *seberang sana*.



Axel terdiam cukup lama, bagaimana pun ia sangat berat sekali melepaskan musuhnya bahkan belum pernah terjadi, namun sekarang tiba-tiba saja ada orang yang punya keberanian meminta. Cukup lama akhirnya Axel menerima keputusan tersebut karena mengingat permintaan istri tercintanya.



“Baiklah”



Mendengar keputusan Axel, Marsel cukup kaget karena tidak pernah terjadi. Namun, ia tetap mengikuti sesuai perintah.



“*Baik bos*”



Setelah panggilannya terputus, Axel menatap Bianca sejenak lalu beranjak memasuki kamar mandi.



Di tempat lain, tepatnya di markas ruangan bawah tanah, terlihat seorang wanita diikat di sebuah tiang dengan mulut di lakban. Sambil menatap takut seseorang berdiri tegap di depan yang sedang menyeringai lebar.


“Hey...nona ******, kaget ya, Hahaha.... makanya jangan cari masalah!” seseorang itu berbicara penuh ejekan yang lain adalah Marsel.


Wanita itu terus memberontak dan bergumam tak jelas. “Hmm...”


Marsel menatap dengan hina sambil mengelus-elus sebuah pisau tajam untuk menakut-nakuti wanita tersebut.


“Lo tau Liana... sebenarnya bos sudah berbaik hati dengan tidak membunuh Lo dari dulu. Dan sekarang hias... sungguh keberanian besar mencoba membunuh istri bos!”


Yap, wanita itu adalah Liana alias mantan Axel. Liana semakin ketakutan menatap pisau tersebut. Marsel semakin mendekat membuat Liana menegang. Saat tinggal se inci lagi Marsel mengeluskan pisau tersebut pada wajah Liana.


“Padahal gue pengen banget menggores wajah mulus ini tapi... karena bos yang akan melakukan nya jadi hari ini Lo aman” lalu Marsel menarik pisau kembali sambil berjalan menjauh dari Liana. Saat hampir sampai depan pintu ia kembali berbalik dan berkata, “persiapan diri Lo untuk permainan besok, Hahaha...!”


Dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Liana meringkuk ketakutan. Liana hanya bisa menangis menyesali semuanya. Jika ia tau akan begini mungkin ia tidak terlalu akan terobsesi. Sekarang ia hanya bisa meratapi nasibnya sebelum disiksa sampai mati oleh Axel.


“Kenapa nasib gue jadi begini? Semua gak adil, gue cuman ingin bersama Axel tapi mengapa? Mengapa..?” Liana terus berteriak dalam hatinya.


Di tambah ruangan tersebut menyeramkan dengan bau amis menyengat membuatnya semakin ketakutan.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT