My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Cengeng



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


... ----------------...


...----------------...


AAARRGHHH...


Teriak kesakitan dari seorang gadis di siksa oleh seorang pria yang tak lain adalah Axel yang baru balik dari Prancis sejam yang lalu.


“berisik!” bentak Axel sambil menarik kuat rambut gadis itu. Kondisi gadis itu tampak sangat prihatin wajah sudah tak terbentuk ditutupi oleh darah.


“A-apa salahku!” Racau gadis itu frustrasi menahan rasa sakitnya. Axel tersenyum sinis, “Salahmu karena melukai istriku!” ucap Axel dingin.


Kemudian, dengan santai Axel memotong jari-jari gadis itu dan lanjut mencongkel kedua mata itu, dia terlihat sangat menikmati melakukan nya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“AAAAKKH...s-sakit bangs-at!” tangis pilu dan rintihan menyakitkan terus terdengar dari ruangan bawah seperti melodi bagi Axel. Bahkan bawahannya merinding mendengar nya walaupun mereka sudah sering mendengar dan melihat nya tapi tetap saja bosnya sangat kejam dan pscyopat berdarah dingin.


“Sangat menjijikkan!” Axel meludahi wajah gadis itu dengan jijik.


“Umm...” dengan sekali tarikan Axel memotong lidah itu.


“Karya ku sangat indah sekali” Axel tertawa jahat melihat gadis itu telah memandikan darah sungguh sangat menyedihkan.


Gadis itu tak lain adalah Yola yang ditangkap para bawahannya di club’ waktu itu. Kedua temannya Cici dan Tita bahkan langsung pingsan melihat keadaan Yola.


“Siram dengan air dingin” perintah Axel pada bawahannya sambil duduk di kursi yang telah tersedia.


Byuur...


Bahkan Yola tidak dapat mengeluarkan suara lagi tenggorokan terasa kaku ditambah lidah telah di potong.


“lempar ke kandang Joy!” perintah Axel dingin pada salah satu bawahannya.


Dengan kasar dia menyeret Yola yang masih bernyawa tepatnya merenggang ke kandang Joy dan melemparnya seperti bola.


Buk


Joy melihat mangsa langsung menyatap dengan ganas.


 


Kemudian, tatapan Axel beralih menatap Cici dan Tita yang masih belum sadarkan diri.  “Kalian nikmati kedua ****** itu kemudian, siksa dan lempar ke kandang Joy” ucapnya pada beberapa bawahannya yang lagi berdiri depan pintu masuk.


“Baik bos dengan senang hati” jawab mereka dengan senyuman dingin dan melaksanakan perintah Axel.


Axel hanya berdeham lalu keluar dari ruangan itu dan pergi naik lantai atas untuk bersih-bersih dan mengganti jas dan kemeja putihnya yang terkena darah.


“Hufff... melelahkan!” desahnya pelan sambil membuka kancing kemeja nya.


🌿🌿🌿


Tepat pukul 02.00 malam, Axel sampai di mansion dan bergegas memasuki kamarnya.


Ceklek


Saat membuka pintu matanya tepat melihat istrinya telah tidur pulas di atas tempat tidur, namun sesekali dia terlihat gelisah entah karena apa?


“Dia semakin menggemaskan!” ucap Axel terkekeh pelan.


Tanpa membuka jas dan kemeja nya Axel menaiki tempat tidur dan mengecup kening istrinya. Lalu memeluknya. “Hmm...” gumam Bianca tak jelas tanpa sadar ia malah memeluk Axel kembali sambil menyelusupkan kepalanya di dada Axel.


Axel tersenyum kecil sambil mengusap-ngusap lembut rambut hitam istrinya.


“Nyaman banget ya” kekeh Axel merasakan ketenangan Bianca tidur dalam pelukannya. Kemudian, ia ikut memejamkan matanya karena matanya juga terasa berat sekali.


 


Ayam sudah mulai berkokok, matahari telah terbit dari ufuknya. Kedua sejoli masih belum terusik dari tidur lelapnya. Tak berselang lama kemudian, salah satu dari mereka membuka matanya.


“Umm...kok nyaman ya, bau parfum nya kok kek kenal?” gumamnya dengan suara seraknya, dia tak lain adalah Bianca. Beberapa saat setelah itu, dia tersadar dan melonggarkan pelukan itu lalu mendongak keatas untuk memastikan nya.


“Mas Axel, kok...” Bianca kaget sejak kapan suaminya ini pulang, pantas aja tidurnya nyaman.


“sudah bangun, Hm!” ucap Axel yang ternyata telah bangun tepatnya saat Bianca bergerak tadi dia bangun tapi tidak membuka matanya.


“Mas kok kamu udah balik aja, bukannya besok ya?” tanya Bianca kebingungan tapi juga senang bersamaan.


“sudah selesai. aku takut nanti istri aku ini makin tersiksa jauhan terlalu lama dari akunya, kasihan aku liat mata kamu hitam kek panda!” ucap Axel tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


“tau lah di setiap sudut kamar maupun luar ada cctv ama kamera tersembunyi sayang!” jelas Axel sambil menunduk menatap wajah cemberut istrinya.


“Berarti kamu liat semuanya dong...”  Axel mengangguk cepat. “Terus kamar mandi juga ada?” tanya Bianca lagi dengan tatapan curiga.


“Kecuali itu sayang” jawab Axel.


Bianca menjadi lega, “ya udah lepasin pelukannya aku mau mandi” ujar Bianca sedikit merasa sesak dengan pelukan Axel.


“Fine, but morning kiss baby!” ucap Axel setelah melonggarkan pelukannya dan duduk diikuti oleh Bianca.


“Come on, dear!” sambil memanyunkan bibirnya beberapa senti pada Bianca.


Bianca tak bergerak dia hanya menatap bibir Axel yang terlihat lucu baginya. “Mas jangan kek gitu deh, pengen cubit tau gak!” kata Bianca gemas.


Axel menaikkan sebelah alisnya menggoda, “silakan tapi pakai bibir ya!” ucapnya genit.


“Gak mau!” bantah Bianca lalu bangkit, namun langsung ditahan Axel menarik tengkuk nya dan...


Cup


Awalnya hanya diam kemudian Axel ******* dan memperdalam ciumannya. Bianca cukup kaget tapi akhirnya mengalah dan membalas ciumannya.


Beberapa detik ciuman mereka berhenti, Bianca ngos-ngosan dibuatnya. Entahlah suaminya itu semakin lama semakin ganas dan bertenaga dan mungkin esoknya Omes nya semakin meningkat.


“Sweeter dear!” ucap Axel sambil mengusap bibir Bianca yang sedikit tebal gara-garanya.


“Ck...” decak Bianca jengah dan bangkit dari tempat tidur memasuki kamar mandi.


“Mandi bareng yuk!” dengan cepat Axel mengikuti Bianca masuk dalam kamar mandi. Tanpa aba-aba membuka pakaian atasnya.


“Ih mas, aku mau mandi sendiri enggak mau sama kamu” pekik Bianca mengentakkan kakinya kesal.


“Kenapa? Kan biar cepat selesainya” kata Axel datar.


“Maaas...jangan buat aku makin kesal deh! Aku bilang enggak mau ya enggak mas!” bentak Bianca memerah karena saking kesalnya.


Axel terdiam dan menatap tajam Bianca, “kamu bentak aku!”


“Ya sudah”


Bam...


Axel berbalik keluar dan menutup pintu itu dengan kasar. Membuat Bianca terlonjak kaget. “Mas Axel marah” tanyanya agak takut padahal dia enggak sengaja. Tapi di tetap melanjutkan ritual mandinya.


15 menit Bianca selesai mandi, saat keluar dia tidak melihat suaminya. “Benaran marah ya!” cemas Bianca.


Saat akan membuka pintu keluar dari kamar, Axel masuk sambil mengusap rambut basah nya dengan handuk kecil dengan pakaian telah berganti.


“Mas...” cicit Bianca pelan rada takut. Axel tidak menoleh hanya melongos tanpa menjawab.


Bianca mengikuti langkah Axel sambil menarik-narik pelan ujung kaos Axel. “Mas, jangan marah dong. Aku enggak bermaksud gitu!” rengek Bianca dengan suara sedikit bergetar, entah kenapa dia jadi cengeng pen nangis dicuekin begitu.


“Mas, hiks!” panggil nya lagi dengan isakan lolos begitu saja dari bibir nya.


Axel jadi kaget dan berbalik, “kenapa jadi nangis gini sih?” heran Axel sambil mendekap erat tubuh mungil itu.


“Makanya jangan marah, jangan cuekin aku. Aku minta maaf!” oceh Bianca sesenggukan.


Axel semakin merasa bersalah, padahal niatannya cuman ingin ngerjain tapi malah jadi begini.


“Iya, maaf deh. Aku enggak bakalan gitu lagi”


“Janji ya, jangan sampai kamu siksa aku!” ucapnya. Axel mengernyit, “ngapain aku siksa kamu? Enggak usah berpikir aneh-aneh deh”


Bianca tak menghiraukan selesai melepaskan dekapannya, dia malah melongos pergi keluar dari kamar.


Axel melongo heran, “tadi aja nangis-nangis sekarang main pergi aja!” dumel nya pelan sambil geleng-geleng kepala.


 


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT