My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Rencana Liana



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Disisi lain di suatu tempat terlihat sepasang suami istri merenungkan nasibnya yang sial.


“Aku gak nyangka kita akan berakhir seperti ini!” Keluh istrinya.


“Kamu bisa gak sehari saja tidak mengeluh, sekarang itu kita perlu memikirkan pekerjaan yang harus kita cari agar kita masih bisa makan!” ucap suaminya yang tak lain adalah Fiki dan istrinya yang tak lain adalah Naura.


Naura mendegus, “ini semua karena kamu kalo saja kamu tidak gegabah semua nya enggak akan terjadi!”


Fiki tertawa hambar, “Apa? Kamu bisa-bisa nya cuman nyalahin aku seharusnya kamu ngaca, siapa yang mengusulkan lebih awal bukannya kamu. Sekarang nyalahin aku, seharusnya kamu sadar diri sebelum menyalakan aku terus!”


“Cih, kalo bukan kamu menyetujui perkataan pak tua itu kita pasti gak bakalan begini” bantahnya lagi.


Fiki tertawa, “Hahah... sekarang kamu sadar, apa kamu punya rasa bersalah pada Reynand bukanya dia kakak mu!” ejeknya.


Naura terdiam sambil menatap kesal arah suaminya.


“Gak usah banyak omong lagi kamu, sekarang cari kerjaan sana jangan mengejek terus. Kamu itu sebagai lelaki harus bisa cari uang, sekarang kita gak lebih dari orang miskin” Ucap Naura menceramahi suaminya.


“Seharusnya kamu bawa semua fasilitas kita”


“Kamu masih ngomong itu lagi, apa kamu buta hah? Gak liat bawahan anak itu membakar semuanya!” pekik Naura marah menatap tajam sang suami.


Fiki mendecih dan keluar dari rumah. Sekarang mereka tinggal di rumah kontrakan Yap untung ada uang cukup untuk menyewa kontrakan selama sebulan kalo tidak, tidak tau seperti apa nasib mereka.


Axel memang tidak main-main ingin membuat kedua orang itu menderita.


 ~~~


Di tempat Axel, ia melihat semuanya apa yang terjadi antara sepasang suami istri tersebut karena telah memerintahkan bawahannya mengawasi mereka dari jauh.


“Hahaha... nikmati penderitaan kalian, rasakan bagaimana rasanya hidup miskin!” setelah puas menertawakan kedua orang tersebut ia beralih menatap berkas pekerjaan nya.


“Tidak pernah membiarkan ku tenang sebentar saja” dumel nya.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan dari luar.


Tok tok tok


“masuk!”


Lalu terlihat masuk seorang wanita berpakaian terbuka dengan membawa sebuah berkas.


“Apa kau niat bekerja!” ucap Axel dingin tanpa menoleh dari berkas dipegangnya.


Wanita itu langsung menghentikan langkahnya dan terdiam kebingungan


“Maksud bapak!” tanyanya dengan suara dibuat selembut mungkin.


“Apa ada selain anda!” masih dingin dan terkesan tajam.


Wanita gelagapan dengan tangan gemetaran ia menyerahkan berkas tersebut.


Dengan tenang Axel mengambil dan menandatangani nya.


“Silakan keluar. Cara berpakaian mu tolong diperbaiki jika tidak angkat kaki dari tempat saya!”


“Baik pak” sambil menunduk takut wanita itu cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut.


Sesampai diluar ia langsung bernafas lega, “sial! Hawanya berbahaya banget susah benar buat dapatin hati tuan Axel, ternyata benar apa yang dibilang Liana” gumam Wanita itu sambil mengusap dadanya yang masih terasa berdebar.


“Ehem, ngapain kamu masih berdiri di sana!” mendengar suara dingin seseorang wanita itu tersadar saat melihat siapa orangnya ia menunduk malu.


“Tuan Marsel, maaf saya permisi”


Marsel hanya menatap dengan tajam sambil bersedekap dada.


“Cih, wanita murahan!” Lalu melanjutkan langkahnya memasuki ruangan kerjanya.


~~


Di tempat lain tepatnya di sebuah apartemen terlihat Liana terus memutar-mutar ponselnya.


Saat ponsel tersebut berdering dengan cepat ia angkat. “Bagaimana?”


“ternyata Lo benar nyet susah banget buat dapatin perhatian dia, dingin banget” jawab temannya yang tak lain wanita di kantor Axel tersebut.


“misi ini jangan sampai gagal, awas kalo gagal gue sita semuanya”


“Iya iya, gak usah ngancam juga nyet”


“Ingat jangan sampai Lo berani sentuh dia, sampai besok Lo harus bisa masukin sesuatu ke minuman dia. Jika berhasil langsung kabarin gue”


“Siap nyet, tapi ingat bayaran nya harus dua kali lipat”


Liana memutar bola matanya melas, “ck, iya iya, Lo tenang aja”


Wanita bernama Anita itu hanya tertawa lebar. Mendengar itu Liana semakin mendegus.


“Dan untuk wanita ****** itu, Ck... tunggu saja permainan untuk mu”


Liana tertawa jahat antara gembira karena rencananya akan terlaksana kan.


“Hm, bukannya ini pria yang menyukai wanita itu sejak lama. Heh... tenang saja boy Liana ini akan membantu mu mendapatkan wanita itu biar rencana ku bersama Axel tak ada yang mengganggu” Liana tersenyum licik sambil menatap selembar foto yang ia dapatkan dari orang suruhannya.


 


“Rencana mu akan menjerumuskanmu memasuki kandang singa Liana!” ucap seseorang.


🌿🌿🌿


 


Selesai dari kampus Bianca pergi jalan-jalan bersama Dinda.


“Bi, kamu udah bilang suami kamu!” tanya Dinda yang lagi menyetir mobil.


“Ya Allah, aku lupa untung kamu ingatin Din!”


Dinda tersenyum, “Dasar pelupa”


Lalu Bianca mencari kontak suaminya dan mengirim pesan padanya.


“Hufff...udah”


“Gimana? Dia izinin”


Bianca mengangguk lega, “asalkan pulang cepat katanya”


“Ya udah, kita kemana dulu nih. Apa belanja dulu aja, udah lama gak belanja bareng”


“Boleh juga” jawab Bianca mengangguk setuju.


Tak cukup lama mereka sampai di Mall X'D City tempat belanja favorit bagi para anak muda.


“yuk masuk”


Selama beberapa jam mereka menghabiskan waktu menjalani setiap tempat perhiasan maupun pakaian berkualitas lainnya.


 


Dari jauh terlihat seorang wanita memakai kacamata hitam dan menutupi setengah wajahnya terus menatap kearah Bianca dan Dinda berada.


“Kebetulan sekali, cih...senang banget hidupnya bisa belanja ditempat para konglomerat. Di saat pacaran dengan ku dia tidak pernah membawaku belanja ditempat ini dan sekarang melepaskan wanita itu berkeliaran di sini, Ciihh...”


Dengan langkah arogan ia pergi menghampiri Bianca dan Dinda yang lagi sibuk memilih-milih pakaian laki-laki.


Pegawai disana melihat seseorang pengunjung langsung menyambut dengan ramah, “silakan mau pilih yang mana nona!”


Liana, Yap wanita itu Liana, ia hanya membalas dengan tersenyum arogan, “Saya hanya ingin melihat-lihat, Hm...jika boleh tau nona yang disana ingin memilih yang mana” ucapnya sambil menunjuk arah Bianca.


Pegawai itu tersenyum ramah, “semua barang yang paling berkualitas tinggi, Apa nona juga ingin memilih untuk pasangan nya”


Mendengar jawaban pegawai tersebut Liana semakin marah, “wanita sialan! Axel sangat memanjakan dia Cih!”


“Tidak terimakasih” dengan hati dongkol ia pergi dari sana.


Pegawai itu hanya menatap kepergian Liana sinis. “Cih, ternyata cuman bermodal menyombong diri saja” mencibir kepergian Liana. Lalu kembali beralih menghampiri Bianca dan Dinda.


“Gimana kalo yang ini Bi lebih elegan!” ujar Dinda sambil menunjuk jas dan celana berwarna biru gelap.


“Nah pasangan nya cocok yang ini, biar couple” Menunjuk gaun dengan warna sama.


Bianca terkekeh pelan, “kenapa gak buat kamu aja Din”


Dinda mengernyit, “boleh aja sih tapi pasangan siapa coba gak mungkin aku kasih Faisal”


“Bukannya kamu suka kak Marsel, kenapa gak buat dia aja”


Dinda cemberut, “bii... jangan menggoda aku terus” rengeknya sebal.


Bianca tertawa, “enggak kok, siapa yang menggoda kamu perasaan kamu aja kali”


Dinda mendegus, “serah kamu aja deh”


“Udah jangan ngambek dong bercanda kok”


Dinda hanya berdeham.


“Ini semua ya mbak” ucap Bianca pada Pegawai tersebut.


“Baik nona, mohon tunggu sebentar”


Beberapa menit kemudian setelah selesai mereka menaiki lantai lainnya.


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


Â