My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Kekhawatiran Axel



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Sesampai di depan gedung perusahaan Xander Grup. Bianca bergerak melangkah masuk kedalam. Setiap berpapasan dengan pegawai disana mereka selalu menyapa Bianca dengan ramah dan sopan. Mau bagaimanapun Bianca adalah istri dari Axel.


Bianca hanya tersenyum sebagai balasannya. Sampai didepan ruangan resepsionis ia berhenti.


“Selamat datang nyonya. Silakan masuk nyonya tuan telah menunggu di dalam” ucap resepsionis dengan ramah karena sebelumnya tuan Axel telah mengatakan padanya tentang kedatangan nyonya Bianca.


Bianca yang awalnya akan bertanya tidak jadi dan mengangguk sambil tersenyum.


“Baiklah. Terimakasih” setelah berkata itu Bianca pergi memasuki ruangan kerja suaminya.


Dengan pelan ia membuka pintunya, namun saat masuk ia tak melihat suaminya hanya Marsel dan seorang pria yang ia kenal Wiliam saudara kandung Axel yang berarti Abang iparnya.


“Mas Axel mana Kak?” Bianca bertanya pada Marsel dan ikut duduk di salah satu sofa kosong.


“Di toilet” Jawab Marsel singkat.


Bianca hanya mengangguk, lalu mata beralih kepada Wiliam yang terlihat agak pucat. Entah kenapa ia merasa ada yang tak beres dari raut wajah Abang iparnya itu.


Marsel sendiri tidak menyadari karena mata teralih pada handphone yang dipegangnya.


Karena tak tahan ingin bertanya akhirnya Bianca bersuara, “bang Wili kenapa? Pucat banget” tanya Bianca dengan nada sedikit khawatir.


Mendengar pertanyaan Bianca, Wiliam agak kaget, begitupun dengan Marsel yang ikut menatap Wiliam.


“Ah itu aku cuman lagi kurang enak badan makanya sedikit pucat” jawab Wiliam sedikit berbohong sambil tersenyum kecut. Padahal kepala mulai terasa sakit lagi bahkan penglihatannya terlihat sedikit berputar.


Bianca hanya mengangguk percaya saja karena ia tidak mengetahui tentang penyakit Wiliam. Hanya Axel dan Marsel yang tau.


Melihat itu, Marsel merasa Wiliam berbohong apalagi saat melihat wajahnya sangat pucat sekali.


Saat akan berbicara langsung terhentikan dengan suara langkah Axel yang berjalan mendekati mereka.


“Mas...” ucap Bianca terdengar sedikit manja ditelinga Axel.


Axel tersenyum dan mengecup kening istri tanpa memikirkan kedua jomblo yang memperhatikan.


“Ish...mas ada orang lain loh main cium-cium aja” tegur Bianca yang malu karena dilihat oleh kedua pria jomblo tersebut.


Axel hanya acuh, “biarkan saja” lalu ikut duduk sebelah Bianca.


Marsel mendegus dalam hatinya, “bos sialan! Gak tau apa gue jomblo mesra-mesraan didepan gue”  


Berbeda dengan Wiliam ia tidak terlalu menghiraukan karena sibuk dengan menahan rasa sakit di kepalanya.


Mata Axel menatap lekat wajah dan ekspresi Wiliam seperti menahan sakit ditambah wajah pucat.


Walaupun dari luar tak terlihat peduli, namun dalam hatinya sangat khawatir sekali dengan keadaan Wiliam.


Saat itu tiba-tiba saja ia melihat keluar darah dari hidung Axel, dengan cepat Axel menghampiri Wiliam.


“sel bantu kita harus kerumah sakit sekarang!” ucap Axel dengan cepat saat melihat Wiliam yang hampir kehilangan kesadarannya. Namun, ia tampak tersenyum saat melihat kekhawatiran Axel adiknya.


Dengan cepat Marsel membantu bosnya membawa Wiliam keluar memasuki mobil.


Bianca yang kurang mengerti tampak kebingungan tapi saat melihat keadaan Wiliam ia juga ikut khawatir.


Para pegawai yang melihat siapa yang dibawa bosnya tampak keheranan namun, tidak berani bertanya.


Sesampai di luar, mereka memasuki Wiliam kedalam mobil dengan Axel terus berada di samping Wiliam.


Bianca juga ikut masuk dan duduk di samping kiri Wiliam.


“Mas... sebenarnya bang Wili sakit apa?” tanya Bianca sebab dari tadi pertanyaan itu selalu ingin ia tanyakan.


“Nanti aku jelaskan, yang terpenting sekarang kita harus cepat sampai dirumah sakit” jawab Axel dengan nada penuh kekhawatiran walaupun tak terlalu terlihat dari raut wajahnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya sampai di rumah sakit yang tak lain adalah milik Axel sendiri. Dia juga sangat kenal dengan dokter yang menangani Wiliam selama ini.


Wiliam langsung dengan cepat ditangani oleh dokter, keadaan Wiliam juga sudah tak sadarkan diri.


Sambil menunggu pemeriksaannya, mereka menunggu dengan gelisah di luar. Untuk Axel dia tidak terlalu melihat kegelisahan nya seperti Bianca dan Marsel. Ia hanya duduk diam dengan tatapan luruh ke depan.


“Mas, sebenarnya bang Wili sakit apa? Tidak mungkin kan itu hanya kurang sehat” tanya Bianca lagi sangat ingin tau.


Axel hanya diam tanpa ingin menjawabnya, karena pikirannya masih dipenuhi dengan kondisi Wiliam.


“Biar saya saja yang cerita nyonya” ucap Marsel karena tak yakin saat melihat kediaman bosnya.


Lalu Marsel menceritakan semuanya tentang kondisi dan penyakit Wiliam.


Setelah mendengar semuanya dari Marsel, Bianca kaget tak percaya. Ia tidak menyangka penyakit ganas seperti itu yang diderita Abang iparnya.


Pantas saja Axel terlihat khawatir sekali, mau bagaimanapun Wiliam itu saudara kandungnya. Walaupun pernah menyakiti nya.


Dengan lembut ia mengusap bahu suaminya. “Yang sabar mas, aku yakin bang Wili pasti mampu melawan nya. Yang terpenting  kamu jangan dingin dan acuh lagi sama bang Wili, kamu harus beri semangat biar dia menjadi semangat melawan penyakitnya!” ucap Bianca dengan lembut. Karena ia cukup tau Wiliam sangat ingin sekali disayangi dan dekat lagi dengan Axel.


Axel tak menjawab, ia hanya terus menatap pintu yang masih tertutup. Tak lama kemudian, pintunya terbuka keluar dokter wanita yang menangani Wiliam. Dia mendesah panjang sambil menatap kearah Axel dengan tatapan tak bisa dijelaskan.


“Bagaimana! Kau bekerja dengan benar. Kalo tidak silakan angkat kaki dari sini!” kata Axel dengan dingin dan tatapan tajamnya seperti ingin menelan dokter itu hidup-hidup.


Dokter itu langsung mengeluarkan keringat dingin mendengar semuanya.


“S-saya telah bekerja dengan benar tuan. Namun...”


“Langsung ke intinya!” potong Axel yang tak ingin bertele-tele.


“Eheem...” deham dokter itu berusaha menghilangkan kegugupannya.


“Penyakit tuan Wiliam semakin parah, padahal dia telah melakukan mengobat rutin selama namun, sangat susah disembuhkan...” belum juga selesai langsung dipotong oleh Axel lagi.


“Siapkan jet, bawa dia ke L.A” perintah Axel kepada Marsel yang langsung dilaksanakan oleh Marsel.


Dokter itu terdiam kaku, namun dia tau maksud dari Axel.


“Kau juga ikut dengan Marsel, karena saya tidak bisa pergi sekarang. Besok saya akan menyusul!” kata Axel kepada Dokter tersebut karena dia tau kedekatan Wiliam dengan dokter tersebut tidak seperti seorang dokter ke pasiennya malahan lebih dari itu.


“Baik” jawabnya dengan cepat.


Beberapa menit setelah itu, semuanya telah siap mereka langsung pergi membawa Wiliam pergi ke L.A untuk menjalankan pengobatan.


🌿🌿🌿 


Sekarang Axel menyetir mobilnya menuju mansion bersama Bianca yang berbeda disebelah-Nya.


“Mas, bagaimana dengan mereka? Apa mereka telah mengetahui tentang ini” tanya Bianca, yang dia maksud adalah keluarga Wiliam juga keluarga Axel sendiri.


“Tidak. Wiliam masih merahasiakan nya”


“Terus bagaimana mas, nanti mereka menjadi panik karena kehilangan bang Wiliam secara mendadak” cemas Bianca.


“tidak usah memikirkan mereka, itu urusanku” jawab Axel tersenyum kecil melihat kecemasan istrinya.


Bianca hanya mengangguk singkat dan kembali bertanya sambil menoleh kearah Axel, “hmm... perasaan kamu bagaimana mas, apa kamu sudah memaafkan mereka atau masih ingat membalas dendam!” tanya Bianca dengan hati-hati takut akan membuat suasana hati Axel menjadi buruk.


Axel terdiam sejenak dan menghela nafas dengan berat.


“Belum tau. Aku gak tau harus bagaimana, disisi lain aku sangat ingin memaafkan namun, disisi lainnya aku juga membenci dan ingin membalasnya..” ucap Axel dengan suara rendahnya, dia dalam keadaan dilema.


Bianca hanya menghela nafas panjang mendengar semua ucapan dan keluhan suaminya.


Sesampai di mansion, Axel keluar dari mobil dengan tatapan lesunya. Bianca yang telah keluar langsung memeluk Axel dari belakang.


“Mas... aku sangat mengerti apa yang kamu ragukan. Tapi aku minta sama kamu jangan terlalu menuruti keinginan balas dendam kamu karena mau bagaimanapun mereka tetap keluarga kandung kamu. Apalagi sekarang ini mereka telah menyesali semuanya. Tapi aku juga gak maksa semuanya keputusan kamu”  tutur Bianca dengan suara lembutnya yang masih memeluk Axel.


Axel dengan cepat berbalik dan menatap Bianca dengan tatapan lembut.


“Istri Axel ternyata bijak juga” kekeh Axel menggoda Bianca.


Bianca hanya cemberut mendengar nya.


“Aku serius loh” kesal Bianca.


Axel terkekeh geli dan mengangkat Bianca ala koala dan melanjutkan langkahnya masuk kedalam mansion.


Bianca yang diangkat mendadak seperti itu sangat kesal dan juga malu dilihat oleh para pelayan.


“Mas, turunkan aku!” rengek Bianca sambil menepuk bahu Axel.


Namun, Axel hanya acuh tak peduli dan terus melangkah memasuki lift menuju lantai atas.


Bianca juga akhirnya diam dan pasrah saja karena sudah bosan merengek yang bahkan tak dihiraukan Axel sama sekali.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT