
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Di depan gedung perusahaan Xander Grup terlihat seorang wanita berpakaian cukup terbuka dengan rambut pirang panjang.
“Gue harus bisa masuk kedalam dan bertemu Axel bagaimanapun caranya” gumam wanita tersebut yang tak lain adalah Liana.
Dia juga telah menyamarkan tampilan dan wajahnya biar bisa lolos masuk.
Setelah cukup lama berdiri, ia langsung bergegas masuk.
Saat sampai didepan meja resepsionis, ia berhenti dan menatapnya.
“Apa tuan Axel ada!” tanya Liana dengan nada arogannya.
“Tuan ada nona, apakah nona telah memiliki perjanjian dengan tuan” jawab resepsionis tersebut dengan ramah.
“Sudah, sekarang saya harus bertemu dengan dia” ucap Liana berbohong karena sudah tak sabaran ingin menemui Axel.
“sebentar saya hubungi tuan dulu” ujar resepsionis itu yang akan memanggil Axel lewat telepon kantor. Namun, langsung dihentikan oleh Liana.
“Tidak usah, saya akan masuk sendiri” tegas Liana sedikit membentak.
“Bukan begitu nona tapi tuan sekarang sedang bersama nyonya jadi saya harus memberitahu tuan terlebih dahulu”  jelas resepsionis itu sedikit tak suka dengan bentakan Liana.
Mendengar itu, Liana sedikit kebingungan. Dengan cepat dia pergi ke ruangan Axel.
Sang resepsionis melihat itu dengan cepat mengejar dan menghentikan nya tapi terlambat Liana dengan tak sopan memasuki ruangan Axel.
Resepsionis itu telah pucat ketakutan akan kemarahan tuannya.
Didalam Axel yang sedang tiduran dengan bantalan paha Bianca terbangun mendengar suara pintu dibuka.
“Siapa!” tanyanya pada Bianca karena dia terlalu malas membuka matanya.
Bianca hanya terdiam karena tidak mengenal wanita yang masuk tanpa izin.
“Axel”
Mendengar suara itu Axel dengan terpaksa bangun dari tidur nyaman nya.
Dan terlihat seorang wanita paling ia benci. Raut Axel langsung berubah datar dengan tatapan tajam nya.
“Siapa yang mengizinkan kau masuk!” dingin Axel terdengar marah.
“Axel...” Liana memasang wajah sedihnya tapi saat melihat kearah Bianca ia langsung kesal dan benci.
Axel sangat muak dan jijik melihat tatapan dan raut dibuat-buat Liana.
“Apa kau masih belum mengerti hah! Sekarang keluar dari ruanganku!” bentak Axel dengan suara sedikit keras.
Resepsionis tadi mendengar suara marah tuannya dengan cepat memanggil satpam.
Liana tetap tidak mau keluar, dia malah dengan berani mendekati Axel.
“Axel, aku minta maaf hiks... maafin aku Axel, aku gak mau kehilangan kamu lagi...” tangis Liana yang akan memeluk Axel.
“Jangan pernah kau sentuh saya karena kau tidak layak”
“Axel kamu kenapa secepat itu melupakan aku? Apa karena wanita sialan itu!” sambil menunjuk ke arah Bianca dengan tatapan bencinya.
“Kau dasar wanita murahan! Kau pikir kau pantas untuk Axel hah! Dasar wanita sialan!” bentak Liana mencaci Bianca. Bianca sangat marah sekali mendengar cacian Liana namun, ia hanya bersabar dan tak menghiraukannya.
Axel semakin marah mendengar ucapan kurang ajar Liana.
“Jaga ucapanmu!” bentak Axel dengan mata telah merah karena marah.
“Kalian cepat seret wanita kurang ajar ini keluar, jangan sampai saya melihatnya lagi” perintah Axel kepada dua satpam yang telah berada di depan pintu.
Dengan cepat mereka menyeret Liana dengan paksa keluar.
“Lepaskan saya” Liana terus memberontak sambil mengumpati kedua satpam tersebut.
“Axel...” Liana terus memanggil Axel.
Semua pekerjaan disana hanya menatap kasihan dan jijik pada Liana.
Marsel yang tau dengan cepat menegur dan memarahi resepsionis dan penjaga karena membiarkan Liana masuk.
“jangan sampai terulang lagi kalo tidak ingin bos Axel semakin marah” kata Marsel.
“Baik tuan kami tidak akan teledor lagi”
Setelah mengucapkan itu, Marsel kembali ke ruangan nya.
Untuk Liana jangan ditanya lagi, dia sangat marah sekali dan semakin membenci Bianca yang telah merebut Axel darinya.
🌿🌿🌿
Kembali ketempat Axel.
Setelah Liana diseret keluar, Bianca terus menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya. Dia juga tak berani bertanya langsung karena melihat suaminya masih marah.
Axel telah duduk di kursi kerjanya sambil mengusap kasar wajah nya dan menatap istrinya dengan tatapan melembut tidak tajam lagi.
“Sini” panggil Axel dengan suara lembutnya.
Bianca hanya menurut, saat telah dekat Axel langsung menarik Bianca duduk di pangkuannya.
“Ah...” pekik Bianca terkaget dengan mata melotot.
Axel hanya tersenyum dan mencium bibir istrinya. Bianca yang mendapat serangan mendadak hanya pasrah saja. Karena dia juga menikmatinya.
“Ughh...” ciuman Axel semakin liar dan panas sampai membuat Bianca mengeluarkan suara aneh.
Tiba-tiba Axel langsung mengangkatnya dan pergi ke kamar tanpa menghentikan ciumannya.
Saat telah berada di atas tempat tidur, bibirnya turun ke bawah telinga Bianca menjilat dan menciumnya.
“Aahh...” desah Bianca sambil meremas rambut Axel. Nafas dan bibir Axel terasa sangat panas baginya.
Sebelah tangan Axel menarik ke bawah baju yang dipakai Bianca dan terlihat bra berwarna hitam menutupi buah dadanya.
Axel mengarahkan bibirnya kebagian belah dada Bianca.
Suara-suara laknat terus keluar dari mulut Bianca merasakan sensasi sentuhan lembut dan panas Axel.
“Aahh...mas” desah Bianca dengan wajah merona dan tatapan sayu nya.
“Aku menginginkan nya!” kata Axel suara seraknya.
“Tapi ini kan di kantor mas” ucap Bianca.
Axel menyeringai, “berarti kalo dirumah kamu mau kan” ucap Axel yang telah menghentikan kegiatannya.
Wajah Bianca semakin memerah. Tapi ia tetap mengangguk dengan pelan.
“Bulanan mu telah selesai kan” Axel kembali bertanya karena tak ingin menundanya lagi. Dia sudah tak sabaran ingin memiliki Bianca seutuhnya.
Bianca kembali mengangguk tanpa bicara.
Sebuah senyuman terukir indah dari bibir Axel.
“Ini pasti sangat indah” seringai Axel sambil meremas buah dada Bianca yang masih ditutupi oleh bra.
“Aahh...” kaget Bianca yang merasa remasan tangan suaminya.
“awas saja nanti malam kau akan menjadi istri Axel seutuhnya!” bisik Axel ditelinga Bianca sambil mengigit lembut daun telinga nya.
Bianca hanya bisa menahan desahannya karena setiap sentuhan dari Axel selalu membuat tubuhnya bereaksi aneh.
Setelah itu, Axel merapikan baju istrinya dan beranjak dari atas tubuh Bianca.
Bianca masih terbaring sambil menghembus nafas berkali-kali, jantungnya terus berdisko sejak tadi karena ulah Axel.
Axel hanya tersenyum kecil melihat istrinya dan pergi ke kamar mandi.
Sekitar lima menit, Axel keluar dan menghampiri istrinya yang duduk sofa.
“Mas!” panggil Bianca, namun Axel tidak menjawab dia malah menatap kearah leher Bianca.
“kenapa mas! Apa ada yang salah” bingung Bianca sambil mengusap area lehernya.
Axel tidak menjawab yang terlihat hanya senyuman terukir di bibirnya.
Bianca tidak menyadari banyak kissmark di lehernya karena ulah Axel.
“Ah tidak ada kamu hanya terlihat semakin seksi di mataku” ucap Axel asal walaupun itu adalah benar adanya sambil merangkul Bianca dengan mesra.
Bianca hanya tersenyum malu mendengar ucapan Axel.
“Ayo kita pulang” ajak Axel masih tetap merangkul istrinya.
Bianca juga telah memegang rantang yang sudah tak berisi lagi.
Axel juga memanggil Marsel.
“Mau kemana bos!” tanya Marsel yang akan menghidupkan mesin mobil.
Axel tidak menjawab dia malah menatap istrinya.
“Kamu ingin kemana!”
“Umm... pulang aja deh” jawab Bianca setelah berpikir.
“Langsung ke mansion sel” ucap Axel.
Kemudian, Marsel langsung mengendarai mobil nya pergi melaju kemansion.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT