
...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...
...----------------...
...----------------...
Mereka masih menunggu jawabannya tiba-tiba...
Ceklek
Pintu di buka dan terlihat Amanda bersama Angel masuk sambil membawa makanan untuk Alina dan Daniel.
“Eh...” langkah mereka terhenti menatap heran melihat dua orang asing duduk di sofa bersama Alina dan Daniel.
Angel menatap Daniel dengan penuh tanda tanya, Daniel hanya mengedikkan bahunya.
“perkenalkan saya Bianca dan ini suami saya. Kami kesini ingin menjenguk bang Wiliam” Bianca berucap mengenalkan diri sambil tersenyum hangat.
“Bisa dibilang kami teman dekat bang Wiliam” Bianca terpaksa berbohong karena merasa belum waktunya jujur biarlah Axel sendiri mengatakan.
Alina dan yang lainnya mengangguk kepala mengerti dan akhirnya mereka saling kenalan kecuali Axel.
“Mom, bang Wili gerakan jari nya!” pekik Daniel menghentikan obrolan mereka dan menoleh dan menghampiri.
“Kamu benaran Niel?” Alina bertanya dengan wajah penuh harapnya diikuti Amanda, Angel dan Bianca kecuali Axel masih cuek.
Daniel mengangguk cepat, “Daniel gak bohong tapi hanya sebentar”
Mereka tersenyum senang dan berdoa semoga Wiliam cepat sadar sepenuhnya.
Bianca mencubit pinggang Axel pelan, “mas kamu gak senang” bisiknya pelan. Axel tak menjawab namun mengedikkan bahunya.
Bianca menatap dengan horor, “mas, jangan kek gitu dong dia Abang kamu loh” tanpa sadar Bianca mengeraskan suaranya membuat mereka disana menatap dengan bingung.
Axel mengumpat dalam hatinya bibir istrinya benar-benar minta disentil.
Bianca tersadar dengan cepat menutup mulutnya dan melirik Axel yang lagi melototi nya, “mampus aku!”
“A-Axel...”
Tatapan mereka langsung beralih pada Wiliam saat mendengar suara lemas itu.
“Abang/Wili!” panggil mereka serentak saat melihat Wiliam perlahan membuka matanya.
“Alhamdulillah kamu sadar nak!” ucap Alina dan Amanda dengan mata berkaca-kaca karena senang.
“H-haus mom!” Dengan cepat Alina mengambilkan air putih untuk sang putra. Daniel juga dengan cepat menekan tombol untuk memanggil dokter.
Beberapa menit kemudian, masuk seorang dokter bersama seorang suster.
(oh iya soal dok. Naura dia baru saja balik ke Indo kemarin karena ada panggilan mendadak)
Dokter tersebut memeriksa lalu tersenyum lega, “pasien telah sembuh sepenuhnya namun tetap harus melakukan perawatan selama beberapa hari sebelum pulang” ucap dokter tersebut (anggap saja bahasanya bahasa Inggris)
“Syukurlah, terimakasih dok!”
“Sama-sama Bu, kalo begitu saya permisi” kemudian Dokter tersebut keluar diikuti suster tersebut.
Mereka menatap Wiliam dengan wajah berseri.
“Oiya...tadi kamu panggil nama Axel, dia siapa?” Alina akhirnya bertanya penasaran siapa Axel yang di sebut sang anak. Yang lain ikut penasaran menunggu jawabannya.
Wiliam menatap semua satu persatu lalu tatapannya berhenti pada Bianca dan pria di sebelahnya, ia yakin itu Axel tapi ia juga sempat berpikir apakah Axel sudah mengatakan semuanya.
Disisi lain, Axel yang sudah tau maksud itu hanya mendesah berat begitupun Bianca mengusap lembut lengan suaminya.
Mereka berempat ikut mengikuti tatapan Wiliam dan saat melihat objeknya mereka mengernyit.
Axel membalasnya dengan sorotan tajam “Awas saja kau mengatakan lidahmu ku potong!” Namun tidak dihiraukan oleh William.
“A-Axel...Rafa” Wiliam berucap lagi dengan tatapan sayu nya.
“Maksud Abang apasih? Apa hubungan Axel itu sama bang Rafa dan juga kenapa abang malah natap suami kak Bianca!” Daniel bertanya sangat kebingungan begitupun yang lainnya kecuali Axel dan Bianca.
“I-itu...”
“Maaf tante dan semuanya seperti kami harus balik” ucap Bianca dengan cepat memotong perkataan Wiliam.
“Oiya...kak Wili kita pamit ya” pamit nya pada Wiliam tanpa membiarkan Wiliam berucap.
“Baiklah, terimakasih udah jenguk putra tante” ucap Alina tersenyum lembut.
“Iya tante, kalo gitu kita pamit ya semuanya”
“iya, hati-hati” balas mereka kecuali Daniel dan William. Bianca mengangguk lalu menggandeng Axel keluar.
Â
“Maksud kamu/ Abang!”
Wiliam menarik nafasnya pelan dan berkata, “suami Bianca itu Axel dan Axel itu adalah Rafa!”
Deg
Mereka kaget bahkan Angel yang sedang mengabarkan Daddy-nya langsung menjatuhkan ponselnya.
“Abang gak salah kan?”
“Apa itu benar?”
“Kamu gak lagi bercanda kan?”
“Hahh...”
Berbagai pertanyaan terlontar dari ketiganya dengan tatapan berkaca-kaca.
“maksud kamu suami Bianca tadi itu Rafa putra mom dan adik kamu?” Alina bertanya dengan bibir kelu menahan tangisannya. Wiliam mengangguk mantap.
“Dan sekarang nama nya Axel” tanya Amanda dan dibalas anggukan oleh William.
Mereka syok, “kenapa kamu tidak jujur dari awal....”
Belum selesai dikagetkan dengan Daniel berlari keluar menyebut-nyebut nama Rafa berkali-kali. Melihat itu Angel ikut mengejar sang adik.
“Maaf” kata itu terlontar dari bibir Wiliam. “Maaf karena Wiliam tidak mengatakan sebelum nya, Wiliam terpaksa karena permintaan Rafa sendiri!”
Alina menangis begitupun Amanda, “tapi kenapa?” bukan Alina tapi Amanda bertanya dengan suara serak.
“Rafa belum memaafkan kalian sepenuhnya bahkan dengan Wiliam saja dia masih dingin dan kasar”
Wiliam menatap keduanya dengan sedih, dia tidak tega melihat Mommy dan bundanya menangis.
Â
Berbeda hal dengan Daniel terus memanggil dan mencari Axel dan Bianca. Namun, dia tidak menemukan mereka lagi.
“Abang...hiks...” Badan Daniel bergetar hebat karena tidak menemukan yang ia cari.
“Daniel..” Angel menghampiri sang adik, ia juga tak kalah sedihnya.
“bang Rafa kak, dia sudah pergi” racau Daniel. Angel memeluk sang adik.
“Besok kita cari lagi, sekarang kita balik ke kamar bang Wili ya. Kita minta penjelasan padanya”
“Tapi...”
“adek gak usah sedih lagi, besok kita cari sekarang temui bang Wili dulu”
Akhirnya, Daniel menurut dan mengikuti Angel balik ke kamar rawat Wiliam.
🌿🌿🌿
Sekarang Axel dan Bianca berada dalam mobil yang dikendarai oleh Marsel. Dari tadi Axel hanya diam tak berbicara sepatah kata pun.
Bianca hanya mendesah pelan melihat itu, dia tau apa yang dipikirkan suaminya.
Di depan Marsel juga ikut merasa agak canggung, padahal sudah terbiasa tapi entah kenapa berbeda sekarang, “Hm...kita kemana bos?” Marsel bertanya.
“Markas!” jawab Axel singkat dengan mata terpejam tanpa mau membuka.
Marsel mengiyakan, sebenarnya ia masih ingin bertanya namun ia urungkan. Dia melirik nyonyanya lewat kaca tapi syukurlah lah ia tak melihat raut ketakutan ataupun kaget.
Marsel menyetir mobilnya melesat menuju lokasi satu-satunya Markas yang ada di sini/ LA.
Hampir setengah jam kemudian, akhirnya sampai ditempat tujuan. Di depan terlihat sebuah mansion mewah tidak sebesar markas utama di Indonesia namun terkesan seram dan gelap karena lampu remang-remang. Bianca sedikit merinding melihat nya tapi tidak terlalu takut.
Penjaga gerbang dan pintu utama melihat siapa yang datang dengan cepat membuka gerbang dan pintu dan menyambut dengan hormat.
“Selamat datang bos!” (anggap saja bahasa Inggris)
Axel mengangkat sebelah tangan batas bahunya sebagai balasannya lalu berjalan masuk diikuti Bianca dan Marsel di belakang.
Bianca cukup terkesan, karena bagian dalam dan luar sedikit berbeda, diluar terlihat sangat seram dan gelap tapi di dalam tidak terlalu.
Tapi ia tak tau bagian bawah atau ruangan bawah mengingat waktu itu membuat nya merinding dan mual.
“Tenangkan hatimu Bianca, jika punya suami seorang mafia beginilah jadinya” batinnya.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT