My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Wiliam si perjaka tua



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Malam hari, Tepatnya Di ruangan bawah tanah.


Akhh...


Akhh...


A-ampun


Hanya suara rintihan dan tangisan seorang wanita terdengar dalam ruangan tersebut, Yang dilakukan oleh seorang pria tanpa ada belas kasihan sedikitpun.


“A-ampun x-xel!!”


Yap, dia adalah Axel dan si wanita siapa lagi kalo bukan Liana.


Axel tampak tak peduli yang ia inginkan menyiksa dan menyiksa sampai amarahnya terlepaskan.


“Ck, tidak semudah itu *****! Dari awal saya sudah memberi peringatan tapi kau hanya menganggap angin lalu, dan sekarang nikmati saja permainan ku!”  Liana hanya menangis dan pasrah dengan nasib sialnya. Bahkan Axel tak merasa kasihan secuil pun padanya.


Setelah puas melakukan nya, Axel meninggalkan Liana begitu saja keluar dari ruangan tersebut.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Axel meninggalkan Markas tersebut bersama Marsel menuju rumah sakit tempat Bianca dirawat.


Dua hari yang lalu Bianca sudah siuman tapi tetap harus melakukan perawatan beberapa di RS terlebih dahulu.


Selama itu Anita dan Bimo juga sering menjenguk Bianca dan meminta maaf atas perbuatan temannya Liana. Awalnya Bianca cukup berat namun setelah melihat ketulusan mereka Bianca menerima nya walaupun bukan langsung dari orang nya.


Axel sendiri sebenarnya males banget mengizinkan mereka namun karena bujukan Bianca ia hanya mengalah saja. Bahkan mereka dengan berani memohon pada Bianca untuk membujuk Axel untuk melepaskan Liana tapi yang namanya Axel tak akan mau sebelum puas.


 


Setengah jam kemudian, Axel sampai di RS lalu bergegas pergi menuju ruangan rawat istrinya. Saat memasuki ruangan tersebut, disana terlihat Alina dan Dinda sedang mengobrol bersama Bianca.


Saat melihat Axel datang mereka menatap nya sambil tersenyum. “Apa urusanmu sudah selesai nak?” Alina menghampiri Axel karena sebelumnya Axel pamitan pada mereka untuk menyelesaikan beberapa urusannya.


“Sudah mom” Axel menganggukkan kepalanya.


“mom sama Dinda pulang saja biar Axel yang menemani Bianca” Karena hari juga sudah malam ia tidak ingin mommy nya terlalu kelelahan.


Awalnya Alina dan Dinda menolak tapi setelah ucapan dari Bianca akhirnya mereka mengalah dan pergi diantar oleh Marsel.


Setelah kepergian mereka, Axel menghampiri istrinya yang sedang duduk bersandar di ranjangnya.


“Mas, sebenarnya kamu habis dari mana? Apa dari markas kamu itu?” Bianca menatap Axel penuh selidik.


Mendengar pertanyaan istrinya Axel hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Kenapa? Kamu takut aku bunuh orang lagi. Udah...kamu tenang aja aku gak melakukan itu cuman melakukan sedikit permainan!” Mendengar jawab santai Axel, Bianca sedikit lega walaupun ia masih kurang percaya.


“Apa Liana masih kamu tahan mas?” Bianca kembali bertanya sambil menatap intens sang suami. Melihat tatapan itu Axel membuang muka nya dari tatapan itu, karena ia sudah tau apa yang dipikirkan istrinya itu.


“Mas, aku tau kamu marah tapi kamu gak usah nyiksa dia berlebihan, lebih baik kamu serahkan semuanya pada pihak polisi. Apalagi Bimo sama Anita sudah beberapa kali memohon mas, lagian aku sama debay juga baik-baik saja! Aku juga udah maafin dia, walaupun dia jahat tapi kita sebagai sesama manusia harus saling memaafkan kan mas, yang maha kuasa aja maha memaafkan masa kamu enggak!”  Axel merasakan telinga nya sedikit memanas dan gatal mendengar ceramah panjang tersebut, namun entah kenapa ia tidak bisa marah malah berdeham tak jelas.


Bianca sedikit kesal melihat kelakuan suaminya itu, “mas kamu dengar aku gak? Aku gak mau kamu melakukan hal itu, apalagi aku sedang hamil nanti si debat malah ikutin ke kejam kamu”  Bianca tidak ingin anaknya nanti memiliki sifat kejam dan sadis seperti Axel makanya ia melarang Axel melakukan hal-hal kejam untuk saat ini. Tapi ya memang dasarnya Axel itu keras kepala susah dibilangin.


Melihat kekesalan istrinya Axel terkekeh pelan, lalu mengecup kening nya, “udah, gak usah kesal gitu aku dengar kok. Lagian aku gak terlalu kejam kok sama dia palingan sakit sedikit!”  Bianca hanya mendengus mendengar perkataan itu, apa dia bilang sedikit sakit Cih...dasar pembohong, ia yakin Liana disiksa habis-habisan.


“Lagian dia pantas merimanya, siapa suruh sok-sokan mau celakain kamu. Kamu gak usah terlalu baik orang seperti itu harus mendapatkan pelajaran biar sadar diri!”  ucap Axel datar dengan nada malasnya sambil bersedekap dada.


Bianca hanya menghela nafas mendengar nya, “Hahh... begini amat punya suami!” batinnya.


“Sudah, mendingan sekarang kamu tidur jangan memikirkan yang tak berguna”  


Bianca hanya mengangguk karena ia juga telah mengantuk. “Tapi kamu ikut tidur ya” ucap Bianca bergeser memberi ruang untuk Axel tidur bersama nya karena ranjang cukup besar muat dua orang.


Axel mengangguk, sebelum tidur ia membuka jaket hitam yang masih melekat ditubuhnya.


“Mas aku jelek ya?” Axel yang akan memejamkan matanya kembali membukanya dan menundukkan kepala menatap istrinya yang telah berada dalam pelukannya.


“Hahh...siapa bilang?” Axel bingung mendengar pertanyaan secara tiba-tiba itu.


Axel langsung mengutuk Wiliam, lelaki satu itu memang menyebalkan sudah tau istrinya sangat sensitif malah berkata yang tidak-tidak.


“Astaga sayang! Kamu jangan percaya omong kosong perjaka tua itu, dia sebenarnya iri karena masih jomblo”  Axel sangat kesal sekali kalo bukan abangnya sudah ia tonjok sampai bonyok atau perlu ia jahit mulut itu.




Disisi lain, Wiliam yang sedang reunian bersama temannya tiba-tiba ia bersin.



“Hachuu...”



“Siapa yang berani mengutuk gue” gumamnya kesal.



Salah satu temannya melihat itu langsung bertanya, “napa Lo bro”



“Gak papa” sambil menggelengkan kepalanya lalu kembali meneguk minumannya.



“Bro...gue heran ama Lo, apa Lo gak bosan jadi jomblo, ingat bro umur Lo bukan muda lagi nanti lama-lama Lo bisa jadi perjaka tua” ucap temannya satunya lagi.



“bahkan adek Lo udah mau jadi ayah, lah Lo sampai sekarang belum nikah juga, heran gue! Kita aja udah pada punya anak” teman-temannya terus mengejek dan memanas-manasi Wiliam.



Wiliam terlihat kesal sekali mendengarnya, bukannya dia tidak mau tapi belum ada cocok aja. Namun, ia juga sedikit iri pada Axel karena mendapat istri secantik dan sebaik Bianca coba saja ia yang lebih awal ketemu Bianca pasti sudah ia jadikan istri.



“*Hais...kayaknya gue harus ngadain acara cari jodoh deh. Lama-lama gue bisa sakit hati dengarin ejekan mereka, nasib nasib!” batin Wiliam prihatin*. Mungkin kalo didengar yang lain pasti langsung menertawakannya.  



🌿🌿🌿



Beberapa kemudian, Akhirnya Bianca di perbolehkan pulang, rasa lega terlihat di wajahnya karena selama ini ia males banget lama-lama di RS apalagi mencium bau obat-obatan rasanya ingin muntah.



“Setelah ini kamu gak usah masuk kuliah dulu nanti setelah lahiran lanjut lagi, aku gak mau kamu sama dia kenapa-napa lagi” ucap Axel setelah berada mansion, bukan hanya Axel mereka yang lain juga ikutan melarang.



Yang mana membuat Bianca tidak bisa membantah dan hanya mengangguk pasrah.



 



**BERSAMBUNG**...



**LIKE \>\> KOMEN\>\> VOTE \>\> FAVORIT**



Â