My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Hamil



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Terdengar bunyi deringan ponsel membuat Axel terusik dengan berat hati ia menjangkau dan tanpa membuka mata ia angkat.


“Hm...”


“Hallo! Axel kamu masih di LA kan?” balas sang penelepon, dari suaranya ia tau itu om Harris.


“Hm, Ada apa?” dengan nada sedikit males Axel bertanya lagian ngapain nelpon orang pagi-pagi buta begini.


“Kamu baru bangun! Astaga om lupa disana masih pagi. Oiya, om boleh minta tolong gak? Itu loh istri om ngidam minta dibelikan salah satu makanan khas disana dan katanya harus pilihan kamu! Kamu mau kan Xel kalo tidak om bisa di diamin terus. Kamu tidak keberatan kan?!”


Axel terdiam sejenak, ia baru tau mantu kakeknya hamil tua.


“Hm, baik” jawab Axel singkat tanpa keberatan.


Terdengar suara Harris mengucapkan terimakasih dengan antusias. Setelah panggilannya terputus ia menoleh ke samping baru sadar ternyata kosong.


Lalu ia beranjak pergi ke kamar mandi, Ceklek...


Saat pintu terbuka mata melotot melihat istrinya tergeletak di lantai. “Astaga!” ia langsung berjongkok dan mengangkat menuju ranjang.


“Hei bangun!” dengan pelan Axel menepuk pipi itu mencoba membangunkan tapi tetap tidak bangun.


“Hufff...” Dengan raut khawatir Axel menelepon salah satu dokter.


“DATANG DALAM WAKTU 15 MENIT SEKARANG!” tegasnya menekan setiap kata-kata tanpa peduli umpatan dari orang nya yang penting keselamatan istrinya. Lagian jika membantah tinggal pecat saja gampang kan. Ia terus menatap khawatir wajah pucat istrinya.


Tak berselang lama tepat 15 menit tanpa kurang lebih orang di tunggu akhirnya datang nafas sedikit memburu.


“Cepat periksa istriku!” perintah Axel dingin menatapnya dengan tajam.


“B-baik tuan” dengan cepat ia  ia melakukan tugasnya.


“Jaga tatapan dan tanganmu!” dingin Axel memperingati, sebenarnya dia tidak rela “tau begini ku minta dok. Wanita” batin nya tak ikhlas.


Ia terus menatap mengintimidasi arah dokter pria tersebut. “Cepat!”


Arfan itu namanya, ia ingin sekali mengumpat tapi tetap menahannya demi pekerjaan dan uang.


Selesai Arfan tersenyum tipis sambil menghela nafas dan menghampiri Axel.


“Istriku sakit kau tersenyum, kau waras!” bentak Axel geram melihat senyuman itu rasanya ingin ia robek tuh mulut biar semakin melebar.


Arfan mengusap dadanya sabar, “begini tuan, dari hasil pemeriksaan nyonya tidak sakit tapi...”


“Apa! jangan bertele-tele!” dingin Axel garang.


“Ya tuhan, sabarkan lah hati hamba mu ini!” batinnya meringis.


“Maksud saya istri tuan hamil” jawabnya memperhatikan reaksi muka datar itu lalu melanjutkan penjelasan nya, “untuk lebih lanjut lebih baik tuan bawa ke dokter kandungan. Baiklah karena telah selesai saya permisi tuan! Sekali lagi selamat tuan semoga nyonya sehat selalu” 


“Hm”  setelah mendapatkan jawaban dari Axel ia berjalan keluar di antar salah satu bawahan Axel.


Saat telah berada di luar ia bernafas sangat lega sekali. “Dari dulu tuan Axel benar-benar tidak pernah berubah selalu membuat lutut ku bergetar, hah...”gumamnya pelan lalu memasuki mobilnya.


 


Kembali pada Axel, ia terlihat masih kaget tak percaya, Apa? dia akan menjadi seorang ayah! Rasanya masih mimpi, batinnya bersorak.


Lalu sebuah senyuman terukir di bibir tipisnya dan mencium kening istrinya.


“Eughh...” terdengar lenguhan pelan dari Bianca sambil membuka matanya perlahan. Dengan tangan memegang kepalanya masih sedikit pusing.


“H-aus mas!”  Dengan cepat Axel mengambil air putih yang tersedia, lalu memberikan pada istrinya.


Setelah habis ia letakkan gelas kosong tersebut di atas nakas.


“Masih pusing?” dengan lembut Axel mengusap kepala nya. Bianca mengangguk, “dikit mas” jawabnya masih lemas.


“Nanti kita pergi ke dokter” ucap Axel, Bianca mengangguk karena kesehatan perlu diperiksa. Axel tersenyum tipis ia sengaja tidak mengatakan sekarang nanti saja saat periksa.


“mau tapi maunya sushi” jawab Bianca dengan tatapan memohon.


“Tidak” bantah Axel dengan cepat.


“Mas...” rengek Bianca dengan tatapan berkaca-kaca, dia hanya mau sushi tidak yang lain.


Axel mengusap wajah kasar, ia benar-benar tidak tahan dengan tatapan itu, ia menghela nafas sejenak, “baiklah, tapi tidak boleh banyak” ucapnya pasrah. Bianca bersorak senang tak lupa mencium pipi kanan Axel.


Axel pun hanya tersenyum kecut, lalu memerintahkan bawahannya membeli makanan itu. sekarang ia tau kenapa akhir-akhir ini istrinya bertingkah aneh dan mungkin mulai sekarang ia harus ekstra sabar.


🌿🌿🌿


Semenjak balik dari Hospital dok. Spesialis kandungan. Bianca tidak pernah lepas dari senyuman bahagia nya.


Ia hamil tepat anak ia dan Axel, dan kata dokter usianya telah berjalan 15 hari, ia sangat bahagia sekali


“Mas, kamu gak senang ya?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terucap dari bibirnya, wajar lah dari tadi suaminya itu hanya menampilkan wajah datar dan dingin saja.


Axel yang lagi meminum kopinya langsung tersendak,


Uhuk uhuk


Lalu menatap istrinya dengan heran, “kenapa nanya begitu, Hm?”


“Wajar dong aku liat kamu gak ada senyum dari awal balik rumah sakit. Gak mungkin seriawan kan?!”


Oke ia salah


“Sangat senang malah” jawab Axel singkat masih datar membuat Bianca semakin kesal ingin mencakar nya.


“Kalo senang harus senyum dong, kok kamu jadi pelit senyum sih!” Protes Bianca geregetan.


Axel menggaruk tengkuk belakang tak gatal, “ya ya aku senyum nih” ucap Axel berusaha tersenyum semanis mungkin. Jangan sangka ia tak senang tapi karena ia sudah bosan tersenyum tanpa sepengetahuan istrinya.


Bianca hanya menatap agak jengkel, tapi tetap percaya saja karena mau bagaimanapun memang dari sifat sudah seperti itu apalagi wajah datar bin dingin itu terlihat semakin menyebalkan.


 


“ kamu masih lama ngopi nya mas?” tanyanya saat melihat kopi suami masih ada setengah, padahal sudah tau tapi masih juga bertanya.


“Kenapa?” Axel melirik dengan bingung, ada apa lagi nih, batinnya.


“Itu loh mas, kapan sih kita jenguk bang Wili?” 


Axel menatap lekat wajah itu “berminat sekali ingin menjenguk spesial nya dia!” batin Axel tak suka.


“ngapain natap aku segitunya? Baru sadar ya aku cantik!” tanya dan ucapnya sambil tersenyum menaik-turunkan alisnya.


Axel memutar bola matanya males, “sejak kapan dia senarsis ini!” batinnya.


“Nanti malam kita kesana” jawab Axel singkat lalu beralih menatap layar laptopnya.


Bianca mengangguk tapi tatapan nya masih terus menatap Axel. “Kerja terus” dumel nya dalam hati.


“peka dikit Napa sih, ajak istri jalan-jalan kek atau apa kek. Ngapain lama-lama disini tapi kagak diajak jalan-jalan keluar cuman di rumah doang!” sungut nya lalu berdiri, sebelum melangkah ia hentakan kaki beberapa kali.


 


Axel hanya melirik sekilas, jangan kira ia tak menyadari nya, ia sangat sadar tapi tetap cuek untuk hari ini.


“MAS MAIN YUK!” pekik Bianca kencang membuat Axel hampir menjatuhkan laptopnya karena kaget. Bahkan beberapa bawahan nya yang berada di luar ikut kaget.


 


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


 Â