My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Kabar buruk



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Diruang rawat Wiliam mereka terlihat gelisah dan khawatir karena tidak mendapatkan kabar satu pun dari Reynand, Zayn dan Michael dalam dua hari ini.


“Kenapa tidak ada satu pun kabar dari mereka bahkan nomornya saja tidak pernah aktif? Apa terjadi sesuatu?” Alina terus bergumam dengan wajah khawatirnya begitupun Amanda karena nomor sang putra maupun suami tak dapat dihubungi.


“Mom, Bun kita harus positif thinking mereka pasti baik-baik saja!”  Angel mencoba tetap tenang agar mom dan bundanya tidak terlalu ke pikiran.


“Benar mom, sekarang kita fokus mencari Abang Rafa karena bang Wili bentar lagi boleh pulang” Daniel ikut nimbrung karena diotaknya hanya ada bang Rafa tepatnya sekarang Axel.


Mereka hanya menghela nafas berat mendengar apa yang dikatakan Daniel. Terlihat sekali dia sudah tak sabaran bertemu Rafa alias Axel. Apalagi semenjak Wiliam mengatakan dengan rinci tentang Axel membuat Daniel semakin tak karuan.


Wiliam yang masih terbaring diatas brankar hanya tersenyum kecut, “ Daniel Abang tau kamu sangat merindukan Rafa tapi tetap saja kamu tidak boleh melupakan Daddy, ayah ama Michael kita tidak tau apa yang terjadi dengan mereka tapi hati Abang merasa tidak tenang sebelum mendengar kabar mereka” dengan lembut  Wiliam berkata panjang lebar.


Daniel terdiam apa yang dikatakan bang Wiliam benar juga. “Maaf bang, Daniel cuman lagi terlalu semangat aja mau ketemu bang Rafa” Daniel berucap dengan nada sedikit bersalah. Wiliam mengangguk paham dan tidak terlalu mempersalahkan nya.


“Oiya...Angel kamu sudah coba telpon Windi dan Sekretaris Lim?”  Angel menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Wiliam.


“Coba kamu telpon salah satu dari mereka” ucap Wiliam lagi yang langsung di anggukan Angel.


Pertama ia menelepon sekretaris Lim tapi telah beberapa kali tidak dijawab sama sekali. Lalu ia mencoba menelepon Windi yaitu Sekretaris William. Namun, sebelum itu ternyata Windi malah menelepon terlebih dahulu, dengan cepat Angel mengangkat tak lupa menghidupkan speaker nya biar terdengar oleh semua nya.


“Hall...”


“Nona gawat! Maaf saya baru bisa mengabarkan sekarang, ini tentang tuan besar dan perusahaan...” Terdengar suara Windi ngos-ngosan penuh nada cemas membuat mereka semua semakin penasaran.


“Apa yang terjadi Windi?” bukan Angel namun Wiliam bertanya.


“Tuan Wili, dua hari yang lalu perusahaan diserang oleh beberapa orang berpakaian hitam dan sekarang perusahaan dalam keadaan kritis diambil paksa oleh orang-orang itu...”


Deg


“Tuan besar juga menghilang tapi saya curiga ini perbuatan orang-orang itu bahkan Sekretaris Lim ditekan untuk tutup mulut...”


Jantung mereka berdetak kencang mendengar semuanya.


“Ayah Zayn dan Michael bagaimana?”


“Saya tidak tau tuan tapi yang jelas mereka juga tidak terlihat beberapa hari ini” Windi terus menjawab dengan nafas ngos-ngosan.


“Sekarang kamu dimana?”


“Saya sekarang berada di perusahaan tuan, ini saya melakukan secara diam-diam...”


Tut Tut


Wiliam terdiam karena tiba-tiba panggilan terputus, mata menatap kedua adik, mommy dan ibunda nya. Terlihat mereka syok dengan mata berkaca-kaca.


“Sepertinya Wiliam harus keluar sekarang mom, Wili tidak mau terjadi hal buruk dengan mereka!” 


“Tidak, kamu belum sembuh total nak” Alina dengan cepat melarang.


“Tapi mom, Daddy, Ayah dan Michael aku gak mau mereka kenapa-napa? Bagaimana jika orang itu melakukan hal buruk pada mereka”  Wiliam tak bisa menahan emosi nya.


Dengan paksa ia mencabut tali infus tersebut dan mengganti pakaiannya.


Mereka berempat tidak bisa menahan lagi, karena mereka juga merasakan hal sama.


“Bagaimana dengan bang Rafa?” Daniel bertanya saat telah melihat Wiliam selesai berganti pakaian dengan pakaian formal.


“Kita pergi temuin dia dulu”  Daniel mengangguk dengan semangat begitu juga yang lainnya.


🌿🌿🌿


Ditempat Axel, sekarang dia sedang bersiap-siap bersama sang istri untuk berangkat ke Indonesia karena ada urusan mendadak tak bisa ditunda lagi.


“Mas, apa kita tidak pamitan sama bang Wiliam dan yang lainnya?” ucap Bianca yang sedang sibuk memasukkan barang-barang keperluannya dalam koper.


“Tidak perlu” jawab Axel acuh.


Lalu tiba-tiba saja ponsel milik Axel berdering tanda panggilan masuk, Bianca melirik karena melihat Axel tak mengangkat nya.


“siapa mas? Kok gak diangkat sih?” Bianca bertanya dengan penasaran.


“Tidak perlu” tetap sama Axel masih tak peduli. Akhirnya Bianca berinisiatif mengangkat nya tanpa izin dari sang pemilik.


Saat terlihat ternyata tak ada namanya tapi tetap ia angkat tanpa takut tatapan tajam suaminya.


“Ya hallo...”  


“Axel, ini gue Wiliam Abang Lo! Gue boleh ketemu Lo gak, ini penting banget”


Bianca terdiam lalu melirik suami, melihat tatapan itu Axel sudah tau dengan males dia mengambil alih.


“Ada apa!”


“Xel, gue mohon sama Lo untuk sekali ini aja, Daddy sama ayah dan Michael dalam bahaya bahkan perusahaan sekarang sudah diambil alih oleh orang asing, gue mohon Lo bantu gue!” terdengar suara memohon dan sedih Wiliam dari seberang sana entah kenapa membuat hatinya ikut sedih.


“Hm...bukan urusan gue!” ia sebenarnya sudah tau tapi tetap tak peduli.


“Xel, gue mohon apa Lo mau Daddy dan mereka kenapa-napa? Gue tau dihati Lo berkata lain. Lo mau keluarga kita hancur dan kehilangan satu persatu..”


Axel masih diam tak minat menjawab.


“kalo lo gak mau gue gak maksa tapi Lo harus mau temuin Daniel, mommy, bunda dan Angel, gue mohon!”


Axel semakin terdiam, ia belum siap bertemu mereka.


“Mas, kamu gak boleh ngelak lagi. Kesalahan masa lalu kamu harus mencoba memaafkan dan melupakan, aku tau di hati kamu juga tidak ingin kejadian ini. Mulai sekarang cobalah memaafkan mas”  Dengan lembut Bianca mencoba menenangkan dan menasehati suaminya. Sekejam kejamnya Axel tapi tetap memiliki hati yang rapuh.


Cukup lama berpikir dan memejamkan matanya sejenak. Setelah pikiran dan hati terasa tenang ia menjawab,” baiklah, langsung berangkat bersama Marsel saat sampai bawa mereka kemansion!”


“Hufff...baiklah. gue senang dengar nya!”


Axel tak menjawab setelah memutuskan panggilannya ia memerintahkan Marsel menemui Wiliam dan berangkat ke Indonesia. Ia sendiri akan berangkat nanti bersama istri.


Bianca tersenyum lega mendengarnya, “mas aku tau kamu masih berat menerima nya tapi aku gak mau kamu nyesel nanti, sejahat apapun mereka dulu namun tetap Keluarga kamu, Allah saja maha memaafkan masa kamu tidak. Kamu tidak boleh terlalu dendam tapi jika pada orang-orang jahat itu aku dukung karena mereka telah menyakiti dan membuat suami aku menjadi kejam seperti ini...” Bianca berkata sambil tersenyum lembut pada suaminya.


Axel tidak marah tapi malah tenang mendengar nya, “ sejak kapan kamu jadi bijak begini Hm...?” Dengan gemas ia mencubit pipi tembam itu.


Bianca menyengir kuda, “udah dari lahir kamu aja yang gak tau” degusnya.


Axel terkekeh geli, “jadi kamu gak suka aku jadi kejam Hm...?” tanyanya sambil menaik-turunkan sebelah alisnya.


“Suka kok, asalkan jangan kejam ama aku dan anak-anak kita aja nanti, kalo sampai terjadi aku gak mau liat muka kamu lagi!” jawab Bianca sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Axel tersenyum dan memeluk sang istri. “gak bakal kecuali membuat kesalahan yang fatal”


“Ihhh...jangan dong” Bianca mencubit pinggang Axel pelan. Axel kembali terkekeh.


“Sudah lepas pelukannya aku mau mandi” ucap Bianca berusaha keluar dari pelukan Axel.


“Okay, tapi mandi bareng”


“Ya udah” Bianca pasrah nolak juga gak bakalan bisa.


“Tapi hanya sekedar mandi gak lebih!”


Axel mengangguk, “gak janji ya” tanpa mendengar jawaban Bianca ia menariknya ke dalam kamar mandi.


Bianca hanya mendengus sebal, “dasar omes!”


 


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


Â