
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Menjelang pagi, Bianca telah duduk bersandar diatas tempat tidur, jangan lupa kantung mata sedikit menghitam dan sembab. Penyebabnya gara-gara tidak bisa tidur dan karena itu ia menangis sampai matanya bengkak.
“Aku kenapa sih? Kok bisa jadi cengeng sih!” bingungnya karena merasa aneh dengan tingkah nya semalam terlalu berlebihan.
Dan sekarang ia juga males banget untuk sekedar bangkit dari tempat tidur nya. “Hoaaam... ngantuk banget” gumamnya sambil menguap lebar, kemudian rebahan dan menarik selimutnya sampai leher melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda semalam.
08.00 pagi
Di lantai bawah para pelayan mondar-mandir gelisah karena dari tadi nyonyanya tidak keluar dari kamar. Sebelum sudah mereka coba memanggil tapi tidak ada jawaban, ingin masuk pintunya dikunci dan takut kena amuk majikannya.
“Tuan telepon” ucap salah satu pelayan memberikan pada kepala pelayan.
“Masuk ke kamar saya pakai kunci cadangan dan bawa sarapan, bangunkan dia!”
“Baik tuan”
Setelah panggilannya terputus, dia memerintahkan salah satu dari mereka membawa sarapan untuk nyonyanya.
Disisi lain, kenapa Axel tau karena dia memeriksanya cctv karena sebelumnya panggilannya tidak diangkat-angkat oleh istrinya jadi ia memeriksa nya. Bahkan ia juga melihat apa yang terjadi dengan istrinya semalam.
“astaga!” geleng Axel sambil terkekeh pelan.
“Hm... sepertinya harus diselesaikan hari ini biar cepat pulang” gumamnya.
...
Ceklek
Pelayan bernama Siti masuk kedalam kamar majikannya sambil membawa mapan berisi sarapan dan air untuk nyonyanya.
“Nyonya waktunya sarapan” ucapnya mencoba membangunkannya.
“Umm...” si empu terusik dan mencoba membuka matanya yang masih lengket kemudian, mendudukkan bokongnya.
“Ada apa bik?” tanyanya masih belum sadar sepenuhnya sambil mengucek matanya.
“sarapan nyonya” ucap Siti sopan. Bianca mengangguk, “jam berapa?”
“Delapan nyonya, baiklah saya permisi nyonya” jawabnya dan keluar dari kamar itu tidak enak lama-lama disana.
Bianca cukup kaget, dia pikir masih jam tujuh, “Uhmm... padahal masih ngantuk” dumel nya. Dengan langkah berat ia beranjak ke kamar mandi.
15 menit ritual mandi nya selesai dan menyantap sarapan paginya ada sandwich, nasi goreng dan air putih.
“Eum...enak” ucapnya sambil mengunyah.
Tiba-tiba saja handphone nya berdering, dengan malas ia angkat.
“Biii...dari tadi aku telpon kenapa enggak diangkat sih?” dumel sang penelpon tak lain adalah Dinda.
“Maaf Din, aku ketiduran, mager banget tau gak?” jawab Bianca dengan nada bersalah.
“Tumben ketiduran, lagi enggak enak badan ya?”
“Enggak, cuman lagi bedmood aja”
“gitu, syukurlah. Oiya...kamu masuk nanti kan!”
“enggak tau”
“kok gitu sih, lemas amat suaranya. Kalo enggak bisa biar nanti aku izinkan aja”
“Benar, enggak repotinkan” ucap Bianca tak enak.
“B aja sahabat sendiri apa sih yang enggak boleh, hehehe...ya udah aku tutup ya emak manggil tuh”
“Ok, bye”
Tut Tut
Setelah panggilannya terputus, Bianca melempar nya sembarangan atas tempat tidur. Namun, saat teringat sesuatu ia ambil kembali dan mengecek nya.
“Ya ampun, banyak banget panggil tak terjawab dari mas Axel, gimana nih? Marah gak ya?!” pekik Bianca dengan mata melotot saat melihat panggilan dari sang suami.
Kemudian, dengan gugup ia mencoba menelepon balik. Tapi tidak diangkat.
“Ih...balas dendam kali ya” gerutunya sebal. Kemudian, pergi keluar sambil membawa mapan berisi piring kotor ke dapur.
Sampai di lantai bawah, “aduh nyonya biar saya bawa!” mengambil alih mapan yang dibawa Bianca.
“Bik tolong buatin spaghetti yang pedas tapi juga harus manis, oh jangan lupa campur ama mangga muda!” ucap Bianca cukup keras memerintah jangan lupakan mata berbinar membayangkannya, ‘um pasti enak'.
Mendengar permintaan itu, mereka mengernyit. “Nyonya enggak salahkan?” tanya Siti kebingungan dan juga merasa sangat aneh dengan permintaan itu.
“Enggak kok, pokoknya buatin enggak boleh banyak tanya!” galak Bianca tidak suka.
“Baik nyonya” jawab Siti meringis, jangan sampai dia kena amuk nanti.
Bianca melangkah ke arah ruangan tengah dan menyalakan televisi.
🌿🌿🌿
“Ayo lah Din, kasih tau dong alamatnya?” Dari tadi Faisal terus mendesak Dinda dengan nada memohon.
“Pusing gue tau gak, lagian ngapain sih ngeyel banget!” kesal Dinda kalo tidak sepupu mungkin sudah ia tendang.
“Mau mampir lah, lagain gue heran ama Lo minta alamat doang susah amat. Masalah nya apa sih? Lo takut gue lakuin hal yang buruk...!”
“Tuh Lo tau, gue gak mau gara-gara Bianca nolak lu malah lakuin hal buruk untuk mendapatkan dia! Gue gak sudi!” ketus Dinda galak.
Faisal semakin gusar dibuat nya, “enggak boleh so’uzon Din, gue enggak gitu kok. Gue tuh sayang banget ama dia enggak mungkin gue lakuin itu” Faisal terus berusaha meyakinkan Dinda.
“Cih, enggak percaya gue, dah lah sana gue mau kantin” cibir Dinda sambil bersedekap dada.
“Lagian gue juga gak tau dimana dia tinggal dan gue ingatin ama lo mendingan Lo hapus deh rasa cinta Lo tu, gue enggak mau Lo kenapa-napa!” setelah itu Dinda melanjutkan langkahnya pergi ke kantin.
“Apa! Percuma dong gue mohon-mohon dari tadi!” umpatnya. “Tapi masa iya dia enggak tau, gak yakin gue!” Faisal juga ke pikiran omongan Dinda “apa maksudnya? Emang gue mau di apain, salah ya gue cinta ama dia, AARGH...” pikirnya frustrasi.
Di kantin
Dinda telah duduk bersama Fina selesai memesan pesanannya. “Kenapa Lo?” tanya Fina melihat wajah lesu Dinda.
“Itu Faisal mulai lagi, bosan gue” jawabnya. “Oh nanyain tentang Bianca lagi, lagian wajar dong dia kan cinta banget ama tu anak” ucap Fina santai.
“iya gue tau tapikan gue kan udah bilang ama Lo Bianca itu udah ada pawang nya, kalo dia tau Faisal senekat itu bisa mampus tuh anak gue enggak mau Faisal kenapa-napa mau bagaimana pun dia tetap sepupu gue” ucap Dinda panjang lebar.
“Dan yang harus Lo tau pawang nya galak dan dingin banget, gue aja takut pas ketemu dia” ucapnya lagi.
Fina mengangguk mengerti, satu lagi dia juga bukan orang suka kepo jadi tidak perlu menanyakan siapa pawang dimaksud Dinda.
“Biarin aja nanti juga berhenti sendiri, kalo mereka jodoh enggak akan kemana cuy jadi Lo gak perlu secemas itu” kata Fina santai seperti dipantai.
Dinda memutar bola matanya males, orang yang satu emang kek gini dari dulu santai amat.
“Oh ya, besok jangan lupa datang ke pesta gue tapi harus berpasangan ya! Dan juga bilangin ama Bianca datang ama pacarnya” ucap Fina membuat Dinda mendegus.
“lo gimana sih, gue kan jomblo mana ada pasangan jan ngaco deh Lo” sungut Dinda dengan wajah masamnya.
“ajak aja si Bondan, dia pasti mau tuh jadi pasangan Lo”
“idiih ogah gue, cowok gatel kek gitu” jijik Dinda. Bondan adalah cowok playboy dan juga menyukai Dinda terang-terangan.
“pokoknya Lo harus bawa pasangan soalnya semua tamu undangan gue juga berpasangan nantinya”
Dinda mengalah, sekarang yang perlu ia pikirkan adalah siapa yang harus dia bawa. Teman cowok aja gak ada.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT