
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Sampai dikamar Axel langsung menjatuhkan Bianca ke atas tempat tidur.
Bianca terbelalak melihat gelagat suaminya. Sebelum membiarkan Bianca bangun, Axel dengan cepat mengukungnya dan mengecup-ngecup leher putih Bianca, lalu terus kening, hidung, pipi dan bibir ranum Bianca.
Bianca dibuat lemas sendiri dengan kelakuan suaminya.
“Udah mas, aku mau mandi!” tegur Bianca berusaha mendorong dada Axel dengan tangannya.
“Sebentar lagi sayang” kata Axel tanpa mau beranjak dari atas tubuh Bianca.
“Ih...kamu berat tau, dah sana turun” rengek Bianca dengan muka cemberut nya.
“Ya udah, gimana kalo begini masih berat tidak” ujar Axel yang sekarang berada di bawah dan Bianca diatas-Nya. Ia terus memeluknya dengan erat. Membuat Bianca menjadi sesak.
“Mas...gerah nih” Bianca sudah mulai kesal.
“Apanya yang gerah dingin gini!” acuh Axel pura-pura bingung.
Bianca tambah kesal, apalagi dadanya sampai tertekan ke dada Axel membuatnya merasa kurang nyaman. Badannya juga terasa gerah ingin mandi tapi suaminya itu malah memeluk dan mengukungnya terus.
“Mas...udah dong, aku mau mandi nih” rengek Bianca lagi dengan muka memelas.
“Ya udah yuk”
“kemana?” bingung Bianca.
“Yah mandi, kan katanya mau mandi” jawab Axel tanpa dosa.
Bianca meregut, “kan aku bukan kamu” sungut Bianca.
“Apa salahnya mandi bersama. Biar cepat selesai nya” ucap Axel sambil mengerutkan keningnya.
Bianca yang telah lepas dari pelukan Axel langsung beranjak turun dan menjawab, “gak ada yang salah, tapi aku mau mandi sendiri gak mau mandi sama kamu” sungut nya dan pergi ke kamar mandi.
Axel hanya menampilkan muka datarnya tapi dalam benaknya memikirkan rencana terselubungnya.
Sebelum itu ia membuka jas, kemeja dan celananya yang hanya meninggalkan celana pendek. Dan membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci oleh Bianca mungkin saja dia lupa menguncinya.
“Hehehe...kamu gak akan bisa menghindar sayaang!” seringai Axel dengan tatapan mesum nya.
Â
Didalam Bianca mandi pakai shower tidak di bathtub, ia tidak menyadari seseorang sedang menatapnya dengan tatapan lapar.
Greb...
Sebuah tangan tiba-tiba saja memeluk nya dari belakang yang membuat Bianca kaget setengah mati.
“Ya Allah mas...” kaget Bianca yang telah tau siapa pelakunya. Ia juga sangat malu dengan keadaan telanjang dipeluk. Walaupun sudah pernah dilihat Axel tapi ia tetap saja masih merasa malu.
“Kita mandi berdua ya...” bisik Axel ditelinga Bianca dan tak lupa mengecup dan mengigit nya.
“ini membuatku semakin bergairah sayang. Bagaimana kalo kita lakukan disini..” bisiknya lagi dengan nafas memburu. Tangan nya juga tak tinggaldiam dan menyentuh setiap inci tubuh bagian depan Bianca.
Yang membuat Bianca mengeluarkan suara ******* manja.
Mendengar suara manja itu membuat Axel semakin bergairah. Lalu dengan cepat ia memutar tubuh Bianca untuk menghadap kepadanya.
Terlihat wajah Bianca telah memerah dengan tatapan sayunya.
Cup
Axel langsung mencium dan ******* bibir ranum itu sambil memeluk pinggang Bianca.
Bianca sendiri hanya menerima dan menikmati dengan pasrah.
Di bawah guyuran air shower mereka melakukannya. Dalam sejam lebih hanya suara *******, lenguhan dan decapan yang terdengar dari kamar mandi tersebut.
🌿🌿🌿
Setelah melakukan dan mandi bersama, sekarang mereka keluar dari kamar dan pergi ke lantai bawah.
Saat sampai di bawah tepat di ruangan keluarga terlihat telah berkumpul beberapa orang yang diantara mereka ada kakek Leon. Axel hanya menghela nafas pendek karena kakek nya itu tidak mengabarkan padanya.
“Kenapa kakek tidak bilang mau kesini?” Ujar Axel yang telah duduk berhadapan dengan kakeknya.
“Kakek sengaja karena kakek pikir kamu masih dikantor” jawab Kakek Leon seadanya.
“Iya, kita juga berpikir begitu. Eh ternyata kamu sudah pulang” sambung Harris.
Axel hanya mengangguk ringan saja.
“Jadi...ada keperluan apa kalian kesini?” tanya Axel dengan muka datar nya.
Yang langsung ditatap kesal oleh si kakek. “Kau ini bagaimana sih, memang kita kesini tuh harus disaat ada keperluan saja begitu! Kita itu kesini cuman ingin berkunjung saja...” Degus kakek Leon.
Bianca hanya terkekeh melihat kekesalan kakek Leon. Lagian suaminya itu ada-ada saja.
Bianca juga sedang berbincang dengan Riana, berbeda dengan Dava dan Diva mereka hanya diam dengan mata terus menatap kearah Axel.
“Kalian kenapa diam saja, kata nya mau ketemu sama bang Axel. Sekarang udah ketemu kenapa diam saja” bingung Harris saat melihat kediaman kedua anaknya itu.
Mendengar itu, Axel ikut menengok mereka masih dengan muka datarnya.
“Xel...kau jangan tampilkan muka seperti itu pada mereka. Ramah dan senyum sedikit biar mereka tidak takut padamu” Kakek Leon dengan cepat menegur Axel.
Bianca juga ikut mencubit pinggang suaminya itu.
“Apa!” kesal Axel pada Bianca tanpa merasa sakit sedikitpun.
“Gak boleh begitu” ucap Bianca sambil melototkan mata pada Axel.
Axel hanya mendegus mendengar nya karena itu tidak akan mempan sama sekali padanya.
Akhirnya, Diva pergi bersama mamanya dan Bianca dari sana karena mereka sama-sama perempuan. Hanya tertinggal para lelaki.
Axel juga tak datar dan tak terlalu dingin lagi kepada Dava.
“Oiya... bagaimana dengan orang itu? Kamu sudah mulai bergerak” tanya kakek Leon.
Harris juga telah tau tentang keluarga Axel karena Leon telah menceritakan semuanya.
“hmm...” angguk Axel.
“Oiya...kakek dengar William sakit parah”
Axel hanya mengangguk kepala sambil menghela nafas panjangnya.
“Memang sakit apa Xel?” sekarang Harris yang bertanya karena dari tadi hanya diam saja.
“Kanker” Axel menjawab dengan singkat tanpa menggunakan embel-embel om.
Harris cukup kaget mendengarnya karena setuanya sakit kanker itu cukup susah disembuhkan.
Leon ikut mendesah berat karena itu, ditambah ikatan keluarga itu dengan Axel masih belum berbaikan karena Axel sendiri yang belum ingin melakukannya.
“Kakek cuman mau memastikan, kau mau sampai kapan seperti ini. Saran kakek temui lah keluargamu itu karena sampai sekarang mereka mencarimu. Kakek dengar Alina sering jatuh sakit karena selalu teringat kau. Coba lah ajak pertemuan pribadi dengan mereka. Apalagi sekarang orang itu juga mulai memulai rencananya. Kakek tau kau masih dalam delima tapi cobalah lakukan saran kakekmu ini..” kata kakek Leon panjang lebar mencoba menasehati dan memberi saran untuk cucu kesayangan nya itu.
“Menurut om benar juga saran ayah. Lebih baik kamu coba dulu” Harris menambahkan membenarkan saran ayahnya.
Axel terdiam cukup sambil menutup matanya dan mengembuskan napas, lalu kembali membuka matanya menatap sang kakek dan Harris. Sedangkan untuk Dava ia hanya diam menjadi pendengar dari tadi.
“Baiklah, dalam beberapa ke depan akan aku siapkan jadwal pertemuan dengan mereka..” Axel menjawab sedikit menyetujui saran kakeknya walaupun bagaimanapun kakeknya itu sudah lebih lama hidup darinya, tentu saja ia lebih banyak mengerti.
Leon sedikit lega mendengarnya, begitupun dengan Harris.
“Bang, Dava yakin bang Axel pasti bisa. Dan semoga saja Abang bisa kumpul dengan mereka kembali” tutur Dava dengan bijak sambil menepuk-nepuk pundak Axel dengan raut serius nya.
Sebelumnya Dava beranjak duduk dekat Axel.
Axel hanya tersenyum kecil sebagai balasannya, ia juga telah menganggap Dava dan Diva sebagai adik sendiri. Karena membuatnya menjadi teringat dengan Daniel. Walaupun ia meninggal adiknya itu masih kecil namun, ia yakin sifatnya sedikit ada persamaan dengan Dava. Hanya usia mereka hanya berbeda lebih tuaan Daniel.
“Oiya... bagaimana kau sudah ada rencana memberi kakek cicit!” pertanyaan konyol itu terdengar dari kakek Leon setelah cukup lama saling diam, yang membuat Axel mendegus kesal mendengar nya.
Harris hanya geleng-geleng kepala dengan pertanyaan konyol ayahnya. Berbeda dengan Dava terbatuk pelan mendengar pertanyaan aneh kakeknya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
Â