
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Reynand sekeluarga di bendungi suasana tegang dan cemas bersamaan, tak lama kemudian terdengar suara tangisan dari para wanita. Sedetik sebelumnya mereka mendapatkan kabar dan berita dari seseorang tentang Wiliam yang mana membuat mereka syok sekali.
Dan seseorang yang mengatakan itu tak lain adalah salah satu bawahan Axel, awalnya ia ingin menemui mereka secara langsung tapi karena ada beberapa urusan mendadak jadi ia tidak bisa menemui dan mungkin lain waktu saja.
Reynand sekeluarga dengan cepat mengurus keberangkatan ke L A tanpa menunda lagi.
Â
Disisi lain, Axel sedang dalam perjalanan menuju Prancis karena ada urusan bisnis disana bersama Marsel dan beberapa bawahannya mengawali.
Bianca sebenarnya merengek ingin ikut tapi ditolak Axel karena ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan tak lama hanya tiga hari. Jadi dengan perasaan dongkol Bianca mengalah.
Seperti sekarang ini Bianca sedang dalam perjalanan pergi ke kampus diantar oleh supir. Namun, dari kejauhan tetap diawasi dan dijaga oleh bawahan Axel karena bagaimanapun saingan dan musuh Axel berkeliaran dimana-mana dan bisa saja mengincar Bianca walaupun pernikahan mereka belum di ketahui medsos tapi tetap saja waspada.
Sampai di kampus, Bianca dengan santai masuk kedalam dan mencari Dinda. Saat sibuk mengitari setiap sudut koridor tiba-tiba saja bahunya ditepuk seseorang...dan menoleh.
“Hai...cantik cari siapa sih?” sapa Faisal, Yap dia pelakunya sambil tersenyum manis.
Bianca membalas cuek dan bertanya, “kamu liat Dinda gak?” tanya Bianca tanpa mempedulikan perubahan raut wajah Faisal. “dia tadi ke perpus” jawab Faisal sedikit kesal dengan reaksi cuek Bianca.
“makasih, kalo gitu aku susul Dinda” pamit Bianca, namun menggenggam lengannya, Bianca tampak tak suka.
“Apa? Lepasin!” kesal Bianca namun tak dihiraukan oleh Faisal.
“Bii...kamu kenapa sih cuek banget gak kek biasanya, kamu marah ya karena aku nembak kamu waktu itu?” tanya Faisal menuntut tak senang.
“Gak kok biasa aja” elak Bianca.
“pliis...bii kasih aku kesempatan aku cinta banget sama kamu aku gak bisa lupain perasaan ini begitu saja!” ucap Faisal nada memaksa dan refleks mencengkram lengan itu membuat si empu meringis.
“aawss...sakit sal lepasin!” ringis Bianca berusaha melepaskan cengkeraman Faisal. Faisal tersadar dan menarik tangannya. “maaf bii aku gak sengaja...” ucapnya dengan raut bersalah. Bianca kesal dan langsung pergi tanpa bicara sepatah pun.
“Biiii...?” panggil Faisal cukup keras, membuat mahasiswa/i yang disana menengok kearah nya. Faisal tak peduli dan pergi dengan rahang mengeras. “Bangsat! Liat aja nanti” umpat-Nya, kemudian tersenyum miring merencanakan sesuatu.
 Disisi lain seorang gadis melihat semuanya dengan tatapan benci. “Gue benci, kenapa selama ini Faisal enggak pernah lirik gue tapi malah lirik ****** itu!” geram gadis itu tak lain adalah Yola.
Temannya bernama Cici menepuk bahu nya pelan, “sabar beb, nanti kita beri pelajaran si ****** itu!” ucap Cici dengan senyuman jahatnya.
“Iya, lagian lo gak dengar sang pujaan hati Lo ditolak Ama tu cewek jadi lo bisa leluasa deh” lanjut satunya lagi bernama Tita.
“Tapi gue tetap kasih pelajaran sama ****** sok cantik itu, dia pikir dia siapa nolak Faisal dan membuat Faisal sedih, gue gak terima!”  Cici dan Tita ngikut aja karena sudah lama juga tidak membully tu cewek semenjak di kercoki oleh Faisal tapi sekarang bodoamat lah.
🌿🌿🌿
Â
Jam pelajaran telah usai, Bianca dan Dinda keluar dari kelas menuju area parkiran tapi tiba-tiba saja Bianca merasa kebelet.
“din, kamu duluan aja aku mau ketoelet bentar” ucap Bianca.
“Biar aku temanin aja” tapi Bianca menggeleng. “gak usah kamu balik aja duluan”
“Ya udah, bye” pasrah Dinda dan melanjutkan langkahnya dan Bianca berbelok menuju toilet.
Â
“Kalian, ngapain halangi jalan aku?” Bingung Bianca sedikit merasa takut mengingat pembullyan dulu.
“Cih, gak usah sok gak tau. Kita itu kesini mau kasih pelajaran ama cewek sok kecantikan kek Lo padahalkan tetap cantikan Yola tapi kenapa sih? Faisal harus suka ama lo gak adil banget tau” ucap Tita nyerocos tanpa henti membuat Yola dan Cici agak kesal.
“Udah ah diam Lo, biar Yola turun tangan!” kata Cici yang hanya di anggukan oleh Tita.
Yola mendorong Bianca dengan telunjuknya, “gue benci sama Lo, gara-gara Lo Faisal marahin gue, cuekin gue dan sekarang Lo seenak aja nolaknya, Woy...Lo pikir Lo siapa sok cantik. Gue ingatin ama lo jangan pernah dekatin Faisal lagi karena dia hanya milik gue! Ingat cuman milik gue!”
“Gue senang sih Lo nolak tapi tetap aja gue benci cewek kek Lo!” dan dengan jahatnya mereka mendorong Bianca dan menjambak rambut itu.
“Akh... lepasin!” rintih Bianca berusaha melawan tapi tenaganya kalah.
“Gak semudah itu” seringai Yola begitu pun kedua temannya.
“aku gak punya perasaan apa-apa sama Faisal cuman sekedar teman doang karena itu aku tolak dan seharusnya kamu senang tapi kenapa harus begini juga!” racau Bianca mulai berani.
HAHAHA
“lo pikir karena itu kita gak bakalan ganggu Lo lagi, jangan mimpi sebelum Faisal jadi milik gue!”
Bruk...
Tanpa perasaan ia mendorong kuat kepala Bianca membentur dinding toilet.
Kemudian, mereka pergi dengan senyuman kemenangan nya tanpa mempedulikan Bianca.
“Sshht...” ringisnya memegang kepalanya terasa sakit bahkan jidatnya sedikit memerah.
“Mereka jahat banget sih, padahal kan bukan aku yang dekatin Faisal tapi dia”  setelah berdiri Bianca keluar dan pergi. Mungkin pak sopir sudah menunggu dari tadi.
...
Â
“kamu kenapa lama banget sih? Ini jidat kamu kenapa?” cemas Dinda, Yap dia tidak langsung pulang tapi malah menunggu Bianca.
“Oh, ini kejedot pintu tadi” jawab Bianca berbohong tidak bisa ingin mengatakan sebenarnya karena tau bagaimana sifat bar-bar Dinda.
Dinda sedikit tak percaya tapi sesaat kemudian ia hanya mengangguk saja.
“Nyonya baik-baik saja kan?” pertanyaan khawatir dari sopir nya dan Bianca mengangguk.
“ya udah, aku duluan ya see you bye bye” ucap Dinda lalu memasuki mobilnya. Begitupun Bianca.
Dalam mobil Bianca melamun ke pikiran sama perkataan Faisal tadi pagi. “Di kenapa sih maksa banget, aku kan gak punya perasaan apa-apa selain teman doang” batinnya kesal.
“tapi kalo misalnya mas Axel tau dia cemburu gak ya? Walaupun tak sedingin dulu lagi tapi tetap aja dia belum pernah mengungkapkan perasaan nya padaku...apa dia hanya sekedar nganggap aku istri tanpa perasaan apapun?!”  Bianca menghela nafas sedikit berat dengan tatapan sendu.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT