
"Ah iya sampai lupa, ayok sekarang kita susul dia "ucap papi lagi sambil menarik tangan mami sama abdi untuk menyusul ku.
Mereka semua menyusul ku ke taman belakang, aku memilih duduk diam di salah satu bangki taman yang mengarah ke kolam ikan, disana sangat banyak ikan hias berbagai jenis,di taman belakang pun banyak di tumbuhi berbagai jenis tanaman, itu membuat ku sangat bahagia, aku melupakan apa yang terjadi barusan.
Mereka langsung menghampiri ku, papi duduk di samping kiri ku, abdi di samping kanan ku sambil memeluk ku,mami duduk di samping papi, jadi aku terhapit oleh 2 pria tampan di samping ku yang beda generasi. Walaupun papi sudah lebih dari setengah abad tapi di tetap terlihat tampan, badan yang masih atletis, rahang yang kokoh, sama seperti abdi hanya beda rambut nya yang sudah mulai memutih satu satu.
"Sayang ayok, papi masakan mie instan buat kamu dan cucu papi yah, kamu jangan merajuk seperti ini, kan cantik nya hilang, kasihan cucu papi yang melihat wajah mommy nya di tekuk seperti itu, ayok sayang jangan merajuk lagi"ucap papi merayu ku sambil mengengam tangan ku, dan jangan lupa tatapan memelas, hangat dan lembut papi,. Sifat papi sama dengan abdi, di luar sangat dingin dan tegas tapi saat bersama keluarga dia akan berbeda jauh, manja, hangat, lembut penyayang. Seperti mempunyai kepribadian ganda.
"Aku sudah ngk mood lagi pi, aku hanya ingin di sini menikmati sore pi"ucap ku malas, sebenarnya aku masih ingin sekali makan mie instan itu, tapi ntah kenapa aku agak gensian gitu lagi sama papi, apa lagi saat mendengarkan papi kurang setuju jadi malas aku nya.
"Sayang jangan gitu dong, papi kan sudah mintak maaf nak, kamu tega lihat papi sedih "ucap papi masih mencoba merayu ku
"Iya sayang, papi mau kok buatin buat kamu nak, tapi tadi papi hanya kaget, berdebat pun itu hanya bercanda sayang, jadi kamu jangan masukin ke hati nak, iya kan son"ucap mami menjelaskan, dan juga meminta bantuan sama abdi
"Mmm,... Iya sayang, tadi hanya bercanda, sekarang ayok kita lihat papi masak masakan yang kamu mintak sayang "ucap abdi membelah mami dan papi dia tidak tega lihat orang tua nya di diamin oleh istri nya
"Kenapa sih, kalian pemaksa sekali, aku sudah tidak mood lagi "ucap ku sambil memutar bola mata jengah ku
"tapi nak.... "Ucap papi terpotong oleh ku, yabg tidak suka di bantah. Sekarang aku seperti anak durhaka yang menyelah perkataan orang tua, dan membuat mereka sedih.
"Tidak ada tapi-tapi nya, kalau masih bicara lagi, agak jauh dari ku, aku lagi lagi malas mendengarkan kalian berdebat "ucap ku memelas kepada papi.
"Baik lah, kami diam "ucap papi, mami pasrah dengan keaadaan ku, mereka maklum emosi ibu hamil sangat tidak stabil, mereka juga tidak bisa tertekan, ataupun banyak pikiran.
Setelah 15 menit hening di antara kami, dengan pikiran masing-masing, abdi sibuk dengan pikiran nya menatap ke depan, begitu pun aku, papi , mami hanya diam menatap satu sama lain dengan tatapan sedih nya.
Hingga aku yang menyadari nya, dan tidak tega jadi aku kembali meminta untuk di buat kan mie
"Ya sudah pi, papi buatkan aku sekarang mie instan kuah nya"ucap ku pelan tapi nasih di dengar oleh mereka
"Benar kah sayang "ucap papi dengan mata berbinar-binar.