
Sampai di depan semua wartawan, abdi menurunkan ku dari gendong an nya, semua nya tidak luput dari kamera.
"Dia pikir aku ini lumpuh apa, main gendong2 aja, jelas ngk belum sah, seenak perut bucit nya aja, ngk mikir dosa apa, aduh semua mata melihat ke sini lagi, ah jadi aku masuk kamera donk, ah pasti bangga mak ku di kampung, Hehe, tapi ini badak bercula satu seenak nya aja, ngk mikir apa, au ah orang kaya ma bebas, kalau di kampung dah di jadi bunjingan, sudah tinggal satu rumah, apa2 seenak nya aja, tapi di kota bebas, ngk ada yg peduli sama hidup orang "guman ku dalam hati, sambil melihat sekeliling ku
Sekarang masih riyuh dengan suara wartawan yg ada di sini dan juga suara jebrek an kamera untuk mengambil foto2 kami, sampai terdengar suara asisten herri meminta mereka untuk diam
"Baiklah, sekarang sudah ada tuan ABDI, jadi kalian boleh bertanya dengan tertib"ucapan asisten herri
"Sekarang boleh kalian bertanya "tambah herri yg sudah melihat mereka dia
"Jadi kapan kalian menikah"
"Sejak kapan kalian mengenal satu sama lain, "
"Dari keluarga mana calon istri anda tuan"
"Apakah anda nona menikah karna harta tuan abdi"
"Apakah semua ini benar tuan"
"Siapa nama anda nona"
Dan banyak lagi pertanyaan yg di lontarkan wartawan yg tidak henti2 nya, membuat ku bosan, padahal masih pagi dah ngk mood lihat mereka semua, kayak lebah lagi pindah aja
"Saya akan menikah besok lusa, kami baru mengenal, tapi saya memutuskan untuk menjadikan dia istri saya, karna dia yg mampu mencuri hati saya, dan jangan pernah tanya kan dari mana calon istri saya berasal, dan calon istri saya tidak gila harta, nama nya NAZIRAH ALIA PUTRI , Jadi jangan perna buat berita yg tidak2 tentang calon istri saya"ucap abdi tegas dengan nada dingin
"Dan ingat, saya mencintai nya tulus, jadi jangan pernah bermain2 dengan calon istri saya, dan jaga mulut kalian, untuk mengata-ngatai calon istri saya "tambah abdi dengan mengancam dengan tatapan maut nya
Setelah itu tidak ada kata2 lagi, wartawan tidak berani berkomenter, abdi langsung mengandeng tangan ku keluar dari sana, dan herri langsung menutup nya dan meninggal ruangan itu
Aku dan abdi langsung menuju ke ruangan abdi, sampai diruangan abdi aku langsung duduk di sofa sambil menyandarkan kepala ku dan memejamkan mata ku, dan abdi juga melakukan hal yg sama
"Pak"ucap ku
"Mmm"jawab abdi
"Ada, kenapa "ucap abdi dengan masih memejamkan mata nya
"oh"ucap ku beroriah
Setelah itu tidak ada lagi kata yg keluar dari mulut kami, ku lihat abdi sudah tidur, ku betulkan posisi berbaring nya, setelah itu langsung aku melanjutkan perkerjaan.
3 jam berkutit dengan laptop dan kerta2 yg ada di meja ku, ku lihat jam sudah menunjukan untuk makan siang, langsung ku bangun kan abdi untuk makan siang, ku lihat tidur nya sangat pulas, jadi tidak tega ku membangun kan nya
"Pak, bangun ayok kita makan siang "ucap ku sambil mengoyang2 kan tubuh abdi
"Mmmm"dengan mata yg tertutup
"Ayok la sayang, aku lapar ni"ucap ku memelas
"5 menit lagi ya sayang "ucap abdi mencari tempat nyaman
"Aduh kamu ini la, aku pergi sendiri aja deh"ancam ku sambil berdiri
"Kita sholat dulu, habis tu kita pergi cari makan, "ucap abdi langsung bangun
"Ya sudah ayok sholat "ucap ku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil whuduk, selesai itu langsung disusul abdi,
Setelah itu kami langsung melaksanakan sholat, yg di imamin oleh abdi, selesai sholat kami langsung menuju pakiran untuk pergi restoran
Sampai di restoran kami langsung memesan makanan dan minuman, beberapa menit menunggu pesanan kami pun datang, kami langsung melahap nya dengan tenang, selesai makan, kami masih duduk santai
"Pak, saya ingin keluarga saya untuk hadir di pernikahan kita "ucap ku sedih
"Tenang saja, besok pagi ibu mu sudah sampai di kota"ucap abdi santai
"Allhamdulillah, makasih ya pak"ucap ku tulus dan di balas angukan dan senyuman manis abdi
Setelah itu kami langsung kembali kekantor untuk melanjutkan perkerjaan, karna kami akan cuti untuk pernikahan, takutnya kerjaan menumpuk.