My brave little girl

My brave little girl
Part 20.



Sebenarnya ada rasa sesak melihat orang yg dia sukai lebih akrab dengan orang lain di bandingkan dengan nya,


Setelah beberapa saat makanan yg kami pesan pun sampai, setelah makanan dan minuman sudah tertata rapi di atas meja, kami langsung melahap nya dengan tenang, tidak ada suara dari kami berempat, sampai pak bima buka suara


"Alia apa kamu sudah memiliki kekasih? " tanya pak bima tiba2 yg membuat ku tersedak


Huk.. Huk.. Huk


Dengan segerah pak abdi mengasi minum pada ku, dengan segerah aku langsung meneguk habis minum yg di sodorkan pak abdi, setelah ku rasa tenang baru ku jawab


"Kenapa? "Ucap ku heran


"Kalau belum ada, jadi bisa saya lebih dekat dengan mu"ucap pak bima to the point, yah karna pak bima umurnya ngk jauh beda sama pak abdi, mungkin beda satu tahun atau 2 gitu aku juga kurang tahu


Ku lirik pak abdi nampak dari wajah nya memerah karna menahan amarah, atau apa lah, mungkin kalau tidak rekan bisnis nya sudah di hajar nya tu, jelas dari tatapan nya ingin mamangsa musuh nya.


"*Aduh ni ni yg kurang ku suka, laki2 ke ganjengan kali, ah sudahlah ku jawab jujur aja, kan sebentar lagi mau nikha sama pak abdi, ngk perlu ladanin orang ini" guman ku dalam hati malas


" kalau ngk rekan bisnis sudah ku hajar dia, berani nya dia mengatakan itu pada wanita ku"guman pak abdi sambil menahan emosi nya*


"Al, kalau kamu tidak mau menjawab ngk usa di jawab," ucap pak bima lembut, membuyarkan lamunan ku dan pak abdi


"Ah.. Iya saya sebentar lagi mau nikha pak, mungkin kalau sebagai teman boleh, tapi kalau lebih mohon maaf pak" ucap ku tegas


"Iya ya, berungtung sekalih pria yg mendapatkan mu"ucap nya tersenyum gentir


"Iya tentu "ucap pak abdi dingin


"Nada bicara nya selalu dingin, muka datar kayak gitu, dasar badak ngk punya ekpresi "guman ku melihat wajah pak abdi


"Siapa laki2 yg berungtung mendapatkan mu" ucap pak bima


"Tunggu aja undangan nya pak " ucap ku sambil melirik pak abdi


"Pasti itu" ucap nya


Setelah itu kami melanjutkan acara makan yg tertunda tadi dengan tenang, setelah selesai sarapan pak bima dan sekretaris nya undur diri, dan tinggal kami berdua yg masih setia duduk di sana.


"Iya"ucap ku singkat


"terima kasih yah al" ucap pak abdi dengan menatap lembut kearah ku


"Buat apa? " ucap ku heran


"Tadi kamu sudah mau mengankui kita akan menikah " ucap pak abdi bahagia


"Oh itu, tentu saja tidak gratis " ucap ku cuek


"Terus" ucap pak abdi mengeryit kan kedua alis nya


"Ada syarat nya" ucap ku cepat


"Apapun akan ku penuhi" ucap pak abdi yakin


"Benaran ni" ucap ku sambil menatap pak abdi


"Iya" ucap pak abdi


"Baik la, yg pertama bapak harus mengikuti apa yg ku mau, kedua tidak boleh seenak jidat nya, ketiga... "Ucap ku terpotong oleh pak abdi


"Eh kenapa banyak sekalih" ucap pak abdi tidak terima


"Mau atau tida? "Ucap ku, bukan menjawab malahan memberikan pertanyaan lagi


"Iya iya, trus apa lagi"ucap pak abdi kesal


"Iklhas ngk, kok ngomong nya kayak gitu " ucap ku lagi karna ku suka lihat wajah kesal pak abdi


"Iya iya sayang apalagi" ucap pak abdi berusaha selembut mungki


"Yg ketiga, nanti aja, ku pikirkan lagi" ucap ku