My brave little girl

My brave little girl
Part 18.



Setelah sampai di meja makan, kami pun sarapan dengan tenang, selesai sarapan kami berangkat ke kantor bersama.


sesampai di kantor aku banyak mendengarkan gosip murahan dari para karyawan, tapi aku gak ambil pusing karena memang yang mereka bicara kan tidak benar, baru berjalan beberapa langkah aku melihat mira


" mbak mira " teriak ku memanggil mira dan berlari mendekatin nya


Mira yang merasa nama nya di panggil pun melihat ke sumber suara


" iya, kamu kemana aja sih? kok gak ada kelihatan? " ucap mbak mira memperhatikan ku intexs


" aku sekarang berkerja dengan bos mbak, maaf yang waktu itu meninggal kan mbak dengan pesanan ku" ucap ku pelan merasa tidak enakan sama mira


"Gak papa santai aja kali, lagian sebelum aku pesan aku melihat kamu di bawa pak bos,gak jadi aku pesanin "ucap mira dengan santai


" jadi gimana kabarnya mbak" ucap ku lagi


"Aku baik, gosip dari mereka semua itu gak benar kan al" tanya mira dengan tatapan penuh tanya


Belum sempat ku menjawab pertanyaan mira, tiba-tiba pak abdi sudah berdiri di belakang ku, dan menarik tangan ku,mengikuti nya


" ayok kerja, jangan bergosip pagi-pagi" ucap pak abdi dingin dan mau tidak mau aku mengikuti langkah pak abdi


" mbak nanti kita bicara lagi ya, dahhh mbak" ucap ku setengah teriak pada mira


" iya " ucap mira yang bingun dengan tingkah bos nya


Abdi terkenal dengan dingin, kejam, tampa ekpresi apa-apa tapi dia rajin ibadah, dia juga terkenal dengan pembisnis berdarah dingin, jika ada yang berani berhianat, tidak ada ampun nya, tapi dia tidak akan melebihi batas .


Di dalam lift aku diam, karena memang malas berdebat dengan pak abdi, kalau pun berdebat dia gak akan mau kalah, jadi mendingan diam. Sampai ting pintu lift pun terbuka dengan terburu-buru aku berjalan keluar dan mendahului pak abdi untuk masuk keruangan nya.


"Belum ada satu orang pun yang bersikap tidak sopan kepada tuan, hanya anda yang berani seperti itu nona, saya salut lihat keberanian anda " guman pak herri dalam hati melihat tingkah laku ku seperti anak kecil dan cuman aku yang bisa seenak nya sama pak abdi


"Memang anak kecil, tidak ada satu orang pun yang bisa bertindak tidak sopan kepada ku, cuman kamu yang melakukan nya dan juga mencaci ku pun hanya kamu "guman pak abdi dalam hati sambil geleng-geleng kepala lihat ku dan tersenyum.


Sampai di dalam ruangan aku langsung berkerja tampa memperdulikan pak abdi yang masuk ruangan itu sambil perhatikan ku.


Setelah beberapa saat, pak herri masuk dengan membawa table yang ada di tangan nya dengan jadwal untuk pak abdi.


" tuan jadwal anda sekarang, makan siang di restoran xxx sambil membahas kerja sama pembangunan hotel di kota B tuan dan menandatangani berkas-berkas saja " ucap pak herri sopan dan menundukan kepala nya


" ok, kamu boleh keluar " ucap abdi dingin


Setelah herri keluar abdi langsung berbicara dengan ku.


" nanti kamu harus temanin saya makan siang sambil membahas kerja sama dan juga siapkan dokumen yang di perlu kan" ucap pak abdi tampa melihat kearah


" hmmmm" jawab ku, tampa melihat pak abdi sama sekali, karena aku masih kesal sama dia


Selesai itu kami sibuk dengan urusan kami masing-masing tidak ada yang berbicara atau pun memperhatikan satu sama lain.