
Setelah melalui perdebatan yg banyak antara aku dan abdi, akhirnya abdi mengalah, dia mau memandikan ku, walaupun dia menelan salivah nya dengan sangat susah payah, menahan hasrat nya, saat melihat tubuh ku, tapi dia tetap tahan, sampai aku selesai mandi.
Ntah mengapa aku pengen di mandiin abdi, sebenarnya aku ngak tega melihat abdi seperti itu, tapi bagaimana lagi, mungkin efek hamil yah.
Setelah selesai berpakaian dan sholat magrib berjama'a, kami langsung makan malam di kamar, karna sebelum nya abdi sudah mintak pelayan untuk mengantar kan makan malam kami ke kamar.
"Sayang sekarang kamu makan yg banyak, biar anak kita sehat, kamu juga sehat, "ucap abdi lembut sambil mengambil kan nasi serta lauk untuk ku
Aku langsung mengeleng2 kan kepala ku, aku tidak berselera untuk makan makanan yg ada di depan ku itu, melihat nya saja aku sudah mual.
"Kenapa sayang "ucap abdi lagi saat melihat aku mengeleng2 kan kepala ku
Belum sempat aku menjawab nya, perut ku sudah seperti di aduk2, dan ingin muntah, dengan segerah aku berlari ke kamar mandi untuk memuntah kan isi perut ku.
Uwekk.... Uwekk.... Uwekk (agap saja bunyi orang muntah ya kakak semua, hehe)
Abdi yg melihat ku berlari ke kamar mandi pun dengan segerah mengikuti ku dari belakang, setelah sampai abdi memijit tengkuk ku, untuk meredah kan nya, walaupun aku muntah hanya mengeluarkan cairan aja, tapi itu sangat pahit dan ngk enak sama sekali.
Setelah aku rasa mulai enak kan, aku mengengam tangan abdi
"Apa sudah enakan sayang "ucap abdi khawatir, aku hanya membalas nya dengan angukan kepalah ku, setelah itu aku ingin berjalan keluar kamar mandi, dengan segerah abdi mengendong ku, aku yg lemah hanya menurut aja, abdi merebah kan aku di kasur, dan juga menyelimuti ku
"Kak, tolong jauhkan makanan itu, aku tidak suka bau nya"ucap ku pelan, tapi masih terdengar oleh abdi
"Baiklah sayang, tapi kamu mau makan apa, kamu belum makan malam loh, kasihan anak kita "ucap abdi lembut dan juga khawatir
"Baik lah "ucap abdi pasrah, sebenarnya dia tidak tega tapi kalau tidak di turuti aku akan Menangis lagi, jadi mau ngk mau abdi hanya pasrah
Setelah itu abdi langsung membawah makanan itu keluar kamar dan menuju meja makan, di sana ada orang tua abdi yg lagi menikmati makan malam mereka berdua. Saat abdi meletakan makan malam yg masih utuh di meja makan orang tua nya heran kenapa belum di sentuh
"Sayang kenapa makanan nya belum kamu dan alia makan"ucap mami heran dan di angukan kepalah oleh papi
"Alia tidak suka bau makanan itu mi, jadi dia menyuruh aku makan di bawah, nanti dia akan makan jika sudah enakan perut nya"ucap abdi menjelaskan saat dia sudah duduk di kursi dan mengambil makanan sendiri
"Alia muntah lagi nak"ucap mami
"Iya mam"
"Ya sudah kamu makan di sini aja duluan, nanti selesai kamu makan, baru tanya dia mau makan apa, dia butuh nutrisi juga sayang "ucap mami, walaupun cemas tapi dia tetap menguatkan anak semata wayang nya
"Iya son, kamu harus isi tenaga, biasa nya kalau wanita hamil pasti keinginan nya aneh2, apa lagi saat malam hari, jadi kamu harus mempersiapkan tenaga yg extra son"ucap papi yg menasehati
"Iya pi, tapi seperti itu ya pi, kalau wanita hamil malam2"tanya polos abdi
"Iya son, seperti mami mu saat hamil kamu, dia mintak yg aneh2 saat malam hari, papi yg baru tidur kebangun lagi untuk mencari keinginan mami mu, seperti itu seterusnya sampai pagi son, papi rasa istri mu juga akan sama seperti mami saat hamil, karna itu anak mu son, jika papi terlambat pulang, mencari yg diingikan mami kamu, dia tidak mau memakan lagi, alasanya sudah tidak berselera lagi, kamu sangat suka menyiksa papi dari dalam rahim sampai sekarang ,"ucap papi menjelaskan sambil mengingat masa lalu, dan juga senyum nya.
"iya sayang, seperti itu dulu waktu mami hamil kamu, mintak nya aneh2, jika tidak dapat mami akan Menangis histeris, tapi papi mu sangat sabar menghadapi mami loh "ucap mami membenarkan perkataan papi dan juga senyum manis nya
"Hehe, seperti itu ya pi, mi"ucap abdi sambil mengarut2 tengkuk nya yg tidak gatal, dia membayangkan apa yg di katakan oleh mami dan papi nya, akan terjadi. Jika terjadi dia harus mempersiapkan diri, dengan tenaga dan juga kesabaran