MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
DARIMANA DIA TAHU RUMAHKU



"Tu-tuan, apakah aku boleh pulang setelah ini?” Maureen memberanikan diri berkata dengan tubuh dan bibirnya yang terus bergetar. Tangan Max masih saja bebas menjamahnya.


“Uhm, aku belum puas denganmu. Bisakah kau tak merusak suasana hatiku!” Max yang berkata sambil menciumi punggung gadis itu.


“Aku harus pulang, Tuan. Jika aku tidak pulang malam ini, aku akan dihajar habis-habisan oleh ibu dan kakakku!” Maureen kembali membuka suaranya. Dia ingin laki-laki itu mengerti dengan kesulitan yang sedang dia rasakan.


“Memangnya apa perduliku! Itu bukan urusanku!” cetus Max. Dia mulai kesal karena gadis itu terus saja merengek.


Maureen tak bergeming, sepertinya usahanya akan tetap sia-sia. Max menarik wajah gadis itu dan memberikan satu kecupan yang sangat dalam. Mungkin baginya saat inilah yang hanya itu yang dapat dia andalkan. Mengandalkan tubuhnya untuk memenuhi keinginan laki-laki itu.


Sabar Maureen, setelah kau berhasil keluar dari sini. Anggap saja seperti digigit anjing jalanan. Toh, kau tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki ini. Biarkan dia puas, kau harus bisa membuatnya melepaskanmu.


Pikirannya tak bisa dia cegah. Dia, hanya bisa menahan semuanya. Saat ini pun jika memang laki-laki itu akan membayarnya, mungkin dia akan menerimanya.


Satu jam berlalu. Max benar-benar hanya meminta gadis itu menemaninya mandi. Dia hanya memberikan kecupan dan meninggalkan stempelnya dimana-mana.


“Martin akan mengantarkanmu, jadi makanlah dulu!” ucap Max sambil memberikan satu paper bag pada Maureen yang masih duduk di pinggir ranjangnya. Dia, hanya menarik wajahnya. Menatap wajahnya dengan kecut.


"Aku tidak lapar! Aku hanya ingin pulang sekarang juga!" cetusnya. Dia mengambil paper bagnya dan segera memakainya.


Untuk pertama kalinya dia tak memiliki perasaan malu saat melepaskan handuk yang dipakainya.


“Aku pasti akan mencarimu lagi, jadi bersiaplah!” Max tidak memberikannya cek seperti yang ada dipikirkan Maureen. Dia memberikannya satu kartu hitam.


Cih, kau pikir aku masih mau bertemu denganmu! Umpatnya di hati.


Maureen kembali menatap Max. Namun, tak ada suara yang keluar dari mulutnya, “Limitnya satu milyar!” dia membelalakan matanya dengan lebar.


Bagaimana ada seorang laki-laki yang dengan sengaja membuang uangnya begitu saja hanya untuk satu malam dengan perempuan yang tak dia kenali.


“Kenapa? Apa masih kurang?” ucapnya membuat tenggorokan Maureen tertohok.


“Ti-tidak, Tuan! Terima kasih!” dia meraih kartu tadi dan menundukkan kepalanya memberi hormat pada Max.


Martin masuk setelah menerima tanda dari tuannya, “Antarkan, dia pulang!” perintah Max.


“Baik, Tuan! Mari, Nona!” ucap Martin. Maureen tanpa basa basi langsung berbalik dan meninggalkan laki-laki tadi. Mengekori Martin yang keluar lebih dulu dari kamarnya.


“Hei, dimana tas dan ponselku? Apa aku sudah bisa menelpon sekarang?” Maureen berbicara sambil berjalan mengikuti langkah kaki Martin yang besar-besar.


Martin menghentikan jejaknya sesaat menoleh kearah gadis itu.


Gadis ini sungguh berani, bahkan dia tak takut sama sekali dengan tuan.


Dia tak berkata, hanya memandangi wajah gadis itu sampai kakinya pun kembali melangkah.


Cih, apa-apaan ini. Aku yang dirugikan disini tahu! Ya ... memang aku mendapatkan bayaran, tapi ini kan bukan keinginanku.


"Ini tas dan ponsel anda, Nona Maureen Aditama. Saya sudah memasukkan akses jaringan kami dan nomor pribadi tuan. Jadi, anda sebaiknya jangan pernah mencoba bermain-main dengan tuan!" ucap Martin penuh penegasan.


Maureen yang semuanya ingin cepat berakhir hanya manggut-manggut saat menerima tas dan ponselnya. Dia, mungkin tak perduli sama sekali dengan ucapan yang keluar dari mulut Martin.


"Terima kasih, tapi bisakah kau antarkan aku pulang sekarang!" pintanya. Sudah tak ingin berlama-lama di tempat itu.


Martin tanpa berkata, dia membukakan pintunya untuk Maureen dan gadis itu bergegas masuk kedalamannya.


Sementara yang tak diketahui gadis itu, Max tengah memperhatikan gadis itu sambil membaca laporan yang diberikan oleh Martin.


"Pantas saja dia tak terlalu terkejut dengan uang yang kuberikan, rupanya dia seorang nona di keluarga Aditama! Sungguh menarik, sepertinya aku tidak akan puas jika hanya bertemu satu kali dengan-mu, Maureen Aditama!" senyuman smirk mengulum pasti dari bibirnya.


Sudah pagi saat Maureen tiba di kediamannya. Dia, turun dari mobil Martin dan segera membuka pagar rumahnya.


Ah, darimana dia tahu rumahku?


Maureen yang baru sadar tanpa dia memberitahukan alamatnya, dia sudah sampai di rumahnya.