MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
ILMU PELET



"Kak Max, kenapa kita tidak makan shusi saja. Aku kan tidak suka dengan daging panggang!" protes Karina.


Max menolehkan wajahnya, "Pergi sana kalau tidak suka. Lagipula tidak ada yang memaksamu ikut!" sahutnya ketus.


Karina hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Dia kalah telak oleh jawaban yang keluar dari mulut Max.


Hahahaha, rasakan. Dasar wanita ular. Kalau kau pergi, aku hanya punya satu saingan yang harus ku singkirkan. Shasa mencibir Karina dihati.


"Makan yang banyak. Besarkan ini--mu agar lebih enak saat kusentuh," tanpa ragu Max meremas salah satu milik Irene dihadapkan dua wanita itu. Mereka langsung membulatkan matanya dengan lebar.


Geram dan mereka sangat menginginkan posisi dimanja oleh Max seperti Irene.


"Hustt, kondisikan tanganmu!" Irene mendelik dan menghempaskan tangan Max yang sedang asik meremasnya seperti mainan anak squishy.


"Kenapa? Kau malu? Mereka kan juga sudah tahu kau ini milik siapa," sahut Max kecut tanpa memperdulikan keberadaan dua wanita yang panas dan satu pria yang mulai cemburu.


Pelayan datang dan segera menyusun semua pesanan. Satu alat panggang berukuran cukup besar dengan berbagai daging high premium quality juga saus yang disajikan dalam beberapa tempat. Benar-benar menggugurkan perut Irene yang keroncongan sedari tadi.


Sebenarnya makan apapun disaat lapar, apapun akan masuk ke dalam perutnya. Yang penting saat gadis itu sedang kelaparan. Perutnya kenyang.


Tangan Irene baru saja mengambang pencapit dan bersiap mengambil salah satu daging yang akan dipanggangnya. Namun, Max sudah lebih dulu memanggangkan beberapa daging pilihannya.


"Tunggu sebentar, aku akan memanggangkannya untukmu!" Max bersuara sangat lembut saat berbicara dengan gorila kecilnya. Lagi-lagi membuat kedua wanita itu tambah geram.


Bisa-bisanya kak Max berperilaku seperti itu. Siluman rubah itu pasti menggunakan ilmu pelet sampai bisa membuat kak Max tergila-gila dengannya. Aku harus membongkar topengnya segera, agar kak Max tahu dia tak sebaik itu. Yang pantas bersanding dengannya, hanyalah diriku.


Irene bahkan tersenyum bahagia saat bersamanya. Apa perasaannya padaku sudah berubah? Aku benar-benar lelaki pengecut, tak pernah bisa mempertahankan cinta dan orang yang kusayangi.


"Ayo, buka mulutmu, a', a'...," lagi dan lagi Max berkata sangat lembut. Dia kini sedang memegangi penjepit daging dan bersiap menyuapi Irene.


"Aku bisa sendiri, Max!" gadis itu berusaha menolak. Dia tak enak hati apalagi posisi duduk berhadapan dengan Nick dan Max ada di sampingnya. Bukan jawaban yang didapat gadis itu. Max mendelikan matanya lebar-lebar hingga nyali gorila kecil menciut.


Irene pun pasrah, dia memajukan wajahnya dan membuka mulut. Walaupun hatinya tidak enak, tapi perut keroncongannya tak bisa di tolak.


"Bagaimana rasanya? Kau suka?" Irene mengangguk mantap dua kali.


"Kalau kau suka, kita akan sering datang kesini," ucap Max kemudian terdengar suara gebrakan meja.


Dua wanita itu menggebrak meja dan beranjak dari duduknya secera serempak.


"Aku mau ke toilet!" ucap mereka. Kembali kompak. Shasa dan Karina hanya bisa saling mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.


Mereka berdua gerah dan panas oleh siaran drama percintaan yang di tontonnya secara langsung.


"Hei, kau wanita. Jangan ganggu kak Max lagi. Sebaiknya kau jauhi dia dari sekarang!" cetus Karina. Dia menghadang Shasa yang akan keluar dari kamar mandi.