
Max membuka matanya lebih dulu. Laki-laki itu melirik gadisnya meringkuk berada dibawah ketiaknya. Dia terlihat tidak nyaman dengan posisinya. Max tersenyum kecil.
Bagaimana kau bisa tidur dengan posisi seperti itu. Kau benar-benar menggemaskan gorila kecilku.
Max mengusap rambut gadis itu perlahan. Dia, masih tak ingin membangunkannya. Dia, ingin menikamati seluruh kehangatan dalam hatinya.
Namun, sedetik kemudian gadis itu mulai menggerakkan kepalanya dan mengulet. Max menutup matanya dengan cepat agar tak ketahuan. Dia, kembali pura-pura tidur.
“Ugh, pinggangku sakit sekali,” keluhnya, dia menggerakkan tubuhnya. Mengangkat kepalanya perlahan. Dan. Blash! Irene terkejut saat posisi wajah mereka saling berhadapan.
“Astaga!” Irene segera membekap mulutnya. Dia tak ingin membangunkan laki-laki itu.
Dia belum bangun? Ya ampun, wajahnya.
Irene menyentuh perlahan alisnya, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya perlahan. Mengaguminya diam-diam.
Kenapa sih, dia benar-benar makin tampan setiap hari. Stop! Irene kendalikan dirimu. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan tahu.
Gadis itu segera menarik tangannya. Menghembuskan nafasnya perlahan. Membuang jauh perasaan berdebarnya beberapa detik tadi. Lalu, memalingkan wajah. Dia tak ingin membangunkan laki-laki itu.
Irene menyibak selimut dengan perlahan. Max membuka matanya. Wajahnya memerah dan debaran di jantungnya kembali bergema.
Apa dia akan pergi begitu saja, tanpa membangunkanku.
Gadis itu baru saja akan turun ranjang. Max segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang. Memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahnya dipundak Irene.
“Kau mau kemana?” bisiknya lirih di telinga gadis itu. Membuat debaran pada jantung gadis itu pun tak tertahan.
"Ka—Kau sudah bangun?" Irene terkejut. Dia takut perilaku malu-malunya tadi diketahui olehnya.
"Uhm." Max mengeluskan kepalanya di rambut gadisnya.
"Kalau begitu aku du-duluan,” Irene mencoba menghindar. Dia tak ingin wajahnya yang memerah dan debaran jantungnya yang berbunyi diketahui.
“Aku ikut!” Max menarik tangannya saat gadis itu berhasil menghindarinya.
“Ta-tapi, aku mau mandi,” ucapnya terbata. Gadis itu masih belum menguasi debaranya.
“Memangnya kenapa? Apa yang be—,” Irene menutup mulut Max dengan dua jarinya.
“Jangan bahas itu terus sih ... ini kan masih pa—,” belum selesai gadis itu menyelesaikan ucapan. Max sudah mengangkat kembali tubuhnya ala pengantin baru.
“Aku akan menagih double untuk yang semalam. Kau bahkan tak membiarkan aku menyentuhmu.” Kali ini laki-laki bertubuh tegap bak model binarga itu tak mengurungkan niat.
Kakinya melangkah maju masuk kamar mandi. Melakukan aktifitas olahraga paginya bersama.
***
“Apa itu, Martin?” ucap Irene saat melihatnya membawa beberapa paper bag dan didampingi oleh beberapa pelayan wanita.
Mereka berdua baru saja turun setelah melakukan olahraga paginya. Max hanya meliriknya dan dia duduk di sofa. Berto menyajikan kopi seperti permintaan tuannya.
Dan, Irene yang malas sarapan di ruang makan, memintanya menyajikan di samping kopi tuannya.
“Baju dan perlengkapan anda, Nona Maureen. Saya hanya mengambil beberapa saja,” jelas Martin.
Irene melonggo dengan kata beberapa dari mulut Martin. Barang-barang itu hampir memenuhi ruangan. Dan pelayan wanita yang mendampinginya pun lebih dari 20 orang.
Ck,ck, benar-benar Sultan atau dia benar keturunan seorang Raja. Apa aku benar-benar akan terkurung selamanya disini?
Ke kantor? Mau apa lagi sih? Aku malas banget. Lebih baik aku main ke tempat Lola dan mencari pekerjaan.
Max menarik wajahnya. Dia melihat gadis berwajah kecut sambil mengigit sendok.
“Kenapa? Kau tak suka ikut denganku? Aku akan bayar double, kau tenang saja!” cetusnya. Sedetik rasa nyeri menyelimuti hati Irene. Dia tak menyangka kalau laki-laki itu akan membahas masalah uang.
Irene memang sangat membutuhkan banyak uang. Dia, berpikir untuk mengeluarkan ibunya dari rumah sakit, dan membayar biaya perawatan ibunya itu bukan uang yang kecil. Tapi, tetap saja rasanya tak nyaman jika kata-kat itu keluar dari mulut Max.
“Memangnya aku masih bisa menolah,” dia bergerutu tak jelas dihadapan Max.
“Memangnya kau mau kemana? Apa wajahmu itu msih belum kau jadikan pelajaran,” dengus Max. Dia sudah bertekad tidak akan membiarkan gadis itu pergi sendiri lagi.
Irene tak menjawabnya, dia melanjutkan sarapannya. Lalu meninggalkan piring dan kembali ke kamar Max untuk mengganti baju.
Gadis itu turun dengan malas. Moodnya hilang dan langsung mengekori Max yang berjalan mendahuluinya. Dia terlihat sangat sibuk dengan benda kecil yang menempel di telinganya.
Bahkan saat mereka duduk pun tak menghentikan obrolannya. Beberapa bahasa tak di megerti Irene. Sepertinya, dia sedang melakukan rapat darurat melalui sambungan telpon.
Irene menepikan tubuhnya ke jendela. Tak ingin mengganggu kosentrasinya. Max melirik gadisnya menjauh. Tubuhnya mendekat dan menariknya ke pelukan. Seolah dia tak ingin berjauhan dengan gadis itu.
Dia menekan tombol kecilnya mati setelah hampir 30 menit berbicara.
“Apa yang kau inginkan? Aku akan menyuruh Clara mencarikannya untukmu.” Max sudah menyandarkan bahunya di pundak gadisnya.
“Apa boleh aku mencarinya sendiri?” Irene berkata ragu sambil menolehkan wajahnya yang tepat hidung mereka bertabrakan.
“Kau janji tidak melarikan diri?” Max memegang wajah gadisnya dengan kedua tangan. Irene mengangguk dua kali.
“Baik, aku izinkan. Syaratnya, pergi dengan beberapa pengawal. Mengerti!” walaupun gadis itu ingin menolak, tetap saja dia tak punya kuasa selain menurutinya.
“Terima kasih, Max.” Gadis itu melompat kedalam pelukannya.
“Tidak gratis loh,” lanjutnya.
“Hah? Apa?”
"Aku bilang tidak gratis, gorila kecil!" Max menarik lagi pipi chubbynya untuk kesekian kali.
"Argh, jangan aneh-aneh. Aku tidak mau melakukannya di mobil lagi. Pokoknya tidak mau. Badanku sakit semua!" Gadis itu melakukan prostes besar-besaran. Dia, trauma dua kali melakukannya karena paksa Max.
"Hahaha, dasar otak mesum!" Max tersenyum geli sambil menjitak pelan dahi gadisnya.
"Memangnya ada hal lain yang kau inginkan, selain tubuhku? Di dalam Perjanjian pun bukannya itu titik utamanya!" Irene sedikit ketus saat mengatakan hal yang menyakitkan baginya.
"Kau semakin pintar. Jadi, kau harus tetap mengingatnya. Jangan sekali berani melanggar. Hukuman yang kuberikan tidak pernah main-main!"
Max berkata sangat tegas menatap gadisnya.
Ya, anggaplah terus seperti itu, sayang. Agar kau selalu mengingatku dan tak berani macam-macam. Apalagi berpikir meninggalkanku. Atau mencoba mencari laki-laki lain.
Max terpaksa berkata kasar agar gadis itu tetap berada disisinya.
Andai saja ada orang yang membebaskanku darinya. Aku pasti bersyukur.
Irene hanya bisa tertunduk. Hatinya tiba-tiba menjadi terasa sedih dan nyeri kembali. Sepertinya dia sudah menyelipkan nama laki-laki arogan itu di hatinya.