MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
KINGKONG GILA



"Kak Max, tolong aku, huhu, huhu ...," Karina mode on tersedu mencoba mengulurkan tangannya. Tetap berusaha mencari simpati darinya.


Max memberikan kode pada Martin untuk membantu memapah Karina. Setengah tak mau, tapi akhirnya dia menerima bantuan pengawal yang membantunya berdiri.


Shasa segera merapikan diri, "Aku tidak menyerang duluan, Tuan Max, tapi dia sendiri yang memancingku." Shasa mencoba mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.


Mengesalkan. Aku tidak mau kalah dengan nenek sihir dan adik tiri sialku itu. Kalau tahu akan seperti ini, harusnya malam itu aku tidak meninggalkan dia. Pasti posisinya sekarang, aku yang sedang bersama dengan Tuan Max.


"Tidak, Kak Max, dia berbohong. Dia yang memulainya lebih dulu. Kau tahu kan aku bukan wanita seperti itu." Karina tak mau kalah memberikan pembelaannya. Dia berusaha menghampiri Max. Namun, laki-laki itu memundurkan tubuhnya seolah takut tertempel bakteri.


Apapun yang terjadi, pokoknya aku harus terus mencari cara agar berdekatan dengan kak Max. Aku harus mendapatkan hatinya. Agar dia bisa menerima kehadiranku, paling tidak seperti keberadaan kak Shareen dulu.


"Apa kau masih lama, hah, GORILA!!" Max berteriak keras memanggil Maureen.


Membuat duo ratu yang habis adu jambakan-jambakan tadi menciut dan tak berani berbicara lagi. Mereka berdua hanya bisa saling melirik. Memikirkan rencana dan mencari celah untuk bisa menarik hati Max.


Irene hampir tersandung saat keluar toilet. Dia benar-benar terkejut saat mendengar teriakan dari Max.


"Apa matamu buta, hah? Jalan saja sampai tidak melihat!" hardik Max.


Dia sudah mencengkram lengan gorila kecilnya dan menyeretnya pergi dari duo ratu yang membuat kepalanya tak berhenti nyut-nyutan.


Apa sih? Nih orang tahu-tahu marah. Memangnya aku salah apa? Dengus Irene dihati. Dia meringis menahan sakit di lengannya, tapi tak berani berteriak. Dia lebih memilih diam ketimbang memperkeruh lagi suasana hatinya.


"Kax Max!"


"Tuan Max!"


"Tunggu!"


Suara duo ratu yang tak mau ketinggalan. Mereka kompak kembali mengejar dan mengekorinya.


"Aku tidak ingin melihat mereka, Martin!" perintah Max dan dengan sigap Martin memberi kode pada para pengawal untuk menghadang keduanya agar tak mendekati tuannya.


Max mendorong masuk Irene ke mobilnya. Dia sedang mengibaskan tangan saat Max menutup pintu. Tubuhnya seakan melayang saat dia ditarik ke pangkuan Max.


Seperti laki-laki yang sedang kelaparan Max meraih tengkuk Irene dan meraup bibirnya dengan kasar. Membuat Irene kembali gelagapan dibuatnya. Tangannya terus menyusup dan meremas salah status milik gadis itu.


"Hah!" Maureen mengirup nafasnya saat Max sekejap melepaskan pagutan dibibirnya. Dia menyeringai penuh kepuasan menatap gorila kecilnya yang panik.


"Kau gila. Gila. Dasar kingkong gila!" cetusnya. Memukuli dada Max. Laki-laki tetap tersenyum melihat tingkahnya.


"Aku kan sudah bilang jangan melakukannya disini. Aku tidak suka!" lanjutnya. Maureen selalu merasa tak nyaman kalau dia melakukannya secara tiba-tiba di dalam mobil. Itu selalu membangkitkan saat pertama kali mahkotanya di renggut secara paksa oleh Max.


"Kenapa? Aku yang menentukan tempatnya. Kau tidak berhak memilih. Tugasmu hanya menurut dan melayaniku saja," lagi-lagi hati mengerut saat mendengar perkataan tajam dari mulutnya.


"Kenapa diam? Hah? Katakan lagi, ayo. Aku ingin mendengarnya!" Max mengusap dengan lembut bibir gorila kecilnya yang sudah membentuk sudut kerucut.


Graukk!! Max terkejut dan sedikit meringis ketika gadis itu tiba-tiba menggigit bibirnya. Lalu tak lama Max malah terkekeh tidak jelas. Membuat Irene bergidik ngeri.


"Jadi, kau suka main gigit-gigitan, hah?" Laki-laki tadi menarik tengkuk gorila kecilnya. Seperti seorang vampire dia berbisik dan bersiap menerkam lehernya.


"Argghh! Jangan, jangan gigit sih, ma-maaf!" Gadis itu segera mendaratkan lebih dulu kepalanya didada Max. Membuat laki-laki itu tak menghentikan senyuman dari wajahnya.


"Apa kau tidak merasakan cemburu, hah?" ucapnya melembut sambil mengusap rambut gadisnya.


Maureen menarik wajahnya, tepat wajahnya berada dibawah dagu laki-laki itu, "Cemburu?" ucap Irene lirih.


"Uhm, cemburu?" sambung Max.


Andai saja aku boleh cemburu. Aku juga ingin, tapi perasaan ini hanya milikku seorang. Dia, tak pernah berkata menyukaiku. Perkataannya barusan saja menunjukkan seperti aku ini peliharaannya. Sadarlah Irene. Kau tak boleh menghayal terlalu tinggi.


Gadis itu menggeleng mantap perlahan dua kali. Dia tak ingin membuat hatinya terlalu terlalu. Namun, wajah Max malah berubah suram.


"Jadi, kalau tadi aku memilih di antara mereka berdua, atau mereka berdua sekaligus, kau juga tidak akan cemburu?" Max berkata penuh penekanan.


Gadis itu tetap menggeleng mantap. Membuat tangan Max mencengkram dengan kasar wajah Irene. Max kembali melahap bibir gadisnya dengan rakus. Benar-benar meluapkan kekesalannya saat dia mendengar jawaban dari gadis itu.


Cih, bisa-bisanya kau berkata seperti itu padaku. Apa kau tidak tahu perasaan-ku padamu terus bergejolak dan tak bisa dihentikan. Aku bahkan sudah tak bisa lepas sedikitpun darimu. Tapi, kau malah berkata seperti itu.


Sewot Max dihatinya. Dia tak terima gorila kecilnya berkata seperti itu. Namun, dia sendiri tak pernah memberikan satu kepastian pada gadis itu selain soal perjanjian kontrak mereka. Soal perasaannya yang sebenarnya.


"Hah, aku sudah tak tahan lagi!" cetus Max yang gelora makin melambung.


Padahal posisi mobil mereka belum bergerak. Dan kedua wanita itu terus berteriak di luar mobilnya yang sedang dihadang oleh para pengawal Max.


"Puaskah, aku lagi!" Max merebahkan perlahan gadisnya. Irene hanya bisa memejamkan matanya. Max sudah merobek lagi kainnya yang dibawah sana. Gadis itu hanya bisa menikmati semuanya. Kehangatan dan kelembutan yang laki-laki itu berikan membuat tubuhnya pun menjadi candu. Gadis itu seolah menginginkannya lagi dan lagi.


Kedua wanita diluar mobil Max hanya bisa membekap mulutnya ketika mereka mendengar suara-suara penuh kenikmatan. Bahkan mereka tak percaya dengan yang didengarnya, suara Max disana lebih mendominasi. Max benar-benar mengeluarkan semua suara nikmatnya.


Karina terkulai lemas. Dia merasa kalah. Tangannya mengepal dengan eret. Dengan begitu dia tahu posisi Maureen benar-benar tinggi dihati Max.


Apa aku benar-benar sudah terlambat kak Max? Kenapa kau menyakitiku seperti ini. Harusnya sekarang akulah wanita itu. Wanita yang sedang kau belai dan manja. Akulah yang selama ini selalu bersama denganmu. Bukan wanita siluman rubah itu.


Karina merasakan hatinya sakit yang tak terhingga. Dia meremas bajunya dan bersiap merencanakan pembalasan untuk membayar semua sakit hatinya kali ini.


Astaga, mereka benar-benar melakukannya di muka umum. Adik tiriku itu benar-benar tak tahu malu. Sekarang dia sudah berubah menjadi benar-benar menjadi siluman rubah penggoda. Aku tidak akan membiarkan ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang dia miliki. Jangan harap dia akan mendapatkannya juga.


Shasa dengan eratan digiginya benar-benar tak bisa menerima kekalahan. Apalagi dengan adik yang selalu dia jadikan seperti batu sandungan di kehidupannya.