
“Dasar mesumm!” cetus Irene saat Max melepaskan bibirnya.
“Aku? Hah, siapa suruh bibirmu itu sangat manis. Aku saja tidak bisa menahannya!” sahut Max. Wajah gorila kecilnya makin memerah seperti udang rebus.
“Jangan membantah, kita pulang sekarang!” ucap Max. Kemudian, “Martin!” satu kata dari Max.
“Saya sudah meminta Bertho untuk menyiapkan makan malam, Tuan!” sahutnya tanpa ragu. Martin menghela nafas lega saat melihat perubahan tuannya yang kembali normal.
Max menarik tubuh gadisnya yang basah kedalam pelukan. Memberikan sedikit kehangatan untukknya agar tak menggigil terus.
“Huachim!” gadis itu mengosokkan hidungnya yang terasa gatal dan tak sengaja bersin. Martin lagi-lagi bergidik, tuannya tidak marah sama sekali.
“Kenapa lelet sekali, Martin. Cepatlah, gorila kecilku sudah kedinginan!” itulah yang terucap dari mulut Max bukan memarahi gadis itu.
Huh, benar-benar tuan ini. Apapun yang dilakukan nona Maureen, dia sama sekali tidak marah. Aku berharap, nona Maureen tak membuatnya marah lagi.
Saat turun tangan Max terulur untuknya. Gadis itu melirik Lola yang diseret paksa oleh para pengawal Max.
“Max, apa yang kau lakukan? Dia, teman baikku!” dia akan menghampiri Lola, tapi Max mencengkramnya dengan erat.
“Aku akan memberinya sedikit hukuman, kau jangan ikut campur?” cetus Max.
“Hu-hukuman? Memangnya apa salah dia, Max? Dia, tak berbuat jahat padaku!” gadis itu melihat temannya terus diseret masuk dan berteriak memanggil namanya.
“Hah, masih saja bertanya. Dia, itu sudah berani-beraninya menyentuhmu, tahu. Sudah jangan bahas. Ayo masuk dan bersihkan dirimu!” laki-laki itu tak menerima lagi perkataan yang akan keluar dari mulut gorila kecilnya.
Max menarik tangan gorilanya ke punggung dan menggendongnya masuk.
“Apa maksudnya dengan menyentuhku, Max? Dia, tak melukaiku sama sekali. Kau salah faham!” lagi gadis itu mencoba berbicara. Namun, sama sekali tidak di dengar oleh Max.
Max kembali mengatur suhu air di bathrobnya. Dia melucuti pakaian gorila kecilnya dan melemparkan tasnya sembarangan. Mengangkat kembali tubuhnya dan merendamnya di dalam bathrob. Tak berapa lama kini dia yang melucuti pakaiannya dan bergabung dengan gorila kecilnya.
“Uhm!”
“Sungguh, jangan hanya bilang, uhm, saja!” protesnya.
“Tetap saja dia bersalah!” Max tetap pada pendiriannya.
Hih, apa sih salahnya Lola? Dia, sama sekali tak menjelaskan. Dasar kingkong jelek.
“Kau mengumpatku lagi?” cetus Max, dia menarik pipinya. Saat dia melihat gorila kecilnya sudah membentuk bibir berkerucut.
“Habisnya—,” lagi-lagi Max gemas sendiri. Dia kembali menarik wajah gadisnya ke belakang dan memberikan ciuman hangatnya.
“Jangan banyak bicara lagi. Aku tidak mau kau sakit, ok!” ucapnya malah menyentuh hati gadis itu yang di kokohkan menjadi lumer. Meleleh seperti es terkena api.
Max mengangkat tubuh gadisnya setelah memakai handuk. Dia melemparkan satu lingerie berwarna merah untuknya.
“Aku tidak mau pakai ini. Apa tidak ada yang lain. Lagipula aku sangat lapar!” dia menghempaskannya ke ranjang.
“Aku akan menyuruh Bertho mengantar makanannya ke kamar. Jadi, jangan beralasan. Cepat pakai!” tak ingin ada penolakan. Dia mendelikkan mata sambil berkacak pinggang pada gorila kecilnya.
“Arggh, kau terus saja memaksaku. Sebal. Sebal!” mulutnya protes tapi, tangannya mengambil kembali lingerie tadi dan segera memakainya.
Max terus memandangi wajah gorila kecilnya yang berwajah kecut saat menikmati makanannya. Laki-laki itu dengan senyuman yang tak diketahui gorila kecilnya. Memandangi wajahnya tanpa rasa jemu.
Bagaimana aku harus mengikatmu, sayang. Aku tidak akan mungkin melepaskan dirimu lagi. kamu yang sudah menolongku hingga aku mencapai posisi seperti ini. Jika, bukan karena pertemuan hari itu. Mungkin saja, aku sudah tak berada di dunia ini. Ini hanya salah satu balasan kecil dariku. Kumohon, tetaplah disisiku. Jangan pernah menjauh dan pergi lagi dariku. Sebab, kemanapun kau pergi, aku pasti mengejarmu.
Tatapan yang diberikan oleh Max. Hanya dibalas kecut oleh gadis itu. Gadis itu terus mengumpat Max, kingkong jelek dan tak punya perasaan.