MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
KONTRAK SEUMUR HIDUP



Max mengeratkan giginya. Dia benar-benar geram dengan sikap terpuruk yang ditunjukkan oleh gadis itu.


"Tanda tangan kontak seumur hidup denganku. Kau tidak berhak memiliki hidupmu. Aku sepenuhnya, pemiliknya. Apa kau setuju?" Max menarik wajah gadisnya. Menatap lekat-lekat wajahnya.


Sorot matanya meredup. Maureen tampak berpikir. Dia tahu dia memang sudah dibeli. Namun, dia tadinya masih mempunyai sedikit harapan bisa melunasi hutang.


Sekarang laki-laki itu meminta hal yang sulit, tapi tawaran yang diberikan imbalannya adalah keselamatan ibunya. Ibunya akan selamat dan terbebas dari semua ancaman yang menyiksanya.


Max melipat kedua tangannya didada. Masih setia menunggu jawabannya. Dia tahu cepat atau lambat gadis utara itu tidak akan punya pilihan. Dia pasti menyetujuinya.


"Apa tak ada sedikit kelonggaran. Jika, mungkin saja suatu hari nanti aku bisa melunasi. Apakah aku bisa membatalkan kontraknya?" Maureen berkata dengan semua keyakinannya. Walaupun tipis, setidaknya dia tetap mengusahakan.


Cih, berani sekali dia memikirkan kontraknya akan berakhir. Dengus Max dihati.


"Masih berani kau berpikir seperti itu, hah?" satu sentilan meluncur mulus di keningnya.


"Aw!" Maureen meringis. Memegangi dahinya.


"Kemarilah!" Max menarik Maureen ke sofa dan menyingkap gaunnya.


"Akh, kau mau apa lagi?" Maureen segera menutup rapat area bawah miliknya dengan tangan.


"Coba saja kau tutupi terus, aku jamin akan membuat kesusahan ibumu sekarang akan bertambah berkali-kali lipat!" ucap Max penuh penekanan. Dia sudah kembali membuka sarangnya yang menegang dan bersiap dihujamkan lagi.


"Kau benar-benar maniak, Max. Kita melakukannya belum lewat dari dua jam, kau tahu itu kan" protesnya.


"Kau pikir aku perduli. Yang aku tahu, saat aku menginginkan, kau tidak boleh menolaknya!" tangan Max menghempaskannya. Dia kembali merobek kain segitiga miliknya.


"Begini baru benar. Kau pintar!" sedetik kemudian Max sudah menggila. Suara dan lengguhanya begitu keras. Dia benar-benar menikmati candunya di tubuh gadis itu.


"Aku akan membereskan semua untukmu. Kau tenang saja, ibumu pasti akan selamat. Aku yang menjamin semua. Dan, kau, menurutlah, pindah ke tempat yang sudah aku sediakan!" pintanya.


Max sedang menutupi celananya, "Uhm, ya sudah. Tapi, izinkan aku tetap bekerja setidaknya aku juga ingin mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri!" Maureen memintanya dengan tulus.


"Baik, kemarilah sebentar!" Max memberi tanda agar dia duduk di pangkuannya. Maureen menghampiri meja kerjanya dan menuruti semua permintaannya.


Max menarik tengkuk gadis itu dan memberikan kecupan panas di bibirnya. Lidahnya bermain trampil didalamnya.


Max menekan tombol dan tidak lama Martin dan Gina masuk ke ruangan. Gina memicing tajam saat melihat Maureen duduk dipangkuan bosnya dan masih melakukan adegan ciuman mesra.


Cih, ternyata hanya wanita panggilan. Tidak ada yang istimewa darinya. Wajahnya biasa saja, tubuhnya, ah, dibandingkan dengan punyaku. Dia bukan apa-apa.


Umpatnya kesal saat Max melepaskan segera pagutannya dan Maureen membenam wajahnya di dada Max karena malu.


"Mana kontrak yang aku minta, Martin?" Martin mendekati tuannya dan memberikan berkas yang dibawanya.


"Tanda tanganlah!" Max berkata dengan sangat lembut pada gadis itu.


Maureen yang telah setuju dan dia yakin Max pasti masih bisa diajak negosiasi. Dia pun membubuhkan tanda tangannya.


"Antarkan dia ketempat yang sudah aku siapkan, Martin!" perintahnya kemudian.


"Ikutlah dengan Martin dan tunggu kepulangan-ku!" bisiknya. Maureen lagi-lagi mengangguk.