
Baru saja Maureen melangkah masuk kedalam ruangan. Dia, sudah dikejutkan dengan satu koper yang dilemparkan. Koper itu tepat jatuh di kakinya dan isinya berhamburan.
PAKK!
Satu tamparan mendarat diwajahnya. Terasa perih dan pedih dia rasakan.
"Kau masih berani pulang?" seorang wanita berkata dengan sangat angkuh setelah dia mendaratkan tamparan keras tadi diwajahnya.
Maureen memegangi wajahnya, dia menatap Shasa, kakak yang semalam meninggalkan dirinya sendiri di pub terlihat dengan balutan perban di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dia, berkata dalam hatinya. Masih belum mengerti dengan drama yang dibuat oleh kakaknya.
"Sudah Ma ... jangan marah lagi. Ini semua bukan kesalahan Maureen. Aku yang salah, aku memang berpisah dengannya semalam!" Shasa berkata dengan isak tangis dan menghampiri Maureen. Dia, mencoba menjadi pembela untuk adiknya.
"Ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti sama sekali dengan ini," ucapnya. Maureen masih mencoba membaca situasi. Dia, benar-benar tak mengerti dengan ucapan Shasa.
"Dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih. Aku sudah merawat-mu, tapi inikah balasannya? Kau mencelakai kakakmu, hah!" tudingnya dengan penuh kemarahan.
"Mencelakai? Apa maksudnya, kak?" Maureen melayangkan pandangannya pada kakak liciknya itu.
"Shasa bilang kau meninggalkannya dengan teman-teman lelakimu. Dia, hampir saja dikerjai mereka kalau dia tak menyelamatkan diri!" ucap Ibu tiri Maureen.
Maureen seperti disambar petir di pagi hari yang terang benderang. Dia, tak menyangka kakaknya akan membalikkan keadaan. Jika dia sekarang memberikan pembelaan pun pasti tidak ada yang percaya. Ataupun berbicara soal fakta bahwa kakaknyalah yang telah meninggalkan dirinya.
"Apa benar kak? Kakak ditinggalkan olehku semalam?" Maureen menatapnya dengan penuh amarah. Dia, berharap kakaknya kali ini memiliki hati nurani.
"A-aku sudah bilang Ma, ini salah faham. Kami, tidak sengaja terpisah, bukan Maureen yang meninggalkanku!" Shasa tetap berkelit dan memberikan pembelaan diri.
"Hei, kau lihat sendiri betapa baiknya anak-ku ini. Dia, sangat baik hati dan polos. Kau meninggalkannya pun masih tetap dia bela!" ibu tiri Maureen merengkuh anaknya dan mengusap punggung anaknya, seolah-olah anaknya yang tersakiti.
Astaga, sampai kapan aku harus menjalani sandiwara ibu dan anak yang munafik ini. Tak ada seseorang pun yang membelaku.
Maureen tetap diam, dia kemudian berjongkok dan memberesi isi koper yang berhamburan tadi.
"Sebaiknya kau introspeksi dan jangan kembali sebelum kau memperbaiki diri!" usir ibu tiri Maureen.
"Tapi, kemana aku harus pergi, Bu?" Maureen mengiba. Padahal dia berniat akan beristirahat karena tubuhnya terasa sakit semua.
"Aku tidak perduli, yang penting kau keluar dari rumah ini. Aku sudah tak mau melihatmu ada dirumah ini!" hardik ibu tirinya. Dia, terlihat geram dan tak sabar hingga mendorong tubuh Maureen hingga tersungkur kembali di lantai.
"Ada apa ini, Wina?" suara laki-laki memecah ketegangan mereka.
Wina dan Shasa menatap seorang laki-laki yang baru saja datang diambang pintu. Tidak lain, dia adalah Johan ayah kandung Maureen juga ayahnya Shasa.
"Pa-pa kau sudah pulang?" Wina bergegas menghampiri dan menggandeng lengan suaminya.
Johan menatap Maureen yang bangkit sambil menenteng koper.
"Ada apa ini? Dan, kau mau kemana?" tanya Johan. Dia, tak mungkin mengizinkan Maureen untuk keluar dari rumah keluarga Aditama sebab dia tahu hak dan harta warisan masih sepenuhnya atas nama Maureen.
"Ti-tidak kemana-mana, Pah. Adik Maureen baru saja pulang dari liburannya, iya, kan, Maureen!" Shasa maju lebih dulu dan mencubiti pinggang Maureen.
"I-iya, Pah!" walaupun pahit akhirnya dia pun mengiyakan ucapan kakak liciknya itu.
"Baik, kalau begitu kau beristirahatlah. Nanti malam, Papa ada acara makan malam, Papa harap kalian berdua bisa hadir!" perintah Johan.
Wina dan Shasa saling melirik dan memberikan kode agar membawa Maureen ke kamarnya.
Maureen digandeng Shasa kembali ke kamarnya. Dia, tak ingin ayahnya yang baru kembali curiga atas ulah mereka barusan.
Brukk!
Maureen di dorong kasar saat dia sudah berada di depan pintu kamarnya. Shasa mendorong kasar tubuh Maureen hingga dia tersungkur kembali di kamar kecilnya.
"Kemana kau pergi semalam, hah? Aku akan buat perhitungan denganmu! Jangan harap kau bisa lolos begitu saja!" Shasa mencengkram kasar wajah adiknya.
"Kenapa kak? Kenapa kakak tega melakukan ini padaku? Apa salahku kak?" Maureen berkata dengan deraian air mata yang tak bisa ditahannya lagi.
Maureen, sebenarnya sudah sangat muak dengan drama terenovela yang dibuat oleh kakak liciknya itu.
Shasa, selalu bersikap baik seperti seorang kakak yang selalu menyanyangi adiknya. Melindungi dia dengan segala jiwa raga, padahal tidak.
Maureen ingin sekali memuntahkan semua kekesalan dalam hatinya. Namun, setiap kali dia mencoba melawan ancaman demi ancaman selalu saja Shasa sudutkan. Apalagi, dia memegang kendali kondisi ibu kandung Maureen yang terbaring di rumah sakit.
"Ya, kau memang salah. Siapa suruh kau terlahir sebagai putri dari keluarga Aditama sedangkan aku hanya dari rahim ibu orang biasa. Kenapa kau selalu saja beruntung, mendapatkan semua yang kuinginkan dan mendapatkan perlindungan dari ayahku!" dia memuntahkan segala amarahnya pada Maureen.
Maureen membelalakan matanya, dia tak percaya dengan pengakuan yang keluar dari mulut kakaknya itu.
"Kenapa kau menyalahkan aku kak, aku pun tak pernah berharap seperti ini. Selama ini pun aku tak pernah membedakan. Aku selalu memberikan apapun yang kau inginkan!" dia mencoba melawan kakaknya. Dengan tubuh dan bibirnya yang bergetar.
"Apa yang kau berikan, hah? Ini maksudnya?" Shasa menunjukkan luka di kepalanya. Dia, terlihat begitu marah dan mencengkram kasar tubuh adiknya.
"Kau tahu, gara-gara kau pergi semalam. Aku-lah yang menggantikanmu. Aku kan sudah bilang padamu untuk menolongku!" dia berkata sambil mengeratkan giginya dan melemparkan kembali tubuh Maureen ke lantai.
Maureen terkejut dengan ucapan kakaknya. Dia secara tidak langsung mengakui kalau semalam dialah yang sedang menjebak dirinya.
Pintu di tutup keras oleh Shasa. Seperti hati Maureen yang terasa sangat sakit. Dia, benar-benar tak menyangka bahwa kakaknya berencana menjual dirinya pada laki-laki hidung belang.
Apa salahku Ma? Mama, aku sangat takut disini. Mama cepatlah kembali. Aku kangen sekali denganmu...
Tangisan Maureen pecah dikamar. Dia, ingin sekali meraung dengan sangat keras. Mengeluarkan semua sakit hatinya.
Selama ini dia sudah berusaha sabar melayani sikap ular kepala dua ibu dan kakak tirinya. Mereka selalu menyembunyikan sikap kasar dari ayahnya. Bukan berarti ayahnya selalu membelanya.
Maureen tahu dirinya berada dalam keluarga Aditama hanya dijadikan sebagai alat. Alat transaksi dalam suatu acara atau pertemuan keluarga. Agar nama keluarga Aditama selalu terlihat baik dimata kolega bisnisnya.
***
Halo, Terima kasih untuk readerku yang baik hati atas dukungan 😍
Jangan lupa berikan dukungan kalian lewat like, favorit, rate 5 dan tinggalkan komentar terbaikmu. Dukungan kalian adalah semangat untukku menjadi lebih baik. 🙏🙏