MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
GADIS YANG KUSUKAI



Maureen melepaskan tangannya saat matanya akan berkeliling ruangan. Dia mengucek kedua matanya saat melihat satu meja sudah dipenuhi oleh makanan. Dia tersenyum dan melompati mendekatinya.


Wuahhh, benar-benar makan besar. Aku yang selalu kesulitan makan, padahal aku memiliki uang. Namun, uangku tak bisa disentuh tanpa persetujuan papa-ku. Huhh ... orang kaya memang sangat enak.


“Makanlah pelan-pelan, aku akan segera kembali untuk memakanmu!” Maureen menganguk-angguk, tapi saat mendengar kata terakhir, dia langsung mendorong jauh tubuh Max yang sudah melingkar dipinggangnya.


“Hah, itu terus yang dibahas. Apa kau tidak bosan!” Maureen berkerucut bibir.


“Hahaha, aku gemas sekali! Huh, apa aku suruh Martin saja yang mewakilinya!” gerutunya, kedua tangannya malah menarik pipi chubby Maureen.


Seketika mata Maureen mendelik, “Arrggh! Jangan. Kau saja yang pergi, sana pergi!” dia segera menghempaskan kedua tangannya.


Berusaha keras mendorong tubuh besar Max agar mendekati pintu.


“Oke, oke, aku pergi. Berikan aku satu ciuman dulu,” ucapnya. Kini tanpa rasa malu dia meminta pada gadisnya.


Secepat kilat Maureen mendaratkan kecupan di pipi Max. Membuatnya tersipu melihat tingkah polah gadis itu.


“Jangan nakal. Aku tinggal sebentar!” dia mengacak rambut gadis itu dan keluar dari ruangannya.


Hurf, akhirnya dia pergi juga.


Ponselnya kembali bergetar. Gadis itu merogohnya. Wajahnya langsung tersenyum saat melihat pemanggil di benda pipihnya itu.


“Kau sudah sampai?” suara Nick terdengar tertahan.


“Aku ingin sekali bisa bertemu denganmu, bisakah?” Maureen terdiam saat mendengar permintaan orang yang dicintainya itu.


Dia bukan tak ingin bertemu. Namun, ancaman dari Max tadi sudah membuatnya sadar. Dia tak boleh seenaknya lagi.


“Akan aku pikirkan lagi kak. Setelah aku tidak sibuk, kita mungkin bisa bertemu,” ucapnya. Dia tak berani memberi janji.


“Baik, aku tunggu kabar darimu!” Maureen mematikan ponselnya.


Maureen kembali menarik nafas panjangnya. Yang dia tidak ketahui, setelah kepergiannya di taman tadi. Nick sempat mengikuti. Dan, dia melihat saat Maureen di paksa masuk kedalam mobil.


Nick melihat dengan jelas laki-laki yang memaksa gadis itu. Laki-laki yang sama saat pertemuan keluarga dengannya semalam. Ya, Maximus Mollary membawa gadis yang disukainya.


Dia tadinya ingin berlari dan mencegah kepergian gadis itu. Namun, tidak bisa dia lakukan. Karena kaki dan lehernya sudah terikat dan terbelenggu oleh keluarga.


Nicholas Fernando hanya putra boneka bagi keluarga. Dia harus menurut kalau tidak semua akses keuangan dan segala yang dia miliki harus ditanggalkan. Dia masih belum memiliki pijakan yang kuat untuk mempertahankan yang dia ingin miliki.


"Haduh, aku sudah kenyang banget. Sayang banget makanannya. Dia pasti akan menyuruh orang untuk membuang," Maureen bergerutu sendiri melihat sisa makanan yang akan dihamburkan.


Tinggal di keluarga Aditama setelah kecelakaan ibunya. Tak seharipun dia merasa tenang. Kadang dia seharian hanya bisa menahan lapar.


Ibu dan kakak tirinya tak memperhatikan makannya. Dia, hanya akan diberi jatah makan tiga kali jika ayahnya ada di rumah. Selebihnya jika ayahnya sedang berada di luar rumah. Sekali makan saja sudah keberuntungan baginya.


"Ada apa? Kenapa dengan wajah gadis yang kusukai ini terlihat begitu sedih? Apa makanannya kurang?" satu kecupan mendarat di keningnya, membuat lamunannya tersadar.