MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
AKU TAMBAH LIMITNYA



Max hanya tersenyum saat memperhatikan tangan gadis itu menyentuhnya. Hohoh, pagi-pagi sudah menggodaku. Apa dia tidak tahu dari semalam aku menahannya. Perlahan tangan Max sudah melingkar dipinggangnya.


Maureen melirik dan akan melepaskannya, “Berani kau sentuh. Aku potong tanganmu!” ancam Max saat dia akan menyentuhnya.


“Haiss, kau kejam banget sih!” Maureen membanting kepalanya didada Max.


“Kau masih marah padaku?” ucapnya sambil mengusap rambut gadis itu.


“Uhm, aku sebal. Kau tak mengizinkan aku keluar. Para pengawal membuatku tak nyaman. Kau mengekang kebebasanku. Itu tidak ada dalam perjanjian!” cetusnya. Berbicara sambil meletakkan kepalanya dilengan kekar Max.


“Siapa bilang tidak ada dalam perjanjian. Bukankah sebelum perjanjian, aku bilang, kau tak berhak memiliki hidupmu. Hanya aku seorang pemiliknya!” kembali Max mengingatkannya pada perjanjian yang membuat dada


gadis itu nyeri.


“Iya, ya, tapi setidaknya izinkan aku bekerja. Aku hanya ingin bekerja. Aku ingin merasakan uang dari keringatku sendiri!” dengusnya.


Cih, dimana-mana wanita yang mendekatiku selalu menginginkan uang. Kenapa dia malah tak menyukai uangku.


“Kerja? Pekerjaan apa, hah? Apa menjadi kasir mini market atau tukang cuci piring dihotel, ah, atau kau menjadi pelayan dan tukang bersih-bersih di restoran. Atau mungkin yang sedang kau incar menjadi pengantar minuman di bar!” Max berbicara sambil menatap wajah gadisnya. Dia tertunduk saat Max membongkar semua pekerjaannya.


Huh, dia benar-benar sudah menyelediki. Sepertinya aku tidak akan mudah lolos begitu saja darinya.


“Habis mau bagaimana lagi, uangnya disana kan lebih besar. Aku bisa mendapatkan uang lebih banyak dari pekerjaan-pekerjaan yang lainku itu!” cetus Maureen. Dia memang baru saja mendapatkan chat dari Lola soal perkerjaan pengantar minuman di bar.


“Apa kau bilang? Apa uang yang kuberikan padamu kurang? Lebih besar katamu!” Max menghempaskan tubuh Maureen dan duduk dipinggir ranjang.


Dia ingin sekali memuntahkan kemarahannya saat gadis itu menyinggung soal uang. Namun, hatinya langsung mencair saat melihat wajah Maureen. Dia tak tahu kenapa wajah gadis itu membuat hatinya luluh.


“Bukan seperti itu, Max, tapi aku dan kau kan hanya terikat sebatas kontrak yang kau buat itu. Kau kan tak mungkin selamanya ...,” Max berbalik.  Dia memicingkan mata dan menaikkan rahangnya dengan kasar. Gadis itu sudah memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di punggung.


Berani sekali dia sudah memikirkan cara untuk meninggalkanku. Sepertinya aku harus memberi pelajaran agar membuatnya jera. Atau perjanjian kemarin tak bisa membuatnya terkekang denganku. Pikiran Max berkecambuk.


“Kalau kau kekurangan uang. kau bisa katakan. Berapapun  yang kau inginkan akan aku berikan. Kau ini wanitaku. Apa aku akan biarkan wanitaku bekerja di tempat seperti itu!” cetus Max. Dia masih menumpahkan kemarahannya dengan gadis itu.


Wanitaku. Wanitaku. Berapa banyak wanitanya pun aku tidak tahu. Kalau dia terus mengekangku seperti ini. Bagaimana aku menjalani hari-hariku.


Maureen tetap menggelengkan kepalanya. Dia tak menggubris semua perkataan yang keluar dari mulut Max. Dia, hanya ingin mempunyai sedikit kebebasan.


Cih, hanya dia saja yang menolak uangku. Apa aku kurang kaya dimatanya. Max mengartikan penolakan dari gadisnya.


“Aku akan tambahkan limitnya. Lima  milyar setiap aku menemuimu. Jika aku menyentuhmu, aku tambahkan dua kali lipat, jadi lima belas milyar. Apa itu masih kurang?” Max berkata dengan penuh arogansisme. Dia benar-benar tidak ingin penolakan lagi.


Mungkin hanya orang bodoh seperti Maureen yang tetap menolaknya. Tawaran fantastis itu tidak akan mudah didapatkan. Namun, gadis itu lagi-lagi menggeleng.


“Kau!” delik Max.


“Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin, kau mengizinkanku berkerja!” cetusnya. Gadis itu masih saja bersikeras dengan keinginannya.


"Daripada kau membahas itu, lebih baik kau katakan berapa nominal yang kau inginkan!" ucapnya tak mau kalah dengannya.


Max memijat kepalanya. Dia baru sekali merasakan pening diotaknya. Ketika seorang gadis bukan hanya menolak pesonanya. Dia bahkan menolak semua yang dia berikan.


Max tak memperdulikan lagi ambekan Mauraan. Dia menyibak selimut dan berajak ke kamar mandi. Tak lama bel berbunyi. Gadis itu turun dari ranjangnya.


“Selamat pagi, Nona Maureen!” Martin sudah berada di ambang pintu. Gadis itu tak menjawab. Wajahnya masih kecut, tapi tangannya membuka lebar pintu.


“Selamat pagi, Tuan Max!” sapanya lagi saat melihat Max keluar dengan handuk yang membalut di pinggangnya.


“Hmm, kau sudah datang!” Max menerima paper bag yang diberikan Martin.


Maureen malas melirik mereka. Dia meninggalkannya dan kembali membantingkan tubuhnya di ranjang. Dia, tengkurap dan menutupi kepalanya dengan bantal.