
"Hah, kau memang benar-benar keras kepala!" dengus Max. Dia menghempaskan pelukannya. Mulai memakai pakaiannya.
Maureen pun mengenakan pakaiannya, "Aku kan sudah bilang, aku akan mencari tempat baru. Kau jangan marah lagi ya!" gadis itu memberanikan diri memeluk tubuh Max dari belakang. Mencoba untuk membujuknya.
"Aku tidak setuju! Kalau kau memilih tempat sendiri, kau pasti akan mencari tempat kumuh seperti ini. Aku tidak suka. Pindahlah ke tempat yang aku sediakan!" Max berkata penuh penekanan. Bagaimanapun dia tetap menginginkan yang terbaik untuk gadis itu.
"Aku hanya memohon, jangan tambah lagi hutangmu padaku. Aku pasti tidak akan sanggup untuk membayarnya," ucap gadis itu lirih. Max yang sedang mengancingkan bajunya berhenti dan menolehkan kepalanya pada Maureen.
Berkali-kali ingin marah, tapi hati Max tetap tak pernah tega. Apalagi gadis itu sudah memohonnya secara langsung.
"Tiga hari. Paling lama. Aku memberikan waktu untuk berpikir sebelum kau pindah ke tempat yang kusediakan!" ucapnya tegas. Max tak ingin lagi bernegosiasi. Dia tahu, dirinya sudah tak bisa jauh lagi dari gadis itu.
Maureen tak bergeming. Dia hanya menundukkan wajahnya. Dia tahu, tak berhak menolak, kebebasannya sudah tak berarti apa-apa.
"Kau mendengar ucapanku?" Max menarik wajah gadis itu agar menatapnya.
"Uhm." jawab Maureen terdengar acuh tak acuh.
"Martin!"
Martin masuk, Max memberi kode agar memindahkan tubuh Lola yang tergolek di lantai.
"Ini bayaranmu. Limit sama, satu milyar!" kembali Max memberikannya kartu hitam. Totalnya sudah ada tiga kartu di tangan gadis itu.
Hanya dalam dua malam dia sudah mendapatkan tiga milyar untuk jasa kehangatan yang dia berikan. Juga ratusan milyar untuk menghidupkan kembali perusahaan, dan tiket kesenangan lain untuk ibu dan kakak tirinya.
Huh, dia benar-benar tak memikirkan uang yang dikeluarkan. Sangat royal. Pasti wanita yang benar-benar di cintainya sangatlah beruntung. pikiran gadis itu.
Kak Nick : Bisakah kita bertemu? Aku akan menunggumu di tempat biasa pada jam makan siang.
Lama gadis itu memandangnya. Ragu-ragu dia akan membalas pesannya. Namun, akhirnya dia memutuskan mengirimkan pesan dengan jawaban.
Kesayangan : Baiklah.
Jawaban langsung dibuka oleh Nick. Di kamarnya, Nick terlihat memandangi ponselnya. Dan jawabannya membuat Nick bisa bernafas lega.
***
"Kau jadi mencari tempat baru, Ren?" Lola berbicara sambil meletakkan dua piring nasi goreng dengan telur ceplok mata sapi.
"Uhm!" jawab gadis itu terlihat tak bersemangat.
"Mau aku temani?" Lola menarik kursi makannya, duduk berhadapan dengan Maureen.
Sebenarnya dia ingin sekali ditemani. Namun, jika dia ingat lagi, dia akan bertemu dengan Nick, Maureen segera menggeleng pelan.
"Ok, yang penting kamu hubungi aku jika sudah selesai. Aku benar-benar menghawatirkan dirimu, aku takut Shasa melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan!" ucap Lola sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya.
"Iya, La. Terima kasih juga kamu sudah mau menampungku!"
"Jujur aku lebih senang kalau kau tinggal disini bersamaku. Ya ... walaupun tempat tinggalnya tidak seperti di rumahmu, tapi setidak disini kau bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan ibu dan kakak tirimu itu," kecut Lola berkata. Dia sangat tahu sejarah temannya itu yang selalu dibuat kesulitan oleh mereka.