
"Bagaimana dengan orang-orang yang kusuruh?" Max berkata saat dia akan membuka pintu mobilnya.
"Nona Maureen tidak melakukan pergerakan apapun. Dia, tetap berada didalam tempat temannya itu, Tuan!" laporan Martin setelah orang suruhannya tetap berjaga dan memberikan foto untuknya.
Huh, bisa-bisa dia tertidur pulas disaat aku mengingat dirinya.
Max tak menjawabnya. Dia membanting pintunya dengan kecut. Tubuhnya tak bisa berhenti memikirkan Maureen. Perlahan tapi pasti gadis itu sudah mulai menggerogoti relung hatinya.
"Kita ke tempat mereka saja Martin!"
cetus Max tiba-tiba. Tubuhnya seolah tak menginginkan gadis lain. Dia hanya ingin lagi dan lagi bersama dengan gadis itu.
Martin melirik spionnya. Dia tahu keinginan tuannya tidak mungkin dia menolaknya.
"Baik, Tuan!"
Mobil mereka melaju cepat ke tempat di tuju. Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah berada didepan pintu kamar Lola. Dengan para ahli kunci, hanya beberapa detik pintu terkunci itu terbuka.
Max menghampiri ranjang Lola. Dia melihat setengah dari kaki Maureen yang tersibak dari selimut. Membuat Max menelan salivanya saat melihat posisi tidur gadis itu.
Berani sekali dia tidur seperti ini. Kali ini jika bukan aku yang masuk, mau dia tunjukkan ke siapa tubuh yang menggodanya itu.
Cibir Max dihati. Dia, memberikan isyarat pada Martin untuk memberikan obat bius pada Lola, agar gadis itu tiba-tiba tidak terbangun saat dia melakukan pergerakan. Kemudian, Max menyuruhnya untuk meletakkan di lantai.
"Tunggu dan berjagalah di luar!" ucap Max. Mereka pun keluar dari ruangan yang telah disterilkan tersebut.
Max kembali melucuti bajunya satu persatu dan dia bergerak perlahan mendekati gadis itu. Dia, menyibakkan selimut yang membalut tubuh gadis itu. Membuka kedua pahanya dan membenamkan wajahnya didalam sana.
Yang benar saja? Apa aku mimpi basah? Tapi, kenapa terasa sangat nyata.
Setengah kesadarannya masih berkecamuk. Dia membuka matanya dan membulat dengan lebar.
"Arrggh, ka-kau!" Maureen menarik kepala Max dari area miliknya.
"Ah, kau sudah bangun?" seringainya dan mendekati wajahnya.
"Se-sedang apa kau disini?" tentu saja Maureen panik. Apalagi dia sekarang sedang berada di ranjang temannya itu.
"Tentu saja aku kangen, aku butuh jasa kehangatanmu sekarang!" Dia tanpa ragu mendaratkan ciuman panasnya dibibir gadis itu. Membuatnya tak berbisik saat gadis itu akan mengeluarkan aksi protesnya.
"Akh!" Maureen bersuara sudah tak jelas saat Max melepaskan pagutannya.
"Kau tidak bisa protes dan menolakku. Aku sudah membelimu dengan mahal, jadi kau tinggal menurut dan nikmati saja!" Max tanpa tedeng aling-aling segera menghujamkan benda miliknya yang sudah siap sejak tadi. Bergerak dan memompa diatas tubuh gadis itu.
Membuat Maureen yang kini hanya bisa menggila akibat serangan fajar yang diberikan oleh Max. Setelah pelepasan beberapa kali, Max roboh sambil memeluk tubuh Maureen yang sudah berpeluh.
"Ayolah, tinggal denganku saja. Aku tidak akan pernah puas jika melakukan hanya satu kali sehari denganmu," bujuk Max sambil membelai lembut rambut gadis itu.
Gadis itu tahu, dia tak mungkin menolaknya. Apalagi hutang yang dibelitkan di lehernya sangat banyak. Tubuhnya pun jika digadaikan, seperti kata Max, pasti tidak akan pernah akan sanggup menerimanya.
"Tidak! Aku akan mencari tempat baru. Dan, kau bebas kapan saja datang padaku. Aku janji tidak akan menolaknya. Kau tahu dengan pasti kan, aku tidak mungkin menolaknya!" tegas dan mantap gadis itu menjawab.
Dia tahu posisinya hanya sebagai selimut penghangat ranjangnya saja. Namun, usaha sekecil apapun Maureen tetap harus melakukan. Dia, tetap harus berusaha mengumpulkan uang untuk membayarkan semua hutang-hutang yang dia tanggung karena ulah keluarganya.