MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
ASTAGA DIA SERIUS!



Mereka hanya saling menatap. Maureen belum berani berbicara, dia masih shock karena teriakan Max barusan.


"Katakan, kalian sedang apa? Atau aku tembak kalian!" cetusnya. Max berbalik tepat di tubuh Martin. Tangannya merogoh saku jas Martin dan menodongkan pistol tepat di kepala Bertho.


Astaga, dia benar-benar serius dengan ucapannya. Gadis itu melompat dari duduknya.


"Max, kau gila!" Irene merasa bersalah kalau harus ada yang terluka karenanya. Gadis itu berdiri di hadapannya.


"Katakan padaku, apa yang sedang kalian lakukan?" cetusnya. Max masih belum menurunkan tangannya dari kepala Bertho.


"Aku cuma minta tolong untuk membungkus makanan untuk Lola. Sungguh, jangan main-main, Max. Tolong turunkan senjatanya." Hati Irene ketar ketir dibuatnya.


Max bukan hanya phobia atas apapun karena sentuhan, dia juga tak suka apapun miliknya disentuh.


"Aku tidak percaya, kau pasti sedang berbohong padaku!" Max mulai menarik pelatuknya.


"Argghhh! Jangan main-main, Max. Itu nyawa orang!" paniknya Irene mau tak mau dia melompat kepelukannya. Dia tak mau menyaksikan orang mati begitu saja dihadapnya.


"Aku tidak sedang main-main. Katakan, apa yang sedang kalian rencanakan?" lagi Max masih tak mempercayainya.


"Sudah aku bilang, aku hanya meminta tolong pada Bertho untuk membungkuskan makanan untuk Lola! Aku mohon, percayalah, aku mana berani berbohong padamu!" Gadis itu berusaha membujuknya dengan menyentuh tangan dan menengadah wajahnya.


Sesaat Max menatap gadis itu, dia tahu kalau berlama-lama menatapnya yang ada dia menjadi luluh.


"Sungguh, Max. Aku tidak sedang bercanda. Kau boleh tanya pada Bertho!" Mata Max kini melayangkan tatapannya pada Bertho.


"Be-be-nar, Tuan, Nona Maureen hanya meminta tolong pada saya untuk membungkuskan makanan untuk Nona Lola," ucap Bertho mencoba menjelaskan dengan keringat bercucuran di dahinya.


"Max, percayalah. Aku mohon," ucap Irene. Dia sedikit ragu-ragu mencoba menyentuh lengannya lagi.


Laki-laki itu tak bergeming dan tak menggerakkan tangannya, "Sa-sa-yang, aku mohon percayalah!" Gadis itu sedikit meringis, dia tak yakin perkataannya barusan bisa merubah pikirannya Max.


Huh, apa aku tidak salah dengar? Dia, dia menyebutku sayang? Bagaimana aku bisa bertahan dengan wajah yang menggemaskannya itu. Max melirik dan perlahan menurunkan tangannya.


"Coba katakan sekali lagi?" ucap Max, tangannya sudah menyentuh pipi Irene. Dia seketika benar-benar luluh hanya dengan sentuhan tangan saja.


"Apanya?" Malu sekali kalau gadis itu harus mengulangi perkataannya. Dia


benar-benar tak mau mengulanginya.


"Tidak mau!" Gadis itu malah membenamkan wajah malunya di dada Max.


Ah, so sweet banget sih, Ren ... Aku kan jadi iri. Jiwa jomblo Lola berteriak dalam hati.


Pintar sekali dia menghujani jantungku dengan debaran. Dasar gorila kecil nakal banyak tingkah.


"Lalu apa penjelasanmu soal barang yang ada didalam tasmu?" Max merekatkan pelukannya, berbisik lirih di telinganya.


"Barang? Barang apa?" Kembali Maureen menengadahkan kepalanya.


"Kau sungguh-sungguh tidak tahu? Atau sedang berpura-pura padaku?" Max mencubit kecil pinggangnya.


"Aw, apa sih, Max? Aku tidak mengerti!" Gadis itu lupa sesuatu. Namun, perlahan dia mengingatnya. Dia, membekap mulutnya. Ah, jangan bilang dia sudah tahu.


"Kau mau katakan dengan jujur? Atau aku akan menghukummu tinggal di dalam sangkar!" cetus Max tak sabaran.


"Hei, aku itu manusia bukan burung!" kesal Irene dibuatnya lagi.


"Jadi, kau sungguh-sungguh tak menginginkan anak dariku? Atau jangan-jangan kau sudah meminumnya!" delik Max penuh penekanan.


Hadudu, dia sudah benar-benar tahu. Bagaimanapun ini? Bagaimanapun aku harus merayu. Dia tak boleh marah atau memberikan hukuman padaku.


Irene sudah bertekad, lalu, "Baiklah, aku setuju!" ucapnya.


Max menautkan dahinya, "Setuju apanya? Kau?" Max makin marah. Dia berpikir Maureen akan meminun sesuatu dalam tas yang dia temukan tadi.