MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
BIDADARI IMPIAN



"Kan sudah aku bilang, mereka tidak cocok sayang. Jangan memaksa lagi. Ayo!" Irene memecah kecanggungan diantara keduanya. Lola dan Martin saling membuang muka setelah mendengar ucapan Irene.


"Ah, iya, ayo. Kita selesaikan sekarang. Dan kau, Martin, aku pokoknya tak mau tahu. Kau harus bisa menikah dengannya!" cetus Max tetap memaksakan keinginan.


Kenapa sih laki-laki Irene jadi biang kerok. Aku kan belum mau menikah. Tapi, kalau aku menolaknya, jangan-jangan uang yang diberikannya tadi diambil lagi. Haduhhh, kacau kalau sampai kejadian seperti itu. Bagaimana nasib dan rencaanku. gagal total semuanya dong ...?


Otak Lola seperti benang kusut diatas kepalanya. Sedangkan, Martin seolah tak terusik lagi oleh perintah tuannya.


"Saya sudah menyiapkan semua, Tuan. Anda dan Nyonya Irene hanya perlu tanda tangan saja!" Martin berkata saat dia membukakan pintu dan hanya mendapatkan anggukan kepala dari Max.


Wah, benarkah? Apa aku benar-benar akan menikah dengannya? Secepat ini dan aku tak perlu mempersiapkan apapun. Benar-benar tipe laki-laki yang dikejar-kejar oleh wanita. Entah itu keberuntungan buatku atau sebaliknya.


Maureen sudah memasrahkan semuanya. Tubuh dan jiwanya kini hanya dimiliki oleh laki-laki penggila kebersihan disampingnya. Tak ada lagi yang bisa dia gantungkan selain padanya. Dan, misi untuk merebut seluruh hak yang menjadi miliknya adalah prioritas utamanya.


Aku benar-benar tak menyangka, hari-hari yang kunantikan akhirnya tiba. Dia, kini dia sepenuhnya menjadi milikku. Milik Maximus Mollary. Aku bisa leluasa menjaga, melindungi dan berterima kasih atas pertolongannya saat itu. A-aku tak perduli, dia masih mengingatnya atau tidak. Tapi, bagiku dia adalah bidadari impian yang selama ini aku cari.


Pembubuhan tanda tangan tak berlangsung lama. Max dan Irene sudah keluar dari ruangan itu. Max segera mengantongi buku nikah yang sudah dilegalkan. Bahkan saat gorila kecilnya meminta melihat, tak diperbolehkan.


"Pelit banget, itu kan aku juga berhak mendapatkan satu buku!" Protesnya.


"Hak, hak. Kau lupa, kau tak berhak untuk protes dan melakukan banding denganku. Semua harus sesuai dengan perjanjian yang kita buat. Kau hanya perlu menurut dan mengikuti arahanku!" Max mendelik. Kata-kata langsung menusuk tepat kembali di jantung gorila kecilnya.


Hah, aku benar-benar lupa diri. Posisiku disini hanyalah untuk menuruti semua kemauannya. Tak berhak protes.


"Aku minta maaf. Sungguh, aku tak bermaksud begitu. Ya sudah, aku pergi bersama Lola lagi ya. Hari ini mungkin akan pulang larut!" Pasrah. Gadis itu tak memiliki kepercayaan diri jika memulai perdebatan lagi.


"Baiklah. Jika, kau memerlukan bantuan atau menemukan kesulitan, kau boleh menggunakan namaku atau mungkin kau bisa menghubungi Martin agar dia yang mengurus semua!" tak ada jawaba lagi. Gadis itu harus menarik kedua sudut bibirnya agar tetap menampilkan senyum yang cerah dan sempurna.


Padahal dia tak mengira akan mendapatkan izin dengan mudah dari Max. Dan kingkong jeleknya, setelah berkata, tanpa melihat lagi kearah gorila kecilnya. Dengan langsung besar-besar meninggalkan dirinya.


"Apa yang kalian bicarakan, La?" Irene menggandeng lengan Lola saat dia melihat Martin pergi meninggalkannya.


"Uhm, i-i-itu," Lola bingung berkata, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cih, jangan bilang kau sedang membahas pernikahan karena permintaan suami baruku barusan?" tebaknya.


Makin malu-malu dan wajah Lola merona seperti udang rebus, "Astaga, La? Kau serius dengannya?" Irene mendelik tak percaya saat temannya mengangguk perlahan tanpa ragu.


"Habis aku takut, Ren!"


"Takut apa?"


"Itu, suamimu, mendadak menarik kartu yang dia berikan. Jadi, aku bernegosiasi dengan bawahannya tadi, agar kami melakukan pernikahan kontrak saja. Aku hanya meminta waktu satu tahun saja kok, setelah itu kami bercerai!" Lola mengungkap semua yang dibicarakannya dengan Martin tadi. Dia pun tak ingin berbohong atau membohongi sahabat terbaiknya.


"Ya ampun, La. Nanti, kalau kau diapa-apain dia gimana? Kau tidak akan bisa menikah dengan laki-laki yang kau cintai. Jangan mengambil keputusan bodoh sepertiku. Ya ... kalau aku sih jelas-jelas sudah dinodai olehnya dan keluargaku yang menjualku!" pedih hati Irene membongkar kembali masa dimana dia ingin melupakannya.