MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
RENCANA PERJODOHAN



Maureen mengunci pintu kamarnya. Dia, hanya butuh sedikit ketenangan sekarang. Dia berjalan menghampiri ranjang tidurnya yang berukuran kecil dan membaringkan tubuh letihnya disana.


Tak ada kenyamanan atau hal yang istimewa sebagai seorang putri dari keluarga Aditama. Dia, bahkan hidup seperti seorang upik abu jika dirumah. Bekerja dirumah miliknya sendiri hanya demi mengisi perutnya agar tidak kelaparan.


Dia benar-benar lelah. Sering sekali dia merasakan putus asa. Namun, semua dia terpiskan ketika mengingat wajah ibu kandungnya.


Dia menghamburkan tubuhnya, mencoba menahan sesak dan air mata yang terus saja mengalir. Dia, ingin melupakan sejenak penatnya dengan menutup matanya sebentar saja.


Dia, ingin melupakan semua kenyataan pahit yang di terimanya kemarin malam. Satu-satunya kehormatan yang dia jaga pun lenyap. Dia sudah tak mempunyai apapun lagi yang berharga untuk dipertahankan.


Apa salahku Tuhan? Kenapa kau memberikan aku cobaan yang begitu berat. Aku hanya ingin seperti mereka, memiliki keluarga utuh dan kasih sayang yang tulus dari orang yang akan mencintaiku.


Gadis itu menangis tak bersuara. Tubuhnya benar-benar remuk. Saking lelahnya, dia hanya ingin beristirahat sejenak.


***


"Papa, mau ajak kemana kita nanti malam?" Wina yang penasaran saat suaminya sedang membereskan berkas di ruang kerjanya.


"Aku akan meminta anak itu untuk membantu-ku!" Johan berkata dengan wajahnya yang terlihat suram. Dia, seperti sedang merencanakan suatu hal.


"Bantuan apa yang bisa diberikan dia, Pah?" tetap Wina dengan rasa penasarannya ingin mengetahui rencana suaminya.


"Aku akan menjodohkan anak itu dengan Nick!" ucap Johan.


"Ni-Nick? Nicholas Fernando maksud Papa?" Wina membelalakan matanya saat mendengar nama Nick.


"Uhm, aku terpaksa. Kerjasama dengan keluarga Fernando tak boleh lepas begitu saja!" ucap Johan.


Shasa yang menguping dari balik pintu segera menerobos masuk dan membuat keduanya terkejut.


Bagaimana Shasa tidak berang, selama ini dia sudah mengerahkan seluruh pesona untuk menarik perhatian Nick. Namun, Nick sendiri malah tertarik dengan adik tirinya.


"Lancang! Jaga bicaramu Shasa, kau kan tahu kita tak mungkin melewatkan kesempatan ini. Untuk saat ini keluarga Fernando satu-satunya penolong keluarga kita!" Johan berkata dengan geram saat putrinya tak menyetujui rencananya.


"Papa selalu saja tidak adil. Aku ini juga anak Papa kan? Aku juga bisa membantu keluarga kita. Kenapa harus Maureen yang dijodohkan dengan kak Nick, kenapa bukan aku saja, Pah!" Shasa yang tak ingin mundur lagi. Apapun caranya dia harus bisa merubah keputusan ayahnya.


Wina menatap wajah putrinya yang terlihat terluka. Shasa bahkan sudah menangis tersedu sambil memeluk ibunya.


"Ini tidak adil, Ma ... aku juga mencintai kak Nick, kenapa harus dia yang dijodohkan, huhuhu, huhuhu!" Shasa berusaha dengan sangat keras membujuk hati ibunya yang mudah tersentuh oleh kelicikannya.


Wina pun tak tega saat anaknya sudah menangis, "Sudahlah Pah, biarkan Shasa saja yang menggantikan perjodohannya. Mama rasa anak kita pun pantas mendapatkan keluarga terpandang. Memang Papa tega melihat anak kita ini menderita!" Wina bergelayut di lengan suaminya. Berharap masih bisa membujuknya.


"Haduhh, kalian ini sungguh tak mengerti bisnis. Bagaimana jika Nick sendiri yang memilih Maureen?" Johan terlihat bingung.


Johan sebenarnya setuju saja jika Shasa yang menjadi alat tukar perjodohannya. Namun, semua keputusan kembali lagi pada Nick.


"Bukankah keluarga Prakoso juga memiliki putra, Pah?" cetus Wina memberikan ide.


Johan tampak berpikir, "Tapi, putra pertama mereka terkenal dengan mata keranjang, kasar dan suka mempermainkan perempuan. Papa, tidak suka. Walaupun Papa tidak menyukai anak itu, tetap saja dia juga putri Papa, seperti dirimu, Shasa!" tegas Johan.


"Bukannya itu lebih baik Pah, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, kita akan lebih mudah mengendalikan semua," bujuk Wina mengoyahkan hati suaminya.


Shasa tersenyum licik dengan rencana perjodohan yang sedang dirancang orangtuanya.


Aku pastikan kau merasakan apa yang aku rasakan semalam, Maureen.