MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
DIA TAK PERNAH MAIN-MAIN



Setelah kepergian Maureen dan Martin, Gina berjalan menghampirinya secara perlahan dan. Brukk!! Gina pura-pura tersandung hingga kedua aset besarnya menghimpit tubuh bosnya.


"Ah, ma-maaf, Tuan, saya tidak sengaja!" ucapnya bersuara membangkitkan gelora, sambil dengan sengaja dia menggesek kedua milik besarnya di dada Max.


Wajah Gina merah padam. Hasratnya membuncah. Max berdiri dan menghempaskan tubuh wanita itu di lantai.


“Berani sekali kau menyentuhku! Sudah bosan hidup rupanya kau!” delik Max berteriak penuh kemurkaan.


Leher Gina seperti tercekik. Dia tak menyangka siasatnya dapat terbaca. Dia berkeyakinan kalau dengan wanita seperti Maureen saja dia luluh, apalagi dengannya.


Max menekan tombol ruangannya. Tidak berapa lama dua pengawalnya masuk, “Tembak kepalanya di tempat biasa dan buang mayatnya untuk buaya peliharaanku!” Max memberikan perintah dengan eratan giginya.


Tubuh Gina bergetar. Wajahnya menjadi pucat pasi saat mendengar perintah yang tak pernah dia bayangkan, “Ma-maafkan aku, Tuan. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan mengulangi!” dia mencoba mengiba.


Memegangi kaki Max. Tangisnya pun sudah pecah di ruangan itu.


Namun, yang dia dapatkan hanya tatapan suram. Dan, tanpa ragu Max menginjak remuk semua jari-jari Gina.


“Aarrggghh!” teriak Gina merintih menahan sakit pada jari-jarinya yang sudah terasa remuk. Gina tak menyangka, sikap dingin bosnya benar-benar terbukti.


“Carikan sekretaris baru, Clara!” ucap Max saat membuka pintu. Dia berteriak dengan penuh amarah.


Wanita yang dipanggil Clara tadi kaget saat mendengar teriakan dari bosnya. Dan matanya lebih terkejut lagi, saat melihat Gina diseret paksa keluar oleh kedua pengawal bosnya.


“Itu hukuman bagi yang berusaha mencari kesempatan untuk menyentuhku!” ucapnya dengan eratan gigi yang geram. Lalu dia membuka jas yang sempat tersentuh oleh Gini, dan membuangnya ke tempat sampah.


Clara hanya mengangguk penuh ketakutan. Bahkan dia hanya bisa menelan ludahnya saat bosnya murka.


Mood bosnya sangat berbeda, beberapa saat tadi, Clara yakin tuannya sangat baik. Clara melihat tuannya terlihat lembut dengan seorang wanita. Bahkan matanya melihat tuannya untuk pertama kali bersikap lembut, dan mengenggam tangan seorang wanita.


Siapa wanita tadi? Aku harus berhati-hati. jangan  sampai menyinggungnya. Dia, pasti kesayangan tuan Max. Hanya baru dia yang dibawanya. Dan  wanita itu dapat keluar dari ruangan tuan Max dengan selamat. Bahkan, Martin pun mengantar juga menghormatinya.


***


“Ini tempatnya, Nona Maureen. Dan kartu akses anda,” Martin menyerahkan satu kartu untuk membuka pintu kamarnya.


“Terima kasih, panggil saja aku, Iren. Aku tidak suka dengan panggilan nama yang terlalu lengkap!” ucap gadis itu menerima kartu pemberiannya.


“Baik, Nona Iren. Jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya akan kembali!” ucap Martin penuh hormat.


“Uhm,  bolehkah aku keluar sebentar?” Maureen meminta izin. Dia tak ingin kejadian tadi di taman  terulang kembali.


“Anda mau kemana, Nona?” Martin menyipitkan matanya.


“Aku ingin membeli sesuatu!” tambahnya.


“Sesuatu? Apa itu?” tetap mempertanyakan sejelas-jelasnya. Dia pun tak ingin membuat kesalahan untuk tuannya.


Ah, rupanya dia lebih licin dari tuannya. Aku harus mencari alasan yang tepat, agar tak membuatnya curiga. Maureen berencana akan meminta Nick untuk menemuinya saat dia menunggu kepulangan Max.


Maureen masih terdiam, dan itu langsung terbaca oleh Martin, “Sebaiknya anda jangan membuat tuan marah, Nona. Dia, tak pernah main-main dengan apa yang dia ucapkan. Apapun itu, jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa menghubungi nomor saya. Nomor tuan dan saya sudah berada dalam kontak anda. Atau anda bisa menyuruh para pengawal yang sudah tuan siapkan untuk anda!” jelas Martin. Membuat Maureen melirik orang-orang dibelakang Martin. Bahkan semua sudah max rencanakan dengan matang.


“Saya akan meninggalkan empat orang untuk berjaga disini, sisanya hanya saya yang mengetahuinya!” ucap Martin penuh tekanan. Dia tak mungkin membiarkan seekor lalat masuk atau keluar tanpa seizinnya.


Huh, benar-benar ya, pria maniak itu. Dia ini sedang memenjarakanku atau apa sih? Lihat saja nanti, saat dia datang akan kubuat perhitungan.


“Ya sudah, kau suruhlah orang-orangmu mencarikan makanan juga camilan untukku. Aku kan tidak mungkin sendirian didalam tanpa ada temannya,” cetusnya berkerucut bibir. Maureen benar-benar dongkol. Ingin sekali


dia manolak, tapi perjanjian yang sudah dia tanda tangani juga keselamatan ibunya menjadi prioritasnya.