
Gadis itu sebenarnya malas menanggapi getaran telponnya. Namun, karena memang sangat mengganggu terpaksa dia merogoh tasnya. Melihat pada layar pipihnya.
Wajahnya berubah pucat. Tangannya sedikit bergetar dan Nick dapat melihatnya dengan jelas. Gadis itu sepertinya sedang ketakutan.
"Ada apa?" dia bertanya dengan penasaran.
"Uhm, bukan hal yang penting, Kak! Habis ini Kakak mau kemana?" dia berusaha mengalihkan perhatian, tapi hatinya kacau balau.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Sepertinya, sudah lama kita tidak makan bersama," Nick memberikan usulan yang tak mungkin gadis itu bisa tolak.
Dia pun ingin memiliki waktu yang lebih lama bersama dengan cinta pertamanya itu. Waktu mungkin saja akan berubah. Besok atau lusa, dikemudian hari mereka tak bisa nikmatinya. Karena sudah ada Shasa diantara mereka.
"Apa ada yang ingin Kakak makan?" tanyanya. Wajah Maureen terlihat begitu gembira.
Namun, lagi-lagi kebahagiaan mereka terganggu oleh getaran ponsel milik Maureen.
"Angkatlah! Sepertinya benar-benar penting!" Nick mengingatkan dengan wajahnya yang penasaran.
Dia tahu yang menelpon gadis adalah seorang yang sangat penting. Entah penting salam pekerjaan atau hal lainnya.
"Aku tidak ingin mengangkatnya, Kak. Bisakah kita nikmati makan siang kita yang hanya sebentar ini tanpa gangguan siapapun!" Maureen sudah mengambil keputusan. Dia tidak akan menjawab telponnya.
"Kalau benar-benar penting bagaimana? Ayo, angkat saja. Biar aku dan kamu juga tenang!" Nick mencoba memecah ketegangan pada raut wajahnya. Maureen sudah terlihat benar-benar gelisah.
Maureen menghela nafas panjangnya sebelum dia menempelkan benda pipihnya di telinga.
"Ha-," mulutnya terhenti berbicara. Telinganya seperti telinga kelinci saat mendengar.
Maureen langsung mematikan ponselnya. Dan menyembunyikan kembali ke dalam tasnya.
Spontan tubuh Maureen beranjak dari duduknya. Dia pun tak ingin sesuatu yang buruk menimpa orang yang dikasihinya. Dia akan berusaha mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya untuk melindungi.
Kepala menengok kanan dan kiri. Dia membaca situasi, tapi menurutnya tidak terlihat aneh. Sepi tidak ada seorang pun yang mengganggu pandangnya.
"Kak, maaf sepertinya kita tidak jadi makan siang. Aku ada panggilan pekerjaan yang tidak bisa aku tolak. Lagipula bayarannya besar kok, Kak!"
Dia berusaha berbicara se-netralnya. Tak ingin Nick menjadi curiga atau menanyakan kembali.
"Baiklah. Dimana tempat kerjanya? Aku akan mengantarkanmu. Aku tidak ingin kau berhimpitan di dalam bus atau berlarian demi mengejar waktu!" ucap Nick.
Dia sebenarnya selain penasaran dengan tempat kerja Maureen. Yang paling dia inginkan hanya waktu dengan gadis itu tak berakhir begitu saja.
"Uhm, lain kali saja ya, Kak. Aku benar-benar sedang terburu-buru!" ucapnya gelisah karena ponselnya kembali bergetar. Seolah tak sabar menunggu.
Nick memperhatikan raut wajah gadisnya. Dia tahu ada yang sedang disembuhkan olehnya. Namun, dia pun tak berhak memaksakan gadis itu untuk berkata jujur padanya.
Nick mengerti posisinya. Dia tak punya status apapun,vyang bisa gadis itu jadikan alasan agar dia mau berkata jujur.
"Oke, pergilah!" berat rasanya dia mengeluarkan kata-katanya. Dia ingin sekali melarang gadis itu pergi.
"Aku akan menghubungimu lagi jika pekerjaannya sudah selesai, Kak!" Maureen berbicara, tapi tubuhnya sudah mengambil ancang-ancang akan meninggalkannya.
Nick menganggukan kepalanya perlahan. Tidak ada dalam hitungan detik, gadis itu sudah berbalik badan dan menghilang dari pandangannya.