
Maureen terbangun saat merasakan ponsel didalam tasnya tak berhenti bergetar. Dia, melirik jam di kamarnya, jam lima sore berlalu begitu saja.
Aku ketiduran seharian.
Gadis itu duduk diranjang kecilnya. Meraih tas dan melihat ponselnya. Matanya mendelik saat melihat nomor yang tak dia kenali melakukan panggilan lebih dari dua puluh kali.
Siapa sih? Kurang kerjaan.
Baru saja dia akan melemparkan ponselnya, kembali ponselnya bergetar. Terpaksa, sekaligus penasaran gadis itu menggeser tanda berwarna hijau dan menempelkan di telinganya.
"Berani sekali kau mengabaikan panggilanku!" suara bariton terdengar di telinga gadis itu dan sontak dia melemparkan ponselnya ke ranjang.
Apa itu? Apa aku tidak salah dengar?
Maureen merasa dia masih seperti bermimpi. Namun, saat melihat ponselnya masih dalam panggilan dia segera menempelkan lagi di telinganya.
"Ha-ha-lo!" ucap Maureen ragu-ragu.
"Kau sudah bosan hidup? Berani sekali kau mengabaikan panggilanku!" ucapnya. Masih dengan tekanan penuh ancaman.
"Ma-maaf, ini siapa? Anda salah sambung!" Maureen yang merasa tak mengenal nomor pemanggilan apalagi suaranya. Dia, tak pernah merasa memasukkan nomor ponsel tadi.
"Cih, kau pura-pura tak mengenalku setelah kau menerima uang dariku, hah. Dasar wanita tidak tahu diri!" makinya. Suara terdengar berat. Dia benar-benar kesal karena gadis itu tak mengenalinya.
"Sungguh, maaf, aku tidak kenal. Anda mungkin salah sambung!" cetus Maureen.
Maureen mendengar pintu kamarnya di ketuk dan spontan menekan tombol memutuskan panggilan.
"Arrrggghhh!! Dasar wanita kurang ajar, berani sekali dia mengabaikan-ku. Lihat apa yang akan kuperbuat kalau aku bertemu denganmu lagi!" Max terlihat meradang saat dia menghubungi Maureen, tapi gadis itu malah tak mengenali suaranya.
"Martin, kau sungguh sudah memasukkan nomorku?" Max berkata dengan geram menatap bawahannya.
"Sudah Tuan, bahkan saya sudah memasukkan chip di ponselnya. Kemanapun dia pergi, Anda pasti akan menemukan!" jawab Martin membuat sedikit amarahnya berkurang.
Max tak menjawabnya. Lihat saja, asal aku bertemu lagi, aku pastikan menghukummu dua kali lipat.
***
"Ada apa, Bi Marni?" Maureen yang membukakan pintu pada seorang pelayan yang sudah berdiri di depan pintunya.
"Maaf, Non Iren sudah waktunya turun. Tuan dan Nyonya juga sudah menunggu!" ucap Bi Marni.
"Terima kasih, Bi, aku turun sebentar lagi ya!" ucapnya dan segera menutup pintu saat pelayan tadi pergi.
Bi Marni hanya akan keluar jika ada ayah Maureen di rumah. Dia, akan melayani Maureen seperti biasanya, tapi setelah ayah Maureen pergi, dia dan Bi Marni memiliki posisi yang sama.
Walaupun Bi Marni sering membelanya, tetap saja Maureen tak ingin satu-satunya orang yang tersisa menanggung kemalangan yang sama.
Maureen bergegas ke kamar mandi. Dia segera membasuh tubuhnya yang masih menyisakan tanda-tanda peninggalan lelaki yang tak dikenalnya.
Aku harus mencari pakaian yang tidak terbuka.
Batinnya terus mencari baju yang cocok dikenakan untuk acara yang sudah digadang-gadang oleh ayahnya.
Sepertinya hanya makan malam biasa.
Maureen mengenakan dress polos berwarna merah diatas lutut. Dia, membiarkan rambutnya panjangnya tergerai secara alami. Riasan yang dipakai pun tak mencolok, dia berdandan dengan sangat sederhana.
Maureen turun ke ruang keluarga, ayah, ibu dan kakak tirinya sudah menunggu. Shasa terlihat berdandan sangat menawan. Glamour dan sexy.
Mobil mereka berhenti disalah satu restoran bintang lima. Shasa sudah menggandeng lengan adiknya. Dia sudah kembali berakting sebagai kakak yang menyayangi adiknya.
Max pun tiba tak lama setelah mobil ayah Maureen diparkirkan. Dia, melirik sekilas gadis yang sedang diburunya itu.
Untuk apa dia kesini?
Max yang kebetulan ada pertemuan di tempat yang sama.
"Martin, cek kenapa dia ada disini!" perintah Max. Martin melayangkan pandangannya pada tatapan tuannya.
Martin memberikan aba-aba pada pengawal lainnya sementara dia memeriksa yang diperintahkan.
Maureen hanya tertunduk saat Shasa dan keluarga membawanya memasuki ruangan pertemuan. Dia, sebenarnya ingin menolak ajakan ayahnya. Namun, dia tak ingin ayahnya membuat hidupnya semakin sulit.
"Kak Nick!" ucap Shasa. Wajahnya langsung sumringah saat melihat Nick dan keluarga sudah menyambut kedatangan mereka.
Nick tampak melirik kearah Maureen, dan gadis itu langsung menarik wajahnya saat kakaknya memanggil nama orang yang sangat spesial untuknya.
Keluarga mereka saling berjabat tangan. Shasa tak ingin melewatkan kesempatan, dia segera bergelayut manja di lengan Nick.
Mereka masuk ke ruangan pertemuan. Maureen menghentikan langkah kakinya ketika melihat satu keluarga sudah berada dalam ruangan itu. Mata Maureen mendelik, tubuhnya bergetar saat melihat seorang pria dengan balutan perban di kepalanya.
Gadis itu yakin dia tidak salah melihat. Laki-laki itu terus menatap tajam kearahnya. Dia, seolah tak ingin melepaskan buruannya lagi.
"Selamat malam, Tuan Prakoso!" sapa Johan, ayah Maureen menjabat salah seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berpelukan.
Tubuh Maureen bergetar, dia tak menyangka kalau orangtuanya mengenal keluarga laki-laki itu. Ingin rasanya gadis itu berbalik dan melarikan diri dari pertemuan itu. Namun, lagi-lagi keberaniannya menciut. Dia hanya bisa pasrah ketika Wina, ibu tirinya menggandengnya duduk bersebelahan dengan laki-laki yang membuatnya ketakutan.