MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
PENASARAN



"Aarggh, sakit, Max. Lepaskan aku!" Irene meronta dengan kuat. Tangannya mencoba menggapai. Namun, Max yang kesal malah membanting tubuh istrinya lebih dulu di pasir pantai.


"Aku sudah memperingatimu. Jangan dekat dengan laki-laki lain. Aku tidak suka, apalagi laki-laki itu!" dengus Max memicing tajam pada orang yang sedang membenarkan dirinya. Wajah dan bajunya kusut oleh penyerangan dadakan yang Irene lakukan.


"Apa sih Max? Aku? Dekat dengan laki-laki sinting itu? Cuihhh ... membayangkannya saja aku tak sudi!" seraya meludah kosong, mengejekku laki-laki tadi yang sudah berdiri dan berkacak pinggang menatap Irene. Gadis itu bergidik sendiri saat membayangkan hal yang menurutnya mustahil.


"Heh, gorila jelek, gila. Siapa juga yang sudi bersama denganmu. Mimpi pun aku ogah!” tak kalah sewot laki-laki tadi menyaut dengan teriakannya yang penuh emosi.


“Kau? Kau pikir aku takut denganmu?” Irene mencoba berdiri, berbalik dan akan memberikan perlawanan untuknya, tapi lagi-lagi kecepatan tangan Max bagai kilat, dia tak akan mungkin membiarkan istrinya melakukan kecolongan adu gulat seperti tadi.


“Hentikan, Adolf. Aku meminta kau untuk disini bukan untuk ribut dengan istriku!” cetus Max tanpa ragu memproklamirkan hubungan legal mereka.


“I—istri? Maksudmu? Kau benar-benar menikah dengan gorila menyebalkan ini?” Adolf memegang tengkuknya yang tiba-tiba tegang saat mendengar ucapan dari Max.


“Jaga bicaramu, Adolf. Dia, Maureen Aditama, istriku. Istri sah satu-satunya Max Mollary. Aku tak suka kau memanggil istriku dengan sebutan itu lagi. Kalau kau masih tetap melakukannya, aku lempar kau ke Afrika biar kau dimakan singa kelaparan disana!” bergidik ngeri Adolf mendengar ancaman Max. kali ini laki-laki itu tidak sedang bercanda.


“Hah, sudahlah. Kau datang kesini bukan untuk membahas hal tersebut kan?” Adolf berkata sambil menghela nafasnya, fokus kembali pada tujuan Max datang pada pulau terpencil yang dia sembunyikan.


“Ummm, bagaimana keadaannya sekarang?” penuh tanya terbersit di hati Maureen. Dia menatap laki-laki di sampingnya berkata penuh penekanan pada Adolf.


“Sangat baik, kondisinya benar-benar sudah sangat baik. Sejak kau membawanya kesini, aku sungguh mengobatinya dengan benar!” makin penasran Ireen dengan perkataan keduanya.


“Max, apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti?” gadis itu mengangkat suara. Dibanding hatinya yang terus-terusan penasaran.


Hah, pemandangan langka? Sungguhkah? Apa dia masih Max Molarry yang kukenal?


Irene menatap wajah Max penuh tanya, “Kejutan? Serius? Bukankah yang tadi kejutannya?” gadis hati berpikir, naik heli, muntah 7 kali dan dia sekarang berada di pulau terpencil adalah bagian dari kejutan.


“Tidak, ini kejutan kecil lainnya, aku sudah menyiapkannya sejak lama. Aku benar-benar berharap, kau tidak akan menyalahkan diriku setelah kau melihat kejutannya nanti!” kembali Max membuat teka teki untuknya.


“Arggh. Aku benci penasaran. Katakan saja!” sudah tak sabar gadis itu. Dia menginginkan Max langsung memberitahunya.


“Ssssttt, tidak seru. Pergilah!” langkah kaki mereka tak terasa terhenti pada sebuah kamar. Gadis itu bahkan baru menyadari dia berada di dalam sebuah rumah megah. Gadis itu tak menyangka di pulau terpencil ada bangunan semegah itu. Dia pun melihat banyak pengawal yang berjaga, hampir memenuhi seluruh ruangan dan para pelayan. Tidak seperti rumah megah terisolasi. Ini bahkan mirip dengan rumah yang penuh dengan kehangatan.


Entah kenapa jantung gadis itu bergetar. Dia seolah merasakan perasaan aneh yang dia sendiri tak bisa menggambarkan.


Ada apa ini? Kenapa dadaku terasa panas dan bergetar?


Wajahnya yang penuh tanya kembali menatap Max, dan laki-laki itu seakan memberikan sinar kehangatan yang tak dapat dia jelaskan kembali. Sinar matanya yang teduh dan hangat membuat hatinya berselimut haru.


“Pergilah, kejutan ini hanya untukmu. Aku akan menunggu disini dan tak menggangu!” seraya melepas dengan iklas, laki-laki itu menuntun langkah gadis itu hingga benar-benar di ambang sebuah pintu, “Masuklah, ada seseorang yang sedang menunggumu!” ucapnya lagi. Irene hanya menoleh ragu. Namun, senyuman dan anggukan seolah memaksa rasa penasarannnya.


Rasa penasaran berselimut haru. Hanya hal itu saja yang dapat Irene gambarkan. Dia perlahan membuka pintu dan melangkah masuk.