
"Turunkan aku, Max!" Max menurunkannya perlahan.
"Kau bilang apa tadi? Siapa yang gorila?" Maureen berkacak pinggang. Seperti singa betina yang sedang marah dia mendorong tubuh Adolf.
"Max, siapa wanita gila ini. Kau sungguh-sungguh memelihara wanita golira?" Adolf menunjuk-nunjuk wajah Maureen.
Gadis itu geram. Saat Adolf menunjukkan tangan kearah wajahnya. Dia maju dan menggigit telunjuknya.
"Arrrggghhh! Dasar kau, arghh. Kau ini keturunan siluman anjing, hah!" Adolf makin membara. Dia tak merasa ada yang berani bersikap kurang ajar seperti yang gadis itu lakukan.
Max mendudukkan dirinya dengan santai di sofa. Matanya mengarah pada mereka. Menonton pertunjukan gratis.
"Hah, kau yang gila. Seenaknya mengatai orang!" Maureen naik pitam dia bersiap menghujamkan tinju kalau Adolf tidak segera bersembunyi di belakang tubuh Martin.
"Minggir, kau jangan menghalangiku. Aku mau memberinya pelajaran. Seenaknya memanggilku wanita gorila dan siluman anjing, hah!" Spontan Martin membuka tubuhnya.
Membiarkan gadis itu menghajar Adolf habis-habisan. Awalnya Max tersenyum melihat tingkahnya, tapi saat melihat gadis itu berada diatas tubuh Adolf. Dia bangkit dan menarik gadis itu.
"Kau, berani sekali!" ucap Max dan melemparkan tubuh gadis itu ke sofa.
Brukk! Maureen merasakan kembali tubuhnya remuk, "Aw!" ringisnya.
Max sadar, dia lupa melemparkan tubuh gadis terlalu keras. Dia mendekati dan memeriksa tubuhnya.
"Sa-sakit sekali, Max!" dia menghamburkan diri dalam pelukannya.
"Astaga, astaga. Kau sungguh terjerat oleh wanita itu, Max. Dia pasti pakai guna-guna!" tuding Adolf.
"Kau!" delik Maureen.
"Kau bawa alat kerjamu kan? Aku memanggilmu untuk mengobatinya!" delik Max pada Adolf. Kali ini tidak ingin dibantah.
"Hah, sakit katamu? Tenaga saja masih seperti gorila. Kau yakin? Atau dia sedang berpura-pura," cibir Adolf.
"Diam. Jaga bicaramu!" Max makin suram menatapnya.
"Ok, ok. Aku ambil dulu!" ucap Adolf.
Berto datang dengan kereta dorong makannya, "Maaf Nona, anda mau makan disini atau saya hidangkan di meja?" Berto tak ingin membuat kesalahan. Apalagi dia tahu tuannya sangat memanjakan gadis itu.
Max diam saja saat Berto menghidangkan makanan. Biasanya tuannya akan marah, jika dia melakukan yang tak sesuai dengan aturan. Tapi, kali ini tuannya tak bergeming. Dia malah merapikan rambut Maureen yang acak-acakan.
Benar-benar pemandangan langka bagi mereka.
"Pergilah!" Ucap Max dingin. Dia tak suka saat Berto menatap gadisnya terlalu lama.
"Baik Tuan!"
"Hei, gorila dimana yang sakit?" Adolf kembali dengan perlengkapan dokternya.
"Cih, kau sungguh seorang dokter? Apa kau tidak sedang menipuku," sahutnya kecut.
Gadis ini sungguh berani. Dia berbeda dengan wanita lainnya. Pantas saja Max tertarik padanya.
"Ayolah, jangan membuang waktuku. Gara-gara kau aku harus meninggalkan pasien yang akan ku operasi!" Adolf duduk disampingnya.
Max mendelikkan matanya, "Kalau aku tidak duduk disebelahnya, bagaimana memeriksa lukanya." Adolf yang tahu Max tak suka gadisnya berdekatan dengan orang lain terutama laki-laki.
Maureen tak memperdulikan saat Adolf memeriksa lukanya. Dia, terus makan tanpa henti.
"Berikan salep dan obat yang ada dalam resepku. Tiga hari paling lama, dia akan pulih," ucapnya sambil memutar-mutarkan kepala Maureen. Dia memeriksa sudut bibir dan jidatnya yang benjut.
"Ok, terima kasih!" Adolf membulatkan matanya kembali saat mendengar ucapan terima kasih dari Max.
"Aku harus periksa telingaku setelah sampai di rumah sakit," dengusnya.
"Cih, pergi sana!" Max mengusirnya. Tanpa di suruh pun Adolf langsung pergi.
"Apa kau masih lapar?" Max melirik piring Maureen yang sudah kosong.
"Nanti saja, aku mau tidur, boleh?" Maureen menatap Max.
"Uhm. Ayo!" tangan Max terulur untuknya.
Hohoh, apa aku sedang bermimpi? Dia, tidak marah dan menghukumku.
Maureen menerima uluran tangannya dan Max membawanya ke kamar.