
“Martin!” panggil Max. Dia menghampiri ke kamar tuannya dan berdiri dihadapannya. Siap menerima perintah. Max sedang mengenakan dasinya.
“Suruh satu orang pelayan untuk bersih-bersih, memasak dan menyiapkan semua keperluannya. Aku hanya ingin, dia siap khusus untukku. Lalu, siapkan bajuku dan dirinya. Karena sepertinya aku akan lebih sering pulang
kesini.” Max berkata bersuara agak keras sambil melirik kearah ranjang gadis itu.
“Baik, Tuan Max,” sahut Martin. Bahkan tuan bisa bercanda dengan nona Maureen. Benar-benar gadis yang luar biasa. Martin terus melirikan matanya melihat tingkah tuannya yang berbeda.
Maureen yang mendengar mengangkat kepalanya. Tanpa ragu dia melemparkan bantal yang menutupi telinganya tadi. Max tersenyum saat bantal tadi mendarat tepat di wajahnya.
“Oya, tambahkan lagi sepuluh orang pengawal. Kemanapun dia melangkah, aku menginginkan laporannya dengan detail,” tambahnya. Membuat wajah gadis itu tambah masam.
“Argh, kau, Max! Aku sebal denganmu. Aku bukan burung dalam sangkarmu, tahu!” gadis itu melompat kearah Max dan memukuli dada Max dengan keras. Max hanya terkekeh geli melihat aksinya.
Martin pun sangat terkejut. Dia tak menduga gadis itu akan bertindak seberani tadi. Dan yang membuatnya heran, tuannya tidak marah sama sekali dengan sikapnya. Martin menilai hanya Maureen saja pengecualian tuannya.
“Siapa bilang? Bukankah, kau memang yang akan mengurus burungku!” ucapnya yang terdengar panas ditelinganya. Membuat wajah gadis itu memerah, dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya dia membenamkan wajahnya didada Max.
“Kita sarapan,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut rambut gadis itu. Maureen hanya mengangguk.
“Bolehkah, aku keluar. Aku ingin ke tempat temanku. Aku bete kalau harus di rumah seharian,” Maureen mencoba berbicara dengan wajahnya yang pasrah.
Max melirikkan matanya agar Martin menunggunya di luar, “Lalu, apa imbalannya?” tangan Max sudah melingkar dipinggang gadis itu.
“Hah, sudah tidak jadi!” Maureen kesal sendiri dan menghempaskan tangan Max dari pinggangnya. Dia akan keluar kamar. Namun, tanganya ditarik kembali oleh Max.
“Pakai baju yang Martin bawa, sebelum semua yang kupesan datang!” Max tidak ingin ada lagi yang melihatnya mengenakan gaun tidur selain dirinya.
“Bagaimana kondisinya, Martin?” Max yang kini berhadapan dengan Martin meminta laporannya.
“Saya agak kesulitan untuk mengeluarkannya, Tuan. Sepertinya akses ibu nona Maureen disembunyikan oleh ibu dan kakak tirinya,” jelas Martin.
“Tapi, kau berhasil mengeluarkannya kan?” ucap Max penuh penekanan.
“Berhasil Tuan, saya juga sudah memindahkannya di tempat yang aman. Dan, saya pastikan tak akan tersentuh lagi oleh dua orang itu. Apa Tuan akan memberitahukan semua pada nona Maureen?” Martin menatap wajah tuannya.
“Tidak, aku akan menyimpannya. Kartu-ku tidak mungkin aku keluarkan semua,” ucap Max menghentikan obrolannya saat melihat Maureen keluar dan menyelempangkan tasnya.
“Sudah siap?” Maureen hanya menjawab dengan anggukan.
Max mengulurkan tangannya yang kemudian diraih oleh gadis itu. Martin hanya tertegun melihat perubahan tuannya. Dia bahkan memintanya menyentuh bukan sengaja tersentuh.
Dia berpikir phobia tuannya sudah hilang. Namun, sesaat kemudian dia mengingat kejadian sore saat mereka pulang kantor. Saat Shasa menyentuh kemejanya, Max bahkan langsung membuka dan membuangnya di jalanan.
Hmm, nona Maureen mengunakan matra apa hingga tuan bisa seperti itu. Aku jadi penasaran. Apa karena tuan yang pertama membobol gawangnya, ah, tidak juga. Sebelumnya pun tuan pernah menikmati gadis bersegel, tapi setelah itu dia membuang jauh-jauh semua pakaian yang dia pakai. Dia bahkan sampai mandi lima kali untuk
menghilangkan baunya.
“Martin!” teriak Max menggema. Martin kepergok melamun oleh tuannya. Dia pun segera berlari mengejar tuannya yang lebih dulu keluar.
"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" dengus Max. Dia tak pernah sekalipun menemukan kesalahan anak buahnya, apalagi Martin yang sudah lama mengikutinya.
"Tidak ada, Tuan. Maaf!" dia membungkuk sambil memegangi tengkuknya.