MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
ALAT PERTUKARAN



Maureen akan beranjak dari duduknya. Namun, kedua tangan Max menekan pundaknya hingga gadis itu duduk kembali.


"Apa aku sudah mengizinkanmu pergi?" Max memajukan wajahnya, berbisik di telinga gadis itu dengan eratan giginya yang terdengar dengan jelas.


Johan hanya bisa memindai putrinya. Dia masih membaca situasi.


Hmm, jika benar dia membayar anakku dengan harga tinggi, perusahaanku bisa terselamatkan. Dan, dengan posisi Tuan Maximus di kalangan bisnis sudah tak digunakan lagi.


Johan sedang memutar otaknya. Dibandingkan dengan keluarga Fernando yang digadang-gadang, posisi Max pasti jauh lebih tinggi.


Cih, beruntung sekali jika sampai anak sial itu berada disisi Tuan Max. Huh, kenapa tadi aku tidak pergi ke toilet. Jika aku yang pergi ke toilet posisinya sekarang adalah milikku.


Shasa mulai cemburu, dia pun mulai membandingkan Nick yang tidak ada apa-apanya di bandingkan Max.


"Bukankah perusahaanmu di ambang kehancuran? Bahkan gaji selama tiga bulan pun belum kau bayarkan!" Max memberikan penekanan kembali agar Johan tak menolak keinginannya. Jika Max menginginkan sesuatu apapun pasti akan dia dapatkan.


Kehancuran? Apa maksudnya? Apa perusahaan ibuku benar-benar di ambang kebangkrutan?


Maureen berpikir keras, selama ini dia tidak mengetahui apa-apa. Perusahaan itu adalah warisan dari keluarga Aditama. Kakek Maureen membangunnya dari kecil hingga dikenal dikalangan pebisnis.


Hari ini dia tahu, krisis didalam perusahaan. Semenjak posisi digantikan oleh ayahnya. Entah apa yang dilakukan ayahnya itu hingga membuat perusahaan itu menjadi seperti itu.


"Apa benar, Pah? Perusahaan ibuku ...," Maureen tidak melanjutkan perkataannya. Dia menatap ayahnya yang hanya tertunda saat mendengar ucapan dari Max.


Ck, ck, rupawan Tuan Max akan membayar cukup besar untuk adikku ini. Apakah aku...


Shasa berpikir keras tentang keinginannya yang belum terwujud. Ah, aku akan mencobanya.


"Apa Tuan juga bisa membantuku masuk dalam dunia hiburan? Aku ingin sekali menjadi model yang bisa go internasional!" Shasa tanpa ragu melakukan permintaannya. Dia pun tak ingin membuang kesempatan emasnya.


Wina menyengol lengan putrinya, "Ssst, apa yang kau lakukan? Mana mungkin dia akan mengabulkannya!" Wina berkata lirih. Namun, ucapannya terdengar dengan jelas di telinga Maureen. Membuat gadis itu mengepal kedua tangannya.


"Apa ada permintaan lainnya!" cetus Max. Dia melirik Martin agar menyiapkan sesuatu dengan alat pipihnya. Max bahkan tanpa ragu mengeluarkan banyak uangnya demi seorang Maureen.


"Aku ingin liburan keliling dunia, punya villa dan mobil mewah!" Wina tanpa tahu malu mengeluarkan keinginan hatinya.


Johan melayangkan pandangannya pada istri sekaligus anaknya. Dia sebenarnya ingin sekali agar keduanya bisa menahan diri. Namun, dia pun tak bisa menutupi kalau tawaran yang diberikan Max itu sungguh tidak bisa ditolaknya.


"Bagaimana Johan?" Max melipat kedua tangannya. Dia menantikan jawaban.


"I-itu ... sepertinya saya ...," dia salah tingkah sambil melihat kearah Maureen yang terlihat begitu kesal. Ingin rasanya Maureen memuntahkan semua kekesalannya.


Johan, ayahnya bahkan tanpa merasa malu ataupun kasihan padanya. Dia benar-benar menganggap putrinya sebagai alat pertukaran.


"Kau tidak perlu menghawatirkan apapun. Kau hanya perlu membubarkan tanda tanganmu saja!" kembali Max menekan kedua tangannya di pundak Maureen. Membuat gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat.