
"Aku setuju menikah denganmu," ucap Irene sangat lirih. Max hampir tak mendengar suaranya.
Gadis itu menutup wajahnya karena malu. Dia, terpaksa melakukan itu daripada Max marah lagi karena tahu dia berencana meminum obat kontrasepsi. Dia, hanya ingin mengalihkan perhatiannya.
"Apa kau bilang? Coba kau ulangi?" Max tak sabar ingin mendengarkannya lagi.
"Ah, ti-tidak jadi!" Irene melingkarkan tangannya di pinggang Max dengan erat. Gadis itu memeluknya dengan erat malu malu gorila kecil. Hahaha.
Martin dan Lola hanya bisa menatap dua orang yang sedang melakukan pertunjukan drama cinta. Membuat mereka saling menatap dan menunduk malu-malu.
Astaga, Irene bagaimana dia melakukan hal se-agresif itu? Apa dia masih temanku?
Akhirnya tuan Max luluh. Benar-benar hanya nona Maureen yang bisa meluluhkan hatinya.
"Jangan coba merayuku? Kau, masih belum menjawab pertanyaanku tadi!" ucap Max penuh penekanan.
Dia tak ingin terbuai oleh kata-kata manis gorila kecilnya walaupun hatinya benar-benar ingin melompat saking senangnya.
"Ah, sudahlah. Kalau kau tidak mendengar. Aku anggap, kau tidak mau!" cetusnya. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Max.
"Berani kau lepaskan. Jangan harap kau bisa tidur tenang nanti malam," ancamnya. Gadis itu tak jadi melepaskan, malah kembali memeluknya.
"Katakan lagi, aku mau mendengarnya!" Max bersuara lembut di telinga gorila kecil. Gadis itu menggeleng kecil di dadanya.
"Gorila!" Kembali Max memanggilnya penuh penekanan.
"Tidak mau, tidak mau, aku malu. Jangan suruh lagi!" Kini Maureen merajuk manja. Dia benar-benar malu dan tak mengira ucapan pengalihannya di anggap serius oleh Max.
Haduh, Irene. Bodoh sekali, sudah tahu dia menginginkan hal itu malah kau memancing di air keruh.
"Max, aku boleh main dengan Lola, ya. Biarkan aku keluar dengannya. Aku janji tidak akan macam-macam. Kau juga boleh meminta para pengawalmu, aku tidak akan menolak atau protes!" Irene sudah memutuskan untuk menerima semua perhatian dan kekangan dari kingkong jeleknya.
"Hah! Kau sungguh-sungguh membuatku sakit kepala atas dan bawah!" Max membuang nafasnya. Dia, gemas sendiri dan mengigit telinga gorila kecilnya.
"Aw!"
"Jangan macam-macam dan aku tidak akan membiarkan kau jauh-jauh dari pengawasan orang-orang suruhanku!"
Gadis itu mengangguk cepat dan tersenyum. Yes! Berhasil. Akhirnya, dia tak membahas soal isi dalam tasku. Maureen memeluknya dengan erat. Misinya berhasil.
"Bakar tasnya, Martin!" ucapnya kemudian. Max tak melupakan tujuan utamanya. Oow, ternyata dia ingat.
"Apa aku sudah boleh pergi?" dia meminta izin kembali.
"Berapa lama kau akan pergi?" dia menarik wajah gadisnya.
"Aku tidak tahu, bolehkah bermain hingga puas?" Maureen berkata sambil mengigit bibirnya.
"Boleh, tapi nanti malam kau jangan melupakan aku, oke?"
Matanya memancarkan sinar yang paling terang, "Sungguh, terima kasih banyak, Max," Max mendelikkan matanya.
"Ah, ma-ma-ksudku, sa-yang." Wajahnya merah padam kembali.
"Bertho, tolong siapkan apa yang aku minta tadi!" ucap Irene. Bertho yang hanya menjadi penonton dihadapan mereka sejak tadi.
Bertho tak bergeming, ingin sekali melirik tuannya, tapi dahi dan tubuhnya masih penuh dengan keringat juga bergetar.
"Ba-baik, Tuan, Nyonya, saya akan segera buatkan!" Bertho mengambil langkah seribu tak mau berlama-lama dihadapan tuannya.
Max membalikan wajahnya dan menatap Maureen yang lagi-lagi ke pergok seperti udang rebus.
"Kau tidak keberatan kan kalau aku memanggilmu, seperti tadi?" Gadis itu mengangguk cepat dan malu.
Cuppp! Satu kecupan mendarat di pipinya. Membuat Max pun ikut salah tingkah.
"Ingat, jangan nakal dan telpon aku saju jam sekali. Dan ini uang jajan kalian!" Max tanpa ragu memberikan dua kartu hitamnya pada gorila kecilnya. Dia, mencubit pipi chubby sebelum pergi.
"Argghhh! Terima kasih, Max!"
Benar-benar laki-laki idaman, tanpa diminta pun dia berikan.
"Limit 5 milyar, kalau kurang, telpon aku. Bersenang-senang-lah!"
Max melepaskan pelukannya dan pergi dengan perasaan yang tak bisa dia jelaskan. Senang, bahagianya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Dia berbalik dan tersenyum sumringah saat meninggalkan gorila kecilnya.
"Lola!" pekik Maureen menghampiri temannya yang melongo seperti sapi ompong.
Maureen menggoyangkan tubuh Lola, "La, La!"
"Cubit aku, Ren!" tanpa ragu dia mencubit keras dan membuatnya memekik sambil menutupi mulutnya.
"Ini kartumu. Kita bisa berbelanja sepuasnya!" Irene menunjukkan sederet gigi kudanya.
"Irene, arghhh. Kok bisa sih? Li-lima milyar? Apa dia sedang tidak bercanda? Ini uang Ren, bukan kerupuk!" dia meringgis tapi, tidak menangis.
"Hahaha, aku juga tidak tahu, La. Pokoknya sekarang saatnya mengambutkan uang!" Cetus Irene penuh semangat.
"Lalu, kalau kita mau berbelanja untuk apa kau minta bungkus makanan?" Lola heran dengan perbuatan temannya.
"Untuk, bu Tari dan teman-teman yang lain, La. Kapan lagi aku bisa keluar dengan bebas dan memberikan mereka hidangan yang terbaik!" ucapnya penuh haru. Gadis itu tak pernah melupakan teman-teman pemulungnya.
"Kau yakin? Dia tidak akan marah?" Lola takut jika nanti temannya akan menanggung hal yang sama seperti kepala koki tadi.
"Ya ampun, teman aku benar-benar baik. Kau ini seperti malaikat, padahal kau masih sedih memikirkan keberadaan mama-mu."
Lola tiba-tiba memeluk haru sahabatnya. Dan air matanya mengalir begitu saja di pipi.
"Ssstttt, sudah dong jangan nangis. Jangan rusak suasana bahagia kita. Aku hanya bisa berdo'a di setiap usaha yang sedang kulakukan. Apapun itu, entah dimata orang baik atau tidak. Aku hanya ingin melakukan yang menurutku baik, La!" Mereka saling berpelukan dan memberikan semangat.
"Iya. Aku benar-benar bersyukur, Ren. Di balik semua musibah yang kau alami. Setidaknya sekarang kau punya tempat berlindung yang kuat. Kau bisa membalas semua orang yang sudah menyakiti secara perlahan!" Irene hanya mengangguk pelan. Bersyukur dan berterima kasih dari setiap cobaan yang diberikan Tuhan.
Setidaknya kali ini apa yang dikatakan Lola memang terbukti. Dia, sudah mempunyai orang yang bisa menopang dan melindunginya. Walaupun sikapnya bisa dibilang arogan dan sulit di tebak. Untuknya, laki-laki itu memberikan perlakuan spesial.
"Suruh orang-orangmu mengirimkan setiap gerak gerik gorila kecilku, Martin!" ucap Max berkata penuh penekanan saat dia masuk ke mobilnya.
"Sudah, Tuan. Saya sudah menyuruh mereka!" Martin yang faham dengan kemauan tuannya.
Aku harap kau tak menyalah gunakan kepercayaanku, sayang.