
Maureen lagi-lagi tak menjawab. Dia sudah benar-benar pasrah. Apapun yang akan diperbuat padanya, dia hanya bisa menerimanya. Mungkin, jika dia sudah dalam keadaan yang benar-benar hancur keluarganya tak akan
mengincarnya lagi.
Johan mendelikkan matanya, dia benar-benar baru menyadari kehadiran Max. Dan, wajahnya baru saja dia mengingatnya. Begitu pun dengan keluarga Prakoso.
Bukankah dia, Maximus Mollary? Bagaimana gadis itu bisa mengenalnya. Pikir Johan sambil menatap putri tirinya yang masih saja belum bersuara.
Shasa pun hampir tak mempercayainya, apalagi perkataan barusan meluncur mulus dari mulut Max sendiri.
“Ada apa? Apa kalian masih tidak mempercayai ucapanku?” dengus Max menatap mereka semua satu persatu.
“Ti-tidak Tuan, mana mungkin kami tidak mempercayai ucapanmu, hanya saja ...,” Prakoso dengan tubuhnya yang bergetar saat melihat tatapan suram dari Max. Dia, mengalihkan pandangannya pada Maureen.
“Kau masih saja tidak bicara, hah!” Max mencengkram lebih erat tangannya di lengan gadis itu membuat Maureen meringis.
“Sa-sakit!” pekiknya. Maureen melayangkan tatapannya pada Max. Laki-laki itu masih menatap gadis itu dengan garang.
“A-aku, me-memang bersama dengannya, Pah!” cetus Maureen. Bibirnya masih bergetar. Dia, sebenarnya tak ingin menambah masalah. Kalau dia mengakuinya, ayah tirinya pasti akan membuat rencana lain untuknya.
“Kalian dengar sendiri bukan!” tambah Max. Dia, membuat penegasan yang tak mungkin untuk gadis itu mundur atau menghindarinya.
“Ja-jadi, apa be-benar kau yang melakukan itu dengan anakku?” Prakosa berkata, dia ingin benar-benar mendapatkan jawaban yang pasti.
“Masih beruntung aku tidak menghabisi anakmu!” jawab Max arrogan. Wajahnya penuh dengan kobaran
kemarahan.
Prakoso tersentak. Dia benar-benar belum memahami bagaimana anaknya bisa menyinggung orang besar seperti Max. Bahkan jika dia ingin bertemu di kesempatan biasapun adalah hal langka. Bagaimana bisa putra pertama dari
keluarga Prakoso berurusan dengan orang yang memiliki milyaran aset yang tak terhitung.
Brukk!
“Ma-maafkan kelancangan putra saya, Tuan. Saya, bersalah dan tak bisa mengajarinya dengan baik!” Prakoso berlutut. Dia bahkan membuang semua harga dirinya. Mana berani dia bertanya alasana seorang Max bersingungan dengan anaknya. Bagi keluarga Prakoso sudah tak mengusik seoarng Max adalah keajaiban
dan anugerah.
“Kau tahu kenapa kau mematahkan kaki dan tangan anak brengsekmu itu, hah!” delik Max masih dengan tatapannya yang penuh emosi.
“Setelah ini ajari anakmu baik-baik dan jangan biarkan anakmu menyentuh apapun barang milikku!” tegas Max. Kata-kata bagi keluarga Prakoso yang tak di mengerti. Namun, sudah mendapat pengampunan seperti itu
adalah merupakan anugerah yang tak bisa dilewatkan begitu saja.
“Ba-baik, Tuan. Saya mengerti!” jawab Prakoso.
“Pergilah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku. Selama keluargamu mematuhinya, aku jamin tidak akan ada berubah!”
Max sudah memberikan perintah yang hanya bisa dilaksanakan tanpa adanya pertanyaan. Keluarga Prakoso pun membawa istri dan anaknya keluar dari ruang pertemuan itu. Tanpa berani membahas apapun lagi dihadapan Max.
Maureen sempat terkejut. Dia, bahkan masih belum mengerti kenapa keluarga Prakoso sangat ketakutan dengan laki-laki yang masih mencengkram tangannya itu.
Shasa hanya bisa memperhatikan. Dia seolah sedang mencari celah untuk bisa masuk dalam pergulatan itu.
“Sepertinya, kami pun pamit undur diri, Tuan!” kini Fernando memberikan suaranya. Dia tahu kehadiran keluarganya sudah tak diperlukan. Mereka pun tak ingin terlampau jauh ikut campur dalam keluarga Aditama.
Martin hanya memberikan akses keluar untuk keluarga Fernando. Maureen sempat saling menatap saat Nick melewatinya. Hati gadis itu benar-benar sakit. Dia begitu saja membiarkan orang yang dicintainya pergi.
Max menyadarinya dan menarik Maureen untuk duduk di kursi yang sempat dia dudukinya tadi. Kini tatapan Max beralih pada Johan ayah tiri Maureen.
“Jadi, berapa harganya? Agar aku bisa membelinya?” cetus Max. Degh! Dia, mengucapkan kata-kata yang membuat jantung Maureen tertusuk.
Maureen melayangkan pandangannya saat mendengar ucapan dari Max. Dia menatap laki-laki itu dengan geram, “Kenapa? Apa aku salah berbicara? Kau itu hanya barang, dan aku bisa membeli atau pun menjualmu!” dengusnya.
Senyuman smirk muncul di wajah Shasa. Hohoho, aku pikir Tuan Max melindunginya tadi karena menyukai adik tiriku, ternyata dia tak lebih hanya sebagai salah satu koleksi Tuan Max.
“Ma-maaf Tuan, tapi putriku itu bukan benda. Kami menyayanginya dan tak mungkin menjual seorang anak!” cetus Johan. Dia bertindak seperti ayah yang sangat mengasihi anaknya.
Maureen hanya bisa menatap ayahnya. Benar-benar seperti sedang melakukan sebuah pertunjukan drama. Ingin sekali dia bertepuk tangan dengan keras, mengakui kemampuan akting seluruh keluarga yang sangat rapi.
“Lalu, apa tadi? Bukankah pertemuan barusan untuk menentukan harga pasaran yang tepat!” ucap Max membuat mereka semua tertohok.
***
bersambung