
“Martin akan mengantarkanmu ke hotel. Pergilah. Aku sedang banyak pekerjaaan!” Max berkata penuh penekanan tanpa menatap wajahnya.
“Ah, Kak Max. Aku tidak mau ke hotel. Kau kan tahu sejak kepergian kak Shareen, aku terus saja sendirian. Hanya kau saja tempatku bernaung sekarang,” Karina berkata dengan lirih seolah sangat menderita dengan kepergian seseorang.
Max membalikkan tubuhnya. Menatap Karina yang tiba-tiba terisak. Dia, mengusap air matanya yang sudah mengalir di pipi.
“Maafkan aku, Kak Max, bukan aku ingin menyinggung soal kepergian kak Shareen. Tapi, aku pun masih belum bisa melupakan kakakku yang malang itu. Dia, pergi begitu saja dengan cepat, hiks, hiks ...” Karina kembali tersedu. Kini air matanya bertambah tumpah ruah.
Lihat saja, kalau kau tak mau menatapku. Akan aku gunakan segala cara agar kau menatapku. Aku tidak perduli walaupun harus mengungkit kakakku yang telah pergi itu.
Tubuh Max bergetar. Dia, bukan kasihan atau tergerak oleh kata-kata yang keluar dari mulut Karina. Tapi, disudut hatinya sekarang nama itu sudah hampir saja dia lupakan. Nama yang membuatnya terluka dan menjadikannya manusia arogan tanpa perasaan.
“Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Aku tidak ingin merusak hariku dengan kedatanganmu. Jika kau tak menerima tawaranku tadi. Kau carilah tempat tinggalmu sementara atau mungkin kau kembali saja pada keluagamu itu.” Max berkata dengan sangat angkuh. Membuat gadis itu menarik wajahnya dan menatap Max tanpa berkedip.
Apa ini? Dia, benar-benar sudah melupakan kakakku? Kenapa sikapnya bertambah dingin?
Karina hampir saja tak percaya dengan penglihatannya. Dia, berpikir kedatangan akan disambut berbeda. Apalagi, dia sudah dengan rela hati mundur perlahan diwaktu tiga tahunnya ini.
Namun, jika dia terus memaksakan. Sesuai dengan sikap Max, gadis itu pasti tidak akan memiliki kesempatan apapun untuk bertemu dengannya lagi. Jadi, sebisa mungkin dia mengamankan langkah tarik ulur pada laki-laki itu.
"Baiklah, aku akan ke hotel sekarang untuk istirahat. Tapi, nanti malam aku bolehkan meminta Martin untuk menjemputku lagi kan? Aku benar-benar kangen suasana tempat kakak."
Gadis itu menunjukan wajah penuh harap yang tak mungkin Max bisa menolaknya.
"Antar dia, Martin!" jawaban yang diberikan Max tanpa menghiraukan keinginannya.
Sementara di luar ruangan. Irene baru saja kembali di kawal dengan dua orang suruhan Max.
Clara menatapnya. Seketika otaknya berpikir dan mengingat pesan tuannya.
Ah, ternyata ini maksudnya tuan. Gorila kecilnya. Dia, ramah dan manis sekali.
Clara membalas dengan senyuman,"Selamat pagi, Nona Gori--" dia menunjuk Irene, lalu membekap mulutnya.
"Irene, namaku, Irene," ucapnya. Dia sedikit meringis saat mendengar ucapan Clara yang tak dilanjutkan.
Huh, dasar kingkong jelek. Bisa-bisa dia mengatakan aku gorila pada bawahannya.
Gadis itu segera melangkah, "Aku akan mas--," Clara menghentikan langkahnya dengan memegang lengan Irene.
"Ma-maaf, Nona Irene, tuan Max sedang ada tamu. Kita sebaiknya ke ruangan sebelah!"
Tepat Clara pintu ruangan Max terbuka. Seorang wanita dengan tubuh semampai. Berambut hitam lurus sebahu dan dua tonjolan yang besar mengapitnya karena mengenakan pakaian super ketat.
Wanita itu keluar dengan Martin yang membawa kopernya. Irene dan dia saling menatap. Keduanya terkejut dan berkata dalam hati.
Siapa dia?
Karina menatapnya sinis dari ujung kaki hingga rambut. Dia, menaikan rahangnya dengan keras. Apalagi, dia melihat dua orang dibelakangnya yang terus mengekori Irene.