MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
TIDAK SUKA BERHUTANG



"Kau sudah selesai rapatnya?" Maureen mengembangkan senyum dan melingkarkan kedua tangannya dipinggir Max.


"Uhm, ada apa? Kau merayuku seperti ini pasti sedang menginginkan sesuatu!" tebak Max. Walaupun dia baru sekali mengenal gadis itu. Dari sifatnya yang sering menolaknya kalau tidak menginginkan sesuatu.


"Tidaak, hanya saja," ragu dia menatap laki-laki itu.


"Ah, aku lupa, jatahmu ya!" Max merogoh sakunya akan memberikan lagi satu kartu hitam miliknya.


"Ti-tidak usah. Terima kasih. Aku masih belum membutuhkannya!" cetusnya membuat dahi Max berkerut.


Di mana-mana wanita pasti akan cinta dengan uang. Akan melakukan apapun demi untuk. Tapi, Max tahu semua yang dilalui gadis itu dirumahnya bukan hal yang mudah.


"Aku tidak suka berhutang. Apalagi, aku tadi sudah menikmati tubuhmu. Dan, sebentar lagi aku pun menginginkannya lagi," kata Max tetap menaruh kartu hitamnya di tangan Maureen.


"Kali ini limit aku tambah dua kali lipat jadi tiga milyar. Jangan sungkan untuk menghabiskan, kalau kurang kau bisa langsung memintaku lagi. Dengan catatan tentu saja kau memserviceku sampai puas seperti biasa!" ucap Max.


Membuat mata Maureen sedikit bergetar. Totalnya dia sudah memiliki enam milyar. Gadis itu sempat berpikir ingin mengeluarkan ibunya dari rumah sakit sekarang.


Dia ingin memberikan perawatan yang lebih baik. Namun, perkara itu pasti tak mudah. Karena segala aksesnya sudah diblokir oleh Shasa.


"Apa aku bisa minta tolong padamu, Max!" Maureen mberanikan dirinya untuk berbicara.


"Katakan? Apa yang kau inginkan? Tas, berlian, mobil, rumah atau apa?" Max terlihat antusias. Gadis itu tak pernah meminta apapun padanya.


Gadis itu menggeleng kepalanya saat menimpali ucapannya.


"Lalu? Asalkan kau jangan meminta aku untuk mencintaimu. Lainnya aku bisa berikan!" Max berkata dengan sangat mantap. Dia menyakini getaran dan debaran yang dia rasakan hanya angin lalu.


Cih, apa maksud ucapannya itu. Apa aku tidak cukup pantas untuknya?


Sewot Max dihati saat mendengar ucapan gadis itu. Sebenarnya dia tak menginginkan gadis itu langsung menjawabnya. Dia seperti mendapatkan satu tamparan di wajahnya.


"Jadi, apa mau-mu sebenarnya? Hah?" sedikit ngotot Max berkata.


Awas saja kalau kau menginginkan kebebasan dariku. Aku tidak akan membebaskanmu. Aku akan pastikan kau terus mengekor di setiap langkahku.


"Bantu aku keluarkan ibuku dari rumah sakit yang sekarang dan aku minta pindahkan dia di rumah sakit yang tak bisa ditemukan. Terutama ayah, ibu dan kakak tiriku!" Maureen ingin menjamin keselamatan ibunya terlebih dahulu.


Dia, tak ingin ibunya selalu menjadi alasan untuk ayah, ibu dan kakaknya mengancam.


"Hanya itu?" Max terdengar tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Untuk biayanya, ini ...," Maureen merogoh tasnya mengeluh tiga kartu hitam yang lebih dulu Max berikan ditambah dengan kartu yang baru saja dia dapatkan.


"Jika biayanya masih kurang, bersabarlah. Aku pasti akan melunasi, walaupun seumur hidup aku menjadi jasa penghangatmu!" ucapnya terdengar getir di hati Max.


Dia bahkan tak menyangka gadis itu memberikan kembali untuk yang diterimanya. Bahkan Max sendiri mendapatkan lebih, karena dia yang sudah merenggut mahkota gadis itu.


Max merengkuh tubuhnya dalam pelukan. Mengusap rambut dan menciumnya.


Aku akan balas semua orang yang telah membuatmu seperti ini. Aku tidak akan membiarkan mereka semua hidup dengan tenang.